Hari Pentakosta

pentakosta
Kisah Para Rasul 2:1-18

Hari Pentakosta sesungguhnya adalah hari yang penting bagi gereja. Dalam tradisi Kristen ada hari-hari yang diperingati dan bahkan dirayakan dengan meriah. Hari Natal ada di posisi teratas. Seluruh dunia merayakannya dengan meriah dan gemerlap. Kemudian ada Jumat Agung dan Paskah, yang dirayakan dengan perjamuan suci dan ibadah penuh kontemplasi.

Di Indonesia Hari Kenaikan Yesus (Ascencion’s day) juga ditandai sebagai “tanggal merah” dan diperingati dengan sebuah ibadah. Akan tetapi, hari Pentakosta biasanya hanya ditandai dalam kalender liturgi gereja, dan peringatannya tidak terlalu bergema.

Menurut pendapat saya, hal ini harus direnungkan lagi. Jika kita merenungkan iman Kristen dengan sungguh-sungguh maka urutan prioritas perayaan hari-hari penting dalam kekristenan harusnya berubah. Jumat Agung, Paskah, dan Pentakosta justru harus menjadi hari-hari yang paling diperingati dan dirayakan. Mengapa demikian? Tanpa Jumat Agung dan Paskah tidak akan ada kekristenan. Tanpa Pentakosta, tidak akan ada Gereja.

Hari Kelahiran Gereja

Pentakosta adalah hari kelahiran Gereja di muka bumi. Kata Pentakosta berasal dari bahasa Yunani “pentekostos” yang artinya hari ke-50. Bahasa Ibraninya adalah “shavuot”. Perayaan shavuot adalah adalah satu dari tiga perayaan penting dalam Hukum Taurat. Itu adalah hari setelah Perayaan Tujuh Minggu (49 hari), dan peringatan turunnya Hukum Taurat kepada Musa di Gunung Sinai. Shavuot juga adalah perayaan penuaian. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi biasanya berkumpul di Yerusalem pada hari itu, seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2 ini.

Yesus telah mati, bangkit, dan naik ke surga. Bagi murid-murid Yesus, mereka mengalami masa 1,5 bulan yang penuh drama. Yesus menyuruh mereka untuk tinggal di Yerusalem dan menunggu kedatangan “sang penolong”, yang akan menyertai mereka selama-lamanya. Dan di hari Pentakostalah, sang penolong itu datang. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kis 2:4).

Sebelum peristiwa pencurahan Roh Kudus di Yerusalem itu, belum ada suatu gerakan di antara para pengikut Yesus yang dapat diidentifikasi sebagai “gereja”. Pencurahan Roh Kudus, yang dijanjikan Yesus kepada para pengikutnya sebelum Dia naik ke surga, adalah tonggak awal dimulainya karya gereja di muka bumi.

Bagi para pengikut Yesus, kehadiran Roh Kudus adalah peristiwa yang mengubahkan hidup mereka. Kesedihan mereka karena ditinggalkan Yesus berganti dengan keberanian untuk memberitakan Kristus. Ketidakberdayaan mereka berganti dengan kekuatan, yaitu tanda-tanda ajaib dan mujizat-mujizat terjadi oleh kuasa Roh Kudus. Ketidakpastian yang sempat melanda mereka karena kepergian Yesus, berganti dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan akan firman Yesus yang telah mereka terima.

Arti Pentakosta Hari Ini

Lalu apa arti penting Pentakosta bagi kita hari ini? Pentakosta melahirkan gereja Tuhan, dan hal yang penting bagi kita untuk melihat adalah empat karakteristik dari gereja Tuhan yang dimulai di hari Pentakosta lebih dari dua ribu tahun yang lalu.

Yang pertama, gereja Tuhan adalah gereja yang gereja yang penuh dengan hadirat dan kuasa Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus terasa dengan kuat, bukan hanya melalui mujizat dan tanda ajaib, tetapi juga melalui kasih-Nya. Setiap orang yang dapat merasakan damai sejahtera dan sukacita yang hadir bersama dengan kehadiran Roh Kudus. Selain itu, gereja Tuhan juga adalah gereja yang mengandalkan kuasa Roh Kudus, bukan kuasa manusia. Oleh karena itu, tidak ada karya yang tidak bsia dikerjakan oleh gereja, karena gereja mengerjakannya bukan dengan kekuatan manusia, tetapi dengan kuasa Roh Kudus.

Ciri yang kedua dari gereja Tuhan yang dimulai di hari Pentakosta adalah kesatuan gereja. Orang-orang percaya bersatu dan mengerjakan karya yang diwariskan Kristus kepada mereka, yaitu memberitakan Injil. Tidak ada satu orang yang dominan sendirian, tetapi ada persatuan dan kerja sama yang sempurna. Di Kisah Para Rasul 2:41-47, kita bisa membaca bagaimana gaya hidup gereja Tuhan di masa itu.

Keberagaman adalah Kekayaan

Ciri berikutnya adalah keberagaman yang menjadi kekayaan dan juga misi dari gereja Tuhan. Roh Kudus yang dicurahkan membuat para pengikut Yesus dapat berbicara dengan bahasa-bahasa asing. Para pengikut Yesus awalnya adalah orang-orang Yahudi dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ketika Gereja dimulai, Roh Kudus memperluas jangkauannya kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, karena tujuan Allah memang adalah agar Injil tersebar sampai ke ujung bumi. Hari ini, kita bisa melihat bahwa gereja Tuhan telah tersebar ke seluruh bumi, dengan keberagaman yang luar biasa. Keberagaman adalah kekayaan gereja.

Yang terakhir, ciri gereja yang dimulai di hari Pentakosta adalah pelayanan gereja  bersifat inklusif. Itu artinya gereja tidak membeda-bedakan siapa yang dilayaninya. Gereja terbuka bagi semua orang dan siap melayani siapa pun yang datang. Ke manapun Tuhan memimpin, pengikut Yesus siap untuk pergi. Gereja tidak membedakan orang menurut ras, etnis, ataupun strata sosialnya. Gereja adalah tempat di manapun siapapun yang hendak mencari Tuhan, dapat datang.

Sambut Panggilan Yesus

Bagaimana kita bisa menjadi gereja yang demikian? Kita tidak bisa menjadi gereja yang demikian jika kita tidak menyambut Yesus dan menerima panggilan untuk menjadi murid-Nya. Hanya murid Yesus, yang menghidupi ajaran dan teladan Yesus yang dapat melakukannya.

Roh Kudus adalah roh Kristus, yang menuntun murid-murid untuk hidup sesuai ajaran dan teladan Kristus. Ajaran Kristus adalah perintah untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kristus memberi teladan dengan menghidupi ajaran itu, taat sampai mati di kayu salib.

Gereja yang lahir di hari Pentakosta bukan “gereja pentakosta” dalam arti sebuah aliran gereja tertentu. Gereja yang lahir di hari Pentakosta, adalah gereja Kristus, yaitu gereja yang menghidupi ajaran dan teladan Kristus. Itu berarti Gereja Kristus adalah gereja yang taat pada tuntunan Roh Kudus, roh Kristus.

Dalam ketaatan yang demikian, Gereja Kristus akan berlimpah dalam karunia-karunia Roh Kudus. Karunia-karunia itu menjadi berkat bagi jiwa-jiwa yang terhilang di dunia. Bukan hanya itu, Gereja Kristus juga akan menghasilkan buah Roh Kudus, yang akan memberi hidup kepada setiap orang yang membutuhkannya.

Mari renungkan hari ini, apakah kita sudah menjadi gereja seperti yang Roh Kudus mulai di hari Pentakosta? Saya menutup dengan tiga pertanyaan ini, untuk menjadi bahan refleksi kita semua. Apakah kita sudah:

  • mengandalkan kuasa Roh Kudus dan taat pada tuntunannya?
  • menjadi saluran karunia Roh Kudus bagi gereja dan dunia?
  • ada buah-buah Roh Kudus yang bertumbuh dalam kehidupan kita?

Selamat hari Pentakosta! Saksikan ibadahnya di sini.

Ibadah Pentakosta 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *