Hidup Sebagai Murid

Bonhoeffer

Matius 10:24-39

Hidup sebagai murid adalah hidup sebagai seorang yang belajar. Di zaman Yesus, biasanya orang-orang yang ingin belajar akan pergi kepada guru dan memohon agar diterima belajar kepadanya.

Jika ingin belajar bela diri, orang akan pergi kepada guru bela diri. Jika ingin belajar kerohanian, maka orang akan pergi kepada seorang guru rohani. Ketika Yohanes Pembaptis muncul, banyak orang yang datang kepadanya untuk berguru kepadanya. Ketika Yesus muncul, Injil mencatat bahkan ada ahli Taurat yang datang untuk meminta izin agar dapat berguru kepada Yesus (Matius 8:19).

Identitas seorang murid ditentukan oleh siapa gurunya. Di saat seseorang menyerahkan diri untuk menjadi murid dari seorang guru, dia melepaskan identitas pribadinya, dan menerima identitas baru dari sang guru. Oleh karena itu, si ahli taurat yang datang kepada Yesus mundur ketika Yesus berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat 8:20).

Ada yang mundur dan tidak bisa hidup sebagai murid Yesus, karena tidak bisa meninggalkan keluarga. Ada juga yang mundur karena terlalu banyak hartanya (Mat 19:22).

Seorang guru yang baik akan memberikan bukan hanya ilmunya tetapi juga hidupnya kepada sang murid. Sang murid akan disebut berhasil jika dia sudah menyerupai gurunya. Yesus mengatakan: “Seorang Murid Tidak Lebih Dari Gurunya.” Itu artinya, puncak keberhasilan seorang murid adalah menyerupai sang guru.

Yesus adalah guru yang baik, dan Dia memberikan segalanya kepada murid-muridNya. Murid-murid menghidupi apa yang didapat dari gurunya. Murid-murid Yesus menghidupi ajaran dan teladan yang mereka terima dari Yesus.

Yesus mengatakan bahwa murid-murid akan menerima kesukaran sama seperti yang Dia terima. Dunia yang jahat yang membenci Yesus, akan membenci juga murid-murid Yesus. Gaya hidup Yesus ditiru oleh murid-murid, karena itu wajar jika mereka yang membenci gaya hidup Yesus itu, membenci juga murid-murid Yesus.

Tidak Perlu Takut

Yesus mengatakan bahwa murid-murid-Nya tidak perlu takut terhadap semua kesukaran yang mendatangi mereka. Mengapa tidak takut? Karena Yesus telah memberikan semua yang mereka perlukan untuk menghadapi semua kesukaran itu. Bukan hanya itu, Yesus juga menjamin bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka, dan akan menjaga mereka dengan teliti, sampai rambut di kepala merekapun telah terhitung semuanya.

Murid setia kepada gurunya. Murid-murid Yesus adalah orang-orang yang istimewa, karena dipanggil Yesus keluar dari kegelapan untuk hidup di dalam terang yang ditunjukkan-Nya. Oleh karena itu, Yesus ingin agar murid-murid setia pada identitas baru yang telah diberikan itu. Murid Yesus harus setia pada panggilannya, apapun taruhannya.

Pertanyaan untuk mengganggu Anda hari ini adalah, apakah Anda sudah menjadi murid Yesus? Apakah Anda sudah melepaskan identitas lama Anda dan menerima identitas baru yang diberikan Yesus?

Jika belum, dengarlah panggilan Yesus dan datanglah. Jika sudah, jangan takut, tetaplah belajar dan berkarya dalam panggilan Yesus itu, karena Yesus tidak pernah meninggalkan murid-murid-Nya. Kata kunci dalam mengikut Yesus adalah percaya.

Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman di zaman Perang Dunia II mengatakan: “When Christ calls a man, He bids him come and die.” Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia memintanya untuk datang dan mati. Menjadi murid Yesus berarti mati terhadap kehidupan lama, mati terhadap ego dan gengsi, dan hidup baru dalam panggilan untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Haleluya!

Video ibadah dapat dilihat di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *