Kebenaran Sendiri vs Anugerah / Kasih Karunia

SELF-RIGHTEOUSNESS-VS-GRACE

Matius 11:16-20; 25-30

Yesus dalam firman ini berbicara mengenai kebenaran sendiri vs anugerah / kasih karunia. Yesus memakai lagu anak-anak di masa itu untuk menceritakan tentang sikap hati para pemimpin agama ketika itu. Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. (Mat 11:17 ITB).

Para pemimpin agama menolak pelayanan Yohanes Pembaptis karena dia hidup dengan cara yang aneh. Tinggal di padang gurun, memakai baju dari bulu unta dan hanya makan madu hutan. Yohanes Pembaptis menolak kesenangan dunia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Para pemimpin agama menyebut dia kerasukan setan.

Pelayanan Yesus lebih “gaul” daripada Yohanes Pembaptis. Yesus berbaur dengan masyarakat. Dia tidak menolak ketika diundang untuk makan dan minum. Dia bahkan duduk makan bersama siapa saja, termasuk para pemungut cukai yang dicap sebagai orang berdosa. Yesus yang demikian pun ditolak oleh para pemimpin agama. Mereka menyebut Yesus pelahap dan pemabuk.

Self-Righteous

Sikap para pemimpin agama ini adalah sikap merasa paling benar sendiri atau self-righteous. Jika berada terlalu lama dan terlalu nyaman pada suatu posisi kewenangan/otoritas orang bisa tergoda, sadar ataupun tidak, untuk merasa dirinya yang paling benar. Di zaman Yesus para ahli Taurat, orang Farisi, dan pemuka agama menikmati keistimewaan/privilege sebagai alim ulama. Alim ulama dipandang dengan hormat oleh masyarakat, dan bahkan juga disegani oleh penjajah Romawi. Posisi yang nyaman ini rupanya kemudian membuat mereka menjadi terbuai.

Para ahli taurat sebenarnya tahu bahwa Yohanes Pembaptis dan Yesus bukan membawa ajaran yang menyesatkan. Mereka tahu dan beberapa kali di dalam Injil dicatat bahwa mereka mengamini pengajaran Yesus. Akan tetapi, persoalannya adalah baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis, bukan berasal dari golongan mereka.

Yohanes Pembaptis memang adalah anak seorang Imam, namun dia menolak bergaul dengan mereka dan memilih hidup di padang gurun. Sedangkan Yesus adalah kerabat Yohanes Pembaptis, yang menurut kabar yang mereka dengar adalah seorang anak yang dikandung sebelum ibunya menikah dengan ayahnya. Ayahnya adalah seorang tukang kayu, dan Yesus pun adalah seorang tukang kayu.

Karena bukan berasal dari kelompok mereka, tidak memakai cara atau pakem mereka, sebagus apapun ajarannya, tidak mungkin itu ajaran yang benar, dan tidak mungkin itu lebih baik daripada mereka.  Itulah dalil standar mereka yang memiliki kebenaran sendiri (self righteous). Sedihnya, orang-orang seperti ini bukan hanya ada di zaman Yesus, tetapi di masa sekarang pun masih ada banyak orang yang seperti itu di kalangan para pemimpin gereja.

Racun yang berbahaya

Bersikap self-righteous adalah  pilihan pribadi. Saya tidak akan menghakimi siapapun yang bersikap seperti itu. Setiap hari saya pun memeriksa diri saya, apakah ada benih self-righteousness di hati saya. Jika ada saya berdoa kepada Roh Kudus untuk menyingkirkannya.

Saya melakukan itu karena self-righteousness sesungguhnya adalah racun yang berbahaya. Banyak berkat dari Tuhan yang tidak akan bisa kita terima jika kita bersikap self-righteous.

Seorang yang self-righteous tidak mau belajar hal yang baru. Karena merasa paling benar dan paling tahu, berkat-berkat yang Tuhan mau curahkan melalui hal-hal yang baru, tidak mau diterimanya. Bukan hanya tidak mau belajar, seorang self-righteous juga tidak mau berubah. Seorang yang self-righteous sudah begitu nyaman dengan tradisinya, doktrinnya, liturginya, sehingga tidak bisa membuka diri terhadap hal yang baru. Ini tentu menyedihkan, karena barangsiapa yang tidak mau berubah pasti akan ditelan oleh zaman.

Itulah yang dialami oleh Yesus dengan para pemimpin agama di masanya. Apa yang Yesus alami ini biarlah menjadi peringatan kepada kita di masa sekarang, untuk mewaspadai sikap self-righteous.

Antitesis

Kebenaran sendiri vs anugerah / kasih karunia itu nyata, karena Antitesis dari self-righteousness adalah kasih karunia. Yesus mengatakan, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” (11:25). Kasih karunia adalah berkat Allah bagi mereka yang sadar dirinya kecil, kurang, dan lemah.

Dengan kekuatan sendiri manusia tidak dapat berkenan kepada Allah. Dengan kekuatan sendiri manusia tidak bisa memperoleh kekudusan. Oleh karena itu, manusia yang sadar akan ketidakmampuannya itu harusnya datang kepada Allah dan memohon kemurahan hati-Nya. Allah berkenan kepada orang-orang yang menyadari ketidakberdayaannya dan datang dengan rendah hati. Allah memberikan berkat yang terbesar kepada orang-orang yang demikian. Berkat terbesar itu adalah pengampunan, penebusan melalui karya Kristus di kayu salib.

Kelegaan

Kasih karunia adalah bagi mereka yang mau mematikan ego dan belajar setiap hari. Yesus mengatakan kepada setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat, Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (11:29). Kunci untuk mendapatkan kelegaan adalah membuang ego, menyingkirkan self-righteousness dari dalam diri, seperti seekor lembu yang pasrah terhadap petani yang mengendalikan kuknya.

Manusia yang self-righteous tidak bisa menerima gambaran lembu dan kuk itu. Manusia yang self-righteous tidak bisa menerima kelegaan dalam kasih karunia.

Kasih karunia adalah kelegaan kekal dari Allah. Oleh karena itu, buanglah kesombongan dan bertobatlah. Kasih karunia juga tidak membuat kita menjadi malas, malah karena kasih karunia, kita bekerja lebih keras daripada yang lain. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. (1Kor 15:10 ITB).

Kebenaran sendiri vs anugerah / kasih karunia, saya memilih kasih karunia. Haleluya!

Video ibadah bisa ditonton di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *