Natal Dimulai dari Pinggiran: Renungan tentang Cinta yang Tulus

Bayangkan sebuah bangsa yang tenggelam dalam bayang-bayang ketakutan. Mereka merasakan kuk penindasan di bahu mereka, mendengar derap sepatu lars tentara musuh yang mendekat. Lalu, dari tengah kegelapan itu, sebuah janji terucap: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” (Yesaya 9:1).

Ini adalah konteks di mana nubuatan Natal pertama kali bergema. Bukan di istana yang megah, bukan di pusat kekuasaan Yerusalem, melainkan dari tanah Zebulon dan Naftali—wilayah “Galilea bangsa-bangsa lain” yang terpinggirkan dan dihinakan.

Natal, pada hakikatnya yang paling mendalam, dimulai dari pinggiran.

Natal: Sebuah Anak, Bukan Seorang Jenderal

Ketika bangsa Yehuda dicekam ketakutan oleh ancaman invasi Asyur, mereka mengharapkan seorang penyelamat yang gagah perkasa—seorang jenderal, seorang pahlawan super. Namun, janji yang diberikan justru terdengar paradoks:

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita.” (Yesaya 9:5).

Allah memilih untuk masuk ke dalam sejarah manusia bukan melalui pintu depan istana, melainkan melalui palungan di Betlehem. Dia memulai karya-Nya bukan dari Yerusalem, pusat agama dan politik, melainkan dari Kapernaum di Galilea, kota pinggiran yang penduduknya dianggap tidak murni.

Mengapa? Karena di sinilah esensi Natal yang sesungguhnya: Allah datang untuk mereka yang terpinggirkan, tersisihkan, dan terlupakan.

Imanuel: Allah yang “Bersama Kita” dalam Kelemahan

Nama-Nya disebutkan: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Namun, gelar-gelar agung ini melekat pada seorang bayi yang tak berdaya. Ini adalah paradoks yang mengejutkan: keselamatan datang melalui kerentanan (vulnerability).

Bayi adalah makhluk paling rentan. Mereka tak bisa melindungi diri, berjalan, atau makan sendiri. Dalam kerentanan yang sama, Yesus datang. Dia memilih untuk menjadi “vulnerable,” membuka diri untuk disakiti, dikhianati, dan dimanipulasi. Dia memenangkan dunia bukan dengan pedang atau kekuasaan, tetapi dengan cinta yang tulus hingga ke kayu salib.

Inilah panggilan Natal bagi kita: Kita dipanggil untuk mencintai dunia ini dengan cinta yang sama—cinta yang berani menjadi rentan.

Seperti orang yang sedang jatuh cinta (“bucin”) membuka semua pertahanannya, kita diajak untuk mencintai dengan tulus, bahkan kepada “the ultimate other”—orang yang paling sulit kita kasihi, yang paling menyakiti kita. Hanya cinta jenis inilah, seperti tetesan air yang mampu menerobos beton, yang dapat mengubah hati manusia.

Gereja yang Aman: Mewujudkan Cinta yang Menerima

Jika Natal dimulai dari palungan, maka semangat Natal seharusnya menghilangkan segala penghalang dan kemewahan yang menciptakan jarak. Yesus dibungkus dengan lampin; Dia tidak memerlukan jubah mewah untuk menerima siapa pun.

Ini mengajak kita berefleksi: Sudahkah komunitas kita—gereja kita—menjadi tempat yang aman? Tempat di mana orang bisa datang dengan “pakaian gembel”-nya, dengan segala kelemahan, kegagalan, dan kekurangannya, tanpa takut dihakimi, digosipkan, atau dieksploitasi?

Natal mengundang kita untuk menjadi komunitas yang menerima, di mana cinta yang tulus itu nyata. Bukan tentang pakaian baru atau kemewahan, tetapi tentang solidaritas dengan Yesus yang lahir dalam kesederhanaan, untuk menyambut setiap orang dalam keadaan apa adanya.

Mission Continues: Panggilan untuk Setia dan Tulus

Natal bukanlah akhir perayaan. Natal adalah awal dari sebuah misi. Yesaya menutup nubuatannya dengan kalimat penuh keyakinan: “Kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini.” (Yesaya 9:6).

Harapan Natal tidak bergantung pada kekuatan kita, tetapi pada kesetiaan Tuhan. Tugas kita adalah merespons dengan kesetiaan dan ketulusan. Bukan bertanya, “Bagaimana agar aku dicintai?” karena kita sudah dicintai tanpa syarat. Melainkan berdoa, “Tuhan, ajarku untuk mencintai seperti Engkau telah mencintaiku.”

Ketika kita setia dan tulus dalam panggilan untuk mencintai—dengan waktu, tenaga, dan hidup kita—maka kuasa Imanuel, “Allah Beserta Kita,” akan nyata. Mukjizat menjadi cerita biasa. Yesus telah lahir. Terang telah datang. Misi kita terus berlanjut.

Apa arti Natal bagi Anda tahun ini? Apakah sekadar tradisi, atau sebuah panggilan untuk memulai dari “pinggiran” hidup Anda—bersolidaritas, mencintai dengan tulus, dan menjadi terang di tempat di mana kegelapan paling pekat?

Saksikan video khotbah di Youtube