Di Balik Sepiring Sup Kacang Merah: Kisah Yakub, Esau, dan Bahaya “Taken for Granted”

Dalam keseharian, ada satu sikap yang sering menggerogoti rasa syukur kita: menganggap remeh atau dalam istilah bahasa Inggris, taken for granted. Kita cenderung meremehkan hal-hal yang terasa mudah didapat, mudah diakses, dan sudah menjadi rutinitas. Mulai dari kesehatan, keluarga, pekerjaan, hingga hubungan dengan Tuhan.

Tahukah kamu? Sikap ini bukan sekadar kurang bersyukur, tapi sangat berbahaya. Banyak masalah besar dalam hidup justru berawal dari hal-hal kecil yang kita anggap enteng, hingga akhirnya kita terjebak dalam konsekuensi yang tak terduga.

Kisah klasik dari Kejadian 25:19-34 tentang Yakub dan Esau adalah contoh sempurna tentang bahaya “menganggap remeh” ini. Dari sini, kita bisa belajar tentang dua sikap ekstrem yang sama-sama bermasalah: menjadi seperti Esau yang meremehkan hal yang berharga, atau menjadi seperti Yakub yang berusaha merebut janji Tuhan dengan cara licik dan manipulatif.

Dua Saudara, Dua Sikap yang Bermasalah

Sebelum mereka lahir, Tuhan sudah berfirman kepada Ribka: “Anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” Janji Tuhan sudah jelas: Yakub, si bungsu, yang akan berkuasa. Namun, jalan menuju penggenapan janji itu dipenuhi oleh sikap manusiawi yang keliru.

1. Esau: Si “Taken for Granted”

Esau, sang anak sulung, adalah seorang pemburu tangguh. Suatu hari, ia pulang dengan perut lapar sekali. Ia melihat Yakub sedang memasak sup kacang merah yang sedap. Nafsu makannya menguasai akal sehatnya.

Ketika Yakub meminta hak kesulungan (hak warisan dan berkat sebagai anak pertama) sebagai ganti sepiring sup, reaksi Esau sungguh mencengangkan: “Sebentar lagi aku akan mati. Apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (Kejadian 25:32).

Bayangkan! Hak kesulungan adalah segalanya pada masa itu—ia menjamin warisan dua kali lipat lebih besar dan posisi kepala keluarga. Tapi bagi Esau, semua itu abstrak dan tidak berarti dibandingkan dengan kepuasan instan: mengisi perut yang lapar.

Inilah esensi “taken for granted”: Meremehkan sesuatu yang sangat berharga karena terlena dengan kebutuhan atau keinginan sesaat. Esau mengorbankan masa depannya yang mulia untuk kepuasan perut yang hanya bertahan beberapa jam. Ia kehilangan segalanya karena menganggap remeh berkat yang seharusnya menjadi miliknya.

2. Yakub: Si “Licik yang Mau Membantu Tuhan”

Di sisi lain, Yakub tahu tentang janji Tuhan. Namun, ketidaksabarannya dan keinginannya untuk mengontrol segalanya membuatnya mengambil jalan pintas. Alih-alih menunggu waktu Tuhan, ia menggunakan kecerdikan (atau kelicikan) manusiawinya untuk merebut hak kesulungan dari kakaknya.

Yakub berpikir, “Tuhan kan sudah berjanji, tapi gimana caranya? Aku harus usahakan sendiri!” Ini adalah kesalahan umum kita: kita percaya pada janji Tuhan, tapi tidak percaya pada proses dan waktu-Nya. Kita ingin “membantu” Tuhan dengan cara-cara duniawi, manipulatif, atau kompromistis.

Padahal, jika Tuhan sudah berjanji, Ia sanggup menggenapinya tanpa bantuan ‘kecurangan’ kita. Tindakan Yakub membawanya pada konsekuensi panjang: ia harus kabur dari amarah Esau, ditipu balik oleh Laban, dan hidup dalam ketakutan selama bertahun-tahun.

Pelajaran untuk Kita Hari Ini: Jangan Jadi Esau, Jangan Jadi Yakub

Kisah ini seperti cermin. Seringkali, kita bergantian memerankan Esau dan Yakub dalam hidup kita.

Kita menjadi “Esau” ketika kita menganggap remeh kasih karunia Tuhan. Misalnya: karena lahir dari keluarga Kristen, kita merasa otomatis “aman” dan lupa untuk menghidupi iman dengan sungguh-sungguh. Atau, kita meremehkan disiplin rohani (seperti berdoa, baca Firman) karena merasa “Tuhan pasti mengerti.” Ini yang disebut “cheap grace” atau kasih karunia murahan, yang diingatkan oleh teolog Dietrich Bonhoeffer. Kasih karunia itu mahal (dibayar lunas oleh Kristus), sehingga respon kita harusnya adalah hidup yang berubah, penuh syukur, dan takut akan Tuhan.

Kita menjadi “Yakub” ketika janji Tuhan terasa lambat. Kita mulai gelisah dan mencoba mewujudkannya dengan kekuatan sendiri—mungkin dengan memanipulasi keadaan, menyakiti orang lain, atau kompromi dengan ketidakjujuran. Kita lupa bahwa “pasrah sempurna” justru membawa kita pada “sukacita sempurna” dan melihat preview kemuliaan Ilahi.

Lalu, Sikap Seperti Apa yang Benar?

Apa yang diajarkan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:10 memberikan jalan tengah yang brilyan:

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Inilah sikap seimbang itu:

Mengakui Sepenuhnya bahwa Semua adalah Kasih Karunia. Kita ada dan berhasil hanya karena anugerah Tuhan, bukan karena kehebatan kita.

Meresponi dengan Kerja Keras dan Hidup yang Bertanggung Jawab. Kasih karunia yang begitu mahal tidak boleh disia-siakan. Justru karena kita diselamatkan oleh kasih karunia, kita harus “bekerja lebih keras” untuk hidup sesuai dengan panggilan itu. Ini adalah wujud syukur.

Tetap Rendah Hati. Sekalipun kita bekerja keras, kita ingat bahwa sumber kekuatan dan keberhasilan itu tetaplah kasih karunia Allah yang menyertai.

Penutup: Jejak Kaki di Pasir dan Kepastian Kasih-Nya

Hidup ini tidak selalu mudah. Terkadang, di masa sulit, kita seperti hanya melihat sepasang jejak kaki di pasir dan merasa Tuhan meninggalkan kita. Namun, seperti dalam puisi “Footprints in the Sand”, justru di saat itulah Tuhan menggendong kita.

Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Rancangan-Nya adalah rancangan kebaikan. Jangan takut, tetapi juga jangan anggap remeh.

Mari kita berhenti meremehkan berkat-berkat kecil dan kasih karunia yang kita terima setiap hari. Mari juga belajar untuk bersabar dan percaya pada waktu Tuhan, tanpa perlu memaksakan kehendak dengan cara kita yang curang.

Hiduplah dengan penuh syukur, bekerja keras sebagai respon atas kasih karunia, dan percayalah bahwa di setiap langkah—bahkan ketika kita tidak merasakannya—Tuhan tetap baik dan setia menyertai.


Saksikan video khotbahnya di Youtube