Injil yang Tidak Pernah Netral
Kita sering terbiasa dengan Injil yang terdengar menenangkan, menghibur, dan aman. Injil yang cukup untuk meneguhkan iman pribadi, tetapi tidak cukup kuat untuk mengganggu tatanan yang tidak adil. Namun, ketika kita membaca Injil dengan jujur, kita akan segera menyadari bahwa Yesus tidak pernah mewartakan kabar yang netral.
Injil yang dibawa Yesus adalah Injil yang mengganggu, menggugat, dan bahkan mengguncang. Injil yang subversif.
Ketika Yesus berdiri di rumah ibadat Nazaret dan berkata: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin…” (Lukas 4:18)
Ia tidak sedang menyampaikan renungan rohani yang aman. Ia sedang mengumumkan hadirnya Kerajaan Allah—sebuah realitas yang berhadap-hadapan langsung dengan sistem sosial, politik, dan keagamaan yang menindas kehidupan.
Apa Arti Injil yang Subversif?
Kata subversif berasal dari bahasa Latin subvertere, yang berarti “membalikkan dari bawah”. Subversi bukanlah tindakan anarkis atau kekerasan, melainkan proses membongkar tatanan yang tidak adil dan menggantinya dengan relasi yang baru: relasi kasih, keadilan, dan solidaritas.
Itulah yang dilakukan Yesus sepanjang pelayanan-Nya. Ia menyebut orang miskin sebagai yang berbahagia (Matius 5:3). Ia mengatakan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu (Matius 20:16). Ia makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Ia menyembuhkan pada hari Sabat. Ia membalikkan meja para pedagang di Bait Allah.
Semua itu bukan tindakan kebetulan. Itu adalah ekspresi dari Injil yang subversif—Injil yang membalikkan logika dunia.
Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus bukanlah konsep surgawi yang jauh dari realitas, melainkan sebuah realitas yang menabrak kerajaan-kerajaan dunia yang dibangun di atas ketimpangan dan kekerasan.
Mengikuti Yesus Bukan Sekadar Menjadi “Baik”
Masalahnya, kita sering mereduksi iman Kristen menjadi soal moral personal: menjadi orang baik, rajin beribadah, dan tidak mengganggu siapa pun. Padahal, Injil tidak pernah memanggil murid-muridnya untuk sekadar menjadi “baik”.
Yesus memanggil para pengikut-Nya untuk menjadi garam, terang, dan ragi (Matius 5:13–16). Semua metafora ini berbicara tentang pengaruh dan perubahan, bukan tentang netralitas.
Ragi selalu mengubah adonan. Garam selalu memberi rasa. Terang selalu mengusir gelap. Mengikuti Yesus berarti bersedia membiarkan iman kita mengusik kenyamanan—baik kenyamanan pribadi maupun kenyamanan struktural.
Teologi yang Lahir dari Pinggiran
Di sinilah pentingnya apa yang sering disebut sebagai teologi marginal—teologi yang lahir bukan dari menara gading, tetapi dari kehidupan nyata orang-orang kecil.
Yesus sendiri lahir, hidup, dan melayani dari pinggiran. Ia tidak lahir di pusat kekuasaan, melainkan di palungan. Ia lebih sering ditemukan di tengah orang sakit, miskin, dan tersingkir, daripada di istana atau pusat agama.
Karena itu, teologi yang setia kepada Yesus tidak bisa dilepaskan dari pengalaman mereka yang disingkirkan. Teologi bukan hanya soal doktrin yang rapi, tetapi refleksi iman yang bergumul dengan realitas ketidakadilan.
Paulus menulis: “Ia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba.” (Filipi 2:7). Teologi yang setia pada Kristus adalah teologi yang bersedia turun, bukan naik; mendengar, bukan mendominasi.
Iman yang Tidak Netral
Dalam dunia yang ketidakadilannya diorganisir secara sistemik, sikap netral sering kali justru menjadi bentuk keberpihakan—keberpihakan pada status quo.
Roma 12:2 mengingatkan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”
Ayat ini bukan ajakan untuk menarik diri dari dunia, melainkan panggilan untuk tidak larut dalam logika dunia yang menormalisasi ketimpangan dan kekerasan.
Iman Kristen bukan iman yang jinak. Ia adalah iman yang berani berkata “tidak” pada kejahatan struktural, dan “ya” pada kehidupan yang lebih manusiawi.
Will You Subvert?
Pertanyaan akhirnya bukan apakah Injil itu subversif—karena jelas, iya. Pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah kita bersedia hidup dalam semangat Injil yang subversif itu?
Subversi yang dimaksud bukanlah revolusi politik yang brutal, melainkan keberanian untuk: berpihak pada yang kecil, menolak kompromi dengan ketidakadilan, menghadirkan kasih yang nyata, dan hidup dalam kebenaran meski tidak populer.
Mengikuti Kristus bukanlah jalan yang aman. Itu adalah jalan salib. Namun justru di sanalah Injil menemukan kekuatannya yang sejati.
Injil bukan sekadar kabar baik yang menghibur. Ia adalah kabar baik yang membebaskan—dan karena itu, sering kali mengganggu.
Will you subvert?



