Tuaian Banyak, Pekerja Sedikit: Apa Artinya Menjadi Gereja yang Sejati?

Kita mengenal ayat ini. Bahkan terlalu sering mendengarnya. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.”

Biasanya, ayat ini muncul dalam konteks “misi,” “penginjilan,” atau “pertumbuhan gereja.” Ia jadi slogan penggerak, pembakar semangat. Lalu kita membayangkan “tuaian” sebagai kumpulan orang banyak, lautan kepala yang siap diselamatkan. “Ladang menguning” adalah gambaran indah tentang hasil akhir yang melimpah.

Tapi mari kita berhenti sejenak dan melihat lebih dekat.

Sebelum kata “tuaian” itu diucapkan Yesus, ada satu kalimat kunci: “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”

Jadi, “tuaian” yang dimaksud Yesus bukanlah pertama-tama tentang angka, tapi tentang kondisi. Bukan tentang hasil yang gemuk, tapi tentang keadaan yang lusuh. “Tuaian” itu adalah kumpulan manusia yang “lelah dan terlantar.” Letih oleh hidup. Tersesat karena tak ada yang menuntun. Terlantar karena tak ada yang peduli.

Dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan.

Dari sinilah segalanya dimulai. Pelayanan bukan dimulai dari sebuah program, strategi, atau target. Ia dimulai dari sebuah belas kasihan yang menyentuh bagian terdalam hati, sehingga kita tidak bisa lagi hanya diam dan berpaling.

Tuaian memang banyak. Artinya, di sekeliling kita, ada begitu banyak rasa lelah yang tak terucap. Banyak jiwa yang terlantar di tengah keramaian. Banyak hati yang, seperti domba tanpa gembala, kebingungan mencari arah. Mereka ada di pasar, di kantor, di linimasa media sosial, dan mungkin sekali, di ruang keluarga kita sendiri. Pekerjaan itu banyak. Panggilan itu nyata.

Tetapi pekerja sedikit. Mengapa? Mungkin karena kita sering mempersempit makna “bekerja bagi Tuhan”. Kita mengira itu berarti aktif di kegiatan gereja, memegang mik, memimpin persekutuan. Itu baik. Tapi pekerjaan Tuhan jauh lebih luas dan lebih dalam.

Bekerja bagi Tuhan adalah melanjutkan apa yang dilakukan Yesus:

Menjadi “gembala” bagi yang terlantar, dalam bentuk perhatian sederhana, waktu yang diberikan, telinga yang sungguh mendengar.

Menjadi terang bagi yang lelah, dengan kata-kata penghiburan yang tulus, bukan klise.

Menjadi tangan yang menjamah “orang kusta” zaman ini—mereka yang “terkotak-kotakkan”, disingkirkan, atau dianggap tidak layak.

Bekerja bagi Tuhan adalah memberikan apa yang kita terima dengan cuma-cuma: kasih karunia. Kita diberikan pengharapan, lalu membagikannya. Kita dihibur, lalu menghibur. Kita diterima, lalu menerima.

Jadi, ladang itu adalah dunia nyata kita. Tuaian itu adalah orang-orang di dekat kita yang lelah dan terlantar. Dan “pekerja” itu bukan “mereka”, tapi “saya dan kamu”.

Tuhan tidak sedang membutuhkan lebih banyak aktivis agama. Dia merindukan lebih banyak manusia dengan hati yang tergerak oleh belas kasihan, yang kemudian menggerakkan tangan dan kaki untuk pergi, menyentuh, dan melayani.

“Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian-Nya.”

Doa itu harus diiringi dengan kesediaan kita untuk berkata, “Ya, saya siap diutus. Mulai dari sini. Mulai hari ini.

Karena pada akhirnya, kita tidak dipanggil hanya untuk pergi ke gereja. Kita dipanggil untuk menjadi gereja—Gereja yang hidup, yang hadir, yang peduli, di mana pun kaki kita berpijak.

Tuaian memang banyak. Maukah kita menjadi salah satu dari sedikit pekerja itu?


Saksikan video khotbahnya di Youtube