Pernahkah kita benar-benar merenung: mengapa kita percaya kepada Tuhan? Di tengah budaya yang “memaksa” kita beragama, pertanyaan mendasar ini sering kali terabaikan. Kita menganggap remeh iman kita, padahal iman adalah soal percaya sungguh-sungguh—dan kepercayaan itu harus terlihat dalam hidup sehari-hari.
Tuhan berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, lakukanlah perintah-Ku.” Percaya bukan hanya sekadar kata, tetapi tindakan. Dan di situlah iman bertemu dengan etika.
Etika: Cermin Iman yang Hidup
Etika bukan hanya soal sopan santun (etiket), melainkan nilai-nilai yang mendasari perilaku kita. Mengapa kita tidak berbohong? Mengapa harus menepati janji? Mengapa menghargai orang lain? Itu semua adalah cerminan etika—dan sebagai orang beriman, etika kita seharusnya lebih tinggi, karena kita punya alasan iman untuk melakukannya.
Namun realitanya sering berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa di negara-negara maju yang tidak religius, tingkat pengembalian barang hilang lebih tinggi. Sementara di negara yang agamis, angkanya justru rendah. Ini menunjukkan bahwa keagamaan tanpa etika hanya menjadi ritual kosong.
Iman kita diuji dalam hal-hal kecil: Apakah kita tepat waktu? Apakah kita menepati janji? Apakah kita jujur dalam perkataan kita?
Ketika kita mengabaikan hal-hal “kecil” ini, kita mengabaikan esensi iman: menghargai sesama sebagai bentuk penghargaan kepada Tuhan.
Bercermin dari Kisah Yakub dan Esau: Kekacauan, Tipu Daya, dan Konsekuensi
Kisah keluarga Ishak dan Ribka dalam Kejadian 25 mengungkap sisi manusiawi yang sering kita alami: favoritisme. Ishak lebih menyayangi Esau, Ribka lebih dekat dengan Yakub. Itu manusiawi—dan Alkitab pun mengakuinya. Masalahnya bukan pada favoritisme, tetapi bagaimana kita menyikapinya.
Sayangnya, kisah ini berlanjut dengan tipu daya. Ribka, yang tahu bahwa Yakub yang seharusnya diberkati, memakai cara curang: menyuruh Yakub menyamar sebagai Esau untuk mendapatkan berkat. Tipu daya ini adalah bagian dari manusia yang berdosa—sesuatu yang melekat dalam komunikasi kita.
Namun, setiap tindakan punya konsekuensi. Yakub harus kabur karena Esau ingin membunuhnya. Ribka kehilangan anak kesayangannya. Hubungan keluarga menjadi retak.
Di sini kita belajar beberapa hal berharga. Yang pertama: Hidup adalah sebab-akibat.Bohong, curang, atau bersikap tidak adil akan membawa konsekuensi—baik kecil maupun besar. Kemudian, Teladan orangtua berdampak.Yakub belajar berbohong dari ibunya—dan di kemudian hari, ia menjadi ahli tipu daya. Yang terakhir: Kita semua tidak sempurna.Baik Yakub, Esau, Ribka, maupun Ishak—semuanya punya kelemahan. Itu mengingatkan kita untuk berhenti menghakimi dan lebih introspeksi.
Anugerah Tuhan dalam Kekacauan
Di tengah kekacauan yang diciptakannya sendiri, Yakub justru mendapat janji Tuhan: “Aku menyertai engkau dan akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi” (Kejadian 28:15). Ini adalah anugerah murni—bukan karena Yakub layak, tetapi karena Tuhan setia pada janji-Nya.
Di sinilah intinya. Kita semua “brengsek”. Kita suka bohong, curang, pilih kasih, dan menyimpan dendam. Tapi Tuhan tidak membinasakan kita. Sebaliknya, kasih karunia-Nya menopang kita.
Oleh karena itu, sadari kebenaran ini. Persembahan kita adalah respons syukur—bukan “sogokan” untuk Tuhan. Hidup jujur dan baik bukan untuk untung, tetapi karena itu adalah panggilan iman. Dalam keadaan paling kacau sekalipun, janji Tuhan tetap berlaku.
Iman yang Bertanggung Jawab
Iman yang sejati bukan hanya soal rajin ibadah atau hafal Alkitab. Iman adalah etika yang hidup—terbukti dalam integritas, kejujuran, dan penghargaan kepada sesama. Dan ketika kita gagal—karena kita pasti akan gagal—kita kembali kepada anugerah-Nya.
Trust in God’s promises even when circumstances are messy. Percayalah, sekacau apa pun hidupmu, Tuhan tetap setia. Tugas kita adalah hidup setia, tulus, dan sadar bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya—dan setiap anugerah adalah kasih yang tidak layak kita terima.
Mari jalani hidup dengan kesadaran penuh bahwa Kita ada karena kasih karunia. Dan kasih karunia itu memanggil kita untuk hidup yang lebih baik.
Saksikan video khotbahnya di Youtube



