Apakah Anda pernah merasa terganggu saat ada yang meminta persembahan? Atau mungkin, Anda merasa bahwa topik ini selalu dikaitkan dengan “minta uang”? Kalau iya, Anda tidak sendirian. Rasa “enggan” itu sering muncul karena kita melihat apa yang kita miliki—termasuk uang—sebagai milik kita sendiri.
Namun, sebuah pengajaran yang mendalam mengajak kita untuk membalikkan pola pikir itu. Teologi persembahan sesungguhnya bukan dimulai dari dompet kita, melainkan dari kebenaran yang sangat fundamental.
1. Semua yang Kita Miliki, Sungguh-Sungguh Milik Tuhan
Inilah titik awal yang tak boleh kita lewatkan. Sering kali kita merasa risih memberi karena kita merasa hak milik kita sedang diambil. Kita berpikir, “Ini uang hasil jerih payah saya.” Namun, firman Tuhan mengingatkan kita dengan sangat jelas: segala yang kita miliki dan segenap keberadaan kita adalah kepunyaan Tuhan.
“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali.” (Ayub 1:21)
Kita datang ke dunia dengan tangan kosong, dan kita pun akan pergi dengan tangan kosong. Nafas hidup, talenta, kesempatan, dan materi yang kita nikmati hari ini—semuanya adalah anugerah dan milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Ketika kita sungguh-sungguh mengamini kebenaran ini, memberikan apa pun kepada Tuhan tidak lagi terasa sebagai “kehilangan,” melainkan pengembalian apa yang sudah menjadi hak-Nya.
2. Memberi adalah Respons, Bukan Kewajiban
Sering kali, persembahan disalahpahami sebagai:
– Pajak Penghasilan Rohani:Kalau tidak bayar, akan kena “denda” atau merasa bersalah.
– Karcis Masuk Ibadah:Memberi banyak kalau musiknya bagus atau khotbahnya mengena.
– Investasi:Menabur sedikit, menuai sedikit; menabur banyak, menuai banyak.
Meski prinsip menabur dan menuai itu benar (2 Korintus 9:6), esensinya lebih dalam dari sekadar transaksi. Memberi persembahan pertama-tama adalah RESPONS. Itu adalah sikap tahu diri kita sebagai orang yang telah menerima segalanya terlebih dahulu dari Tuhan.
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 Yohanes 4:19)
Demikian juga, kita memberi karena Allah lebih dahulu memberi kepada kita—kasih, pengampunan, keselamatan, bahkan Anak Tunggal-Nya. Persembahan kita adalah ucapan syukur yang konkret, bukan pajak atau investasi demi keuntungan pribadi.
3. Kita adalah Saluran Berkat, Bukan Wadah Penampung
Inilah paradigma yang mengubah segalanya. Tuhan memberkati kita bukan untuk kita tampung dan tumpuk bagi diri sendiri, melainkan agar kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Bayangkan diri kita sebagai pipa, bukan tangki air. Fungsi pipa adalah mengalirkan air. Semakin besar pipanya, semakin banyak air yang bisa dialirkan. Prinsipnya sama: semakin kita setia menyalurkan berkat yang Tuhan percayakan (baik uang, waktu, atau perhatian), semakin Tuhan memperbesar “kapasitas” kita untuk menerima dan menyalurkan lebih banyak lagi.
Kisah lima roti dan dua ikan adalah ilustrasi sempurna. Murid-murid hanya punya sedikit, tapi ketika mereka rela menyalurkannya (meski dengan gemetar), yang sedikit itu tidak hanya mencukupi untuk 5000 orang, tetapi bahkan berlimpah sisa. Tuhan menguji kerelaan kita untuk menjadi saluran, dan upahnya adalah Dia sendiri yang akan memenuhi segala keperluan kita.
4. Persembahan adalah Instrumen Syukur, Bukan Penggalangan Dana
Ini poin yang sering terlupakan. Saat kotak persembahan diedarkan di gereja, itu bukan momen penggalangan dana atau fundraising. Itu adalah sarana sakral bagi kita untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan.
Memberi uang adalah salah satu bentuk pengucapan syukur yang paling mudah dan nyata. Ketika kita memasukkan uang ke dalam amplop persembahan, pada hakikatnya kita sedang berkata, “Terima kasih, Tuhan, untuk hidup, kesehatan, pekerjaan, dan segala kebaikan-Mu. Ini tanda syukur hatiku.”
Kesimpulan: Berilah dengan Sukacita, Bukan dengan Terpaksa
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Korintus 9:7-8)
Kuncinya ada di sini: sukacita. Tuhan tidak menginginkan persembahan yang diberikan dengan hati terpaksa, bersungut-sungut, atau sekadar memenuhi kewajiban. Dia rindu kita memberi dengan hati yang lapang dan penuh syukur, menyadari bahwa semua berasal dari Dia.
Ketika kita memberi dengan sukacita, janji Tuhan nyata: Dia sanggup melimpahkan segala kasih karunia. Bukan sekadar kasih karunia materi, tetapi damai sejahtera, hikmat, sukacita, dan kecukupan sejati yang melampaui segala akal.
Mari kita praktikkan. Mulailah memandang segala sesuatu yang kita miliki sebagai milik Tuhan. Jadilah saluran berkat yang aktif, bukan wadah yang stagnan. Dan saat kotak persembahan diedarkan, lihatlah itu sebagai kesempatan emas untuk menyatakan syukurmu.
Hidup yang dipersembahkan sepenuhnya—bukan hanya uang di amplop—itulah ibadah sejati yang berkenan kepada Tuhan.
Saksikan video khotbahnya di Youtube



