Masalah Kita Bukan Kurang Iman, Tapi Tidak Mau Taat

Ada permintaan yang terdengar sangat rohani, sangat rendah hati, dan sangat layak diamini oleh siapa pun yang aktif beribadah: “Tuhan, tambahkanlah iman kami.”

Permintaan ini datang dari murid-murid Yesus sendiri (Luk. 17:5). Mereka bukan orang sembarangan. Mereka hidup dekat dengan Yesus, berjalan bersama-Nya, mendengar langsung pengajaran-Nya, dan berada di barisan depan karya Allah. Namun justru dari mulut mereka keluar permohonan itu—dan jawaban Yesus sama sekali tidak seperti yang kita bayangkan.

Iman Bukan Masalah Kuantitas

Yesus menjawab, “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja…”

Bagian ini sering dikutip sebagai penguatan bahwa iman sekecil apa pun bisa menghasilkan mujizat besar. Namun dalam konteksnya, Yesus tidak sedang menghibur murid-murid. Ia sedang menegur mereka.

Permintaan “tambahkan iman kami” muncul setelah Yesus mengajar tentang mengampuni orang yang bersalah berulang kali—bahkan tujuh kali dalam sehari. Angka tujuh bukan angka simbolik yang ringan; itu adalah batas maksimal kesabaran manusia. Artinya, Yesus sedang menuntut sesuatu yang benar-benar berat.

Respons murid-murid sebenarnya bukan kerinduan rohani, melainkan penolakan yang dibungkus bahasa iman. “Kalau Tuhan mau kami lakukan itu, kami butuh iman yang lebih besar.”

Yesus membongkar dalih itu. Masalahnya bukan iman yang kurang besar, melainkan ketiadaan iman. Jika iman sebesar biji sesawi saja tidak ada, maka persoalannya bukan level iman, melainkan sikap hati yang memilih untuk tidak taat.

Iman yang Memilih-Milih Bukan Iman

Banyak orang Kristen memahami iman sebagai keterlibatan dalam aktivitas gerejawi: rajin ibadah Minggu, setia komsel, memberi persembahan, melayani sebagai singer, usher, atau tim multimedia. Semua itu baik. Bahkan perlu.

Namun Yesus menunjukkan bahwa iman sejati bukan sekadar ketaatan pada bagian firman yang nyaman, melainkan ketaatan pada seluruh kehendak Allah—termasuk bagian yang mengganggu, melukai ego, dan menantang batas kita.

Kita tidak bisa berkata, “Tuhan, yang ini aku taat, tapi yang itu terlalu berat.” Dalam logika Yesus, ketika kita menolak satu bagian firman, kita sedang menolak ketaatan itu sendiri. Iman yang sejati tidak bersifat selektif.

Hamba yang Tidak Berguna

Perikop berikutnya (Luk. 17:7–10) terasa lebih tidak nyaman lagi. Yesus berbicara tentang seorang hamba yang bekerja keras seharian, lalu tetap tidak mendapat ucapan terima kasih. Bahkan sang hamba diminta mengakui, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna.”

Kata yang dipakai berarti unprofitable—tidak mendatangkan keuntungan. Ini menghantam dua kecenderungan gereja masa kini. Pertama, kecenderungan membanggakan ketaatan ritual. Kedua, kecenderungan membanggakan aksi sosial dan pelayanan nyata.

Pelayanan kepada orang miskin, yang tertindas, yang terpinggirkan—semua itu penting dan mutlak. Namun Yesus berkata: itu bukan prestasi yang layak dibanggakan. Itu adalah hal yang seharusnya dilakukan.

Kerajaan Allah tidak kekurangan tenaga ahli. Allah tidak membutuhkan keahlian kita untuk menjalankan pekerjaan-Nya. Ia tidak memanggil kita karena kita berguna, melainkan karena Ia mengasihi kita.

Pelayanan Adalah Kasih Karunia, Bukan Upah

Jika Kerajaan Allah membuka lowongan pekerjaan dan bertanya, “Apa keahlianmu yang berguna bagi Kerajaan-Ku?” Maka satu-satunya jawaban jujur adalah: tidak ada.

Kita dipanggil bukan karena kemampuan, tetapi karena kasih karunia. Bahkan kesempatan untuk melayani itu sendiri adalah anugerah. Seperti Paulus yang berkata bahwa upahnya adalah melayani itu sendiri.

Karena itu, kita tidak melayani untuk mencari pengakuan, posisi, atau rasa superior rohani. Kita melayani dengan gentar, dengan syukur, dengan kesadaran bahwa kita pun diselamatkan semata-mata oleh belas kasih Allah.

Gereja yang Sehat

Gereja yang sehat bukan hanya gereja yang rajin beribadah atau aktif melayani. Gereja yang sehat adalah gereja yang: taat pada seluruh firman Tuhan, tanpa pilih-pilih, bekerja nyata tanpa menyombongkan diri, hangat hatinya terhadap Tuhan dan sesama, dan kapalan tangannya karena benar-benar bekerja.

Ketaatan dan pelayanan hanya mungkin dijalani dengan benar jika kita sadar, semuanya adalah kasih karunia.

Biarlah renungan ini mengganggu kita—sebagai pribadi dan sebagai gereja—agar kita kembali memeriksa iman kita. Bukan seberapa besar, tetapi apakah iman itu sungguh ada dan sungguh taat.


Saksikan video khotbah di Youtube