Realitas Relasi, Ketidakadilan, dan Campur Tangan Allah

Ketika Cerita Alkitab Terasa Terlalu Dekat

Salah satu kekuatan terbesar Alkitab adalah kejujurannya. Ia tidak menampilkan tokoh-tokoh iman sebagai pahlawan tanpa cacat, melainkan sebagai manusia sungguhan—penuh cinta, ambisi, kesalahan, tipu daya, dan luka. Kejadian 29 adalah salah satu contoh paling jelas tentang itu.

Di pasal ini, kita membaca kisah Yakub: seorang pelarian, penipu yang ditipu, pecinta yang dikhianati, dan manusia yang dipaksa belajar tentang realitas hidup bersama orang lain. Kisah ini bukan sekadar drama keluarga kuno. Ini adalah cermin yang memantulkan wajah kita sendiri.

Yakub: Pelarian yang Jatuh Cinta

Yakub tiba di Haran sebagai seorang musafir. Ia bukan pahlawan. Ia lari dari rumah karena menipu ayahnya dan merebut hak kesulungan Esau. Dalam budaya Timur Tengah kuno, musafir harus diterima—dan Laban, pamannya, menerimanya.

Di sanalah Yakub jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Rahel. Ia bersedia bekerja tujuh tahun demi perempuan yang dicintainya. Alkitab bahkan mencatat kalimat yang romantis sekaligus tragis:

“Tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.” (Kejadian 29:20, TB-LAI)

Cinta membuat pengorbanan terasa ringan. Tetapi hidup tidak berhenti di situ.

Ketika Cinta Bertemu Muslihat

Malam pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan berubah menjadi awal pengkhianatan. Laban menipu Yakub. Bukan Rahel yang diberikan, melainkan Lea.

Ironisnya sangat tajam: Yakub—si penipu—kini menjadi korban penipuan.

“Mengapa engkau menipu aku?” (Kejadian 29:25). Pertanyaan itu terdengar sangat manusiawi. Mungkin itu juga pertanyaan yang sering muncul dalam hati kita ketika dikhianati oleh orang dekat: keluarga, pasangan, rekan pelayanan, bahkan sesama orang percaya.

Hidup Tidak Adil dan Manusia Tidak Bisa Dipercaya

Kejadian 29 tidak menawarkan solusi instan atau moral simplistik. Alkitab tidak berkata, “Kalau kamu baik, semua akan baik-baik saja.” Justru sebaliknya, kisah ini mengajarkan satu kenyataan pahit namun jujur: hidup tidak adil, dan manusia tidak sepenuhnya bisa dipercaya.

Yakub belajar bahwa dunia orang dewasa adalah dunia relasi yang kompleks—penuh kepentingan, manipulasi, dan luka. Dan ini bukan hanya terjadi “di luar sana”. Bahkan di dalam komunitas iman, relasi bisa menyakitkan.

Masalah sering kali bukan karena kejahatan besar, tetapi karena asumsi, penilaian sepihak, dan luka batin yang dibawa dari masa lalu.

Mengapa Alkitab Memilih Cerita, Bukan Daftar Aturan?

Menarik bahwa Allah tidak menyatakan diri-Nya terutama lewat daftar peraturan, melainkan lewat cerita. Karena iman bukan hanya soal benar atau salah, tetapi soal hidup bersama Allah di tengah realitas manusia yang rusak.

Kita memahami Tuhan bukan dengan menghafal hukum, melainkan dengan masuk ke dalam kisah-kisah seperti Yakub—dan menemukan bahwa kisah itu bersilangan dengan kisah kita sendiri.

Iman kita pun adalah sebuah cerita.

Allah yang Tetap Bekerja di Tengah Relasi yang Rusak

Di tengah kisah Yakub dan Laban, kita tidak menemukan Allah yang menghentikan penipuan secara ajaib. Tetapi kita menemukan Allah yang tetap bekerja, bahkan melalui ketidakadilan.

Inilah kebenaran yang kemudian ditegaskan Paulus: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” (Roma 8:28)

Bukan karena manusia bisa dipercaya. Bukan karena relasi kita sempurna. Tetapi karena Allah setia ketika manusia gagal.

Hidup Bersama Karena Kasih Karunia, Bukan Kesempurnaan

Jika alasan kita hidup bersama hanyalah karena kesempurnaan, komunitas apa pun—termasuk gereja—pasti akan runtuh. Tetapi jika alasannya adalah kasih karunia, kita masih bisa berjalan bersama, meskipun saling melukai dan saling mengecewakan.

Kita tetap percaya, bukan karena manusia layak dipercaya, tetapi karena Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi. “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Roma 8:35)

Penutup: Belajar Percaya, Bersama Allah

Kejadian 29 mengajarkan kita bahwa mempercayai sesama tanpa melibatkan Tuhan adalah hal yang mustahil. Tetapi hidup bersama dengan campur tangan Tuhan—meskipun menyakitkan—masih mungkin dijalani dengan harapan.

Kita bisa dikhianati. Kita juga bisa mengkhianati. Namun kasih Kristus tetap tersedia. Dan itu cukup untuk membuat kita tidak menyerah.


Saksikan video khotbah di Youtube