Bayangkan sebuah pesta pernikahan di sebuah kampung di zaman Yesus. Bukan sekadar pesta, tapi the event of the year. Sepuluh gadis, yang statusnya setara dengan bridesmaids masa kini, ditugaskan untuk suatu peran penting: menyambut dan mengiringi mempelai pria dengan obor yang menyala.
Mereka semua dandan. Mereka semua membawa pelita. Mereka semua menunggu dengan antusias. Tapi Matius, sang penulis Injil, tidak membedakan mereka dari penampilan. Tidak ada “lima yang cantik, lima yang jelek” atau “lima yang gendut, lima yang seksi”. Yang ia catat justru satu pembedaan yang tajam dan menentukan: lima di antaranya bijaksana, dan lima lainnya bodoh.
Mengapa? Karena “hal Kerajaan Surga” bukan soal estetika luar, tapi soal kebijaksanaan dan ketaatan di dalam hati.
Konteks yang Sering Terlewat: Mereka Bukan Sekadar Tamu Undangan
Dalam budaya Timur Tengah kala itu, sepuluh gadis ini adalah pengiring pengantin. Tugas mereka serius: menyalakan obor untuk menerangi jalan saat mempelai pria menjemput mempelai wanita ke rumah baru. Tanpa cahaya mereka, prosesi itu akan berlangsung dalam gelap.
Mereka bersiap. Mereka menunggu. Tapi ada hal yang tak terduga: mempelainya lama tidak datang-datang. Dari sore hingga malam. Kelelahan menunggu akhirnya membuat mereka semua—baik yang bijaksana maupun yang bodoh—tertidur.
Di sinilah alegori yang dalam mulai terbuka:
– 10 Gadis = Gereja, umat Tuhan yang menantikan kedatangan-Nya.
– Mempelai Pria = Kristus yang akan datang kembali.
– Penantian yang Lama = Rentang waktu antara kenaikan Yesus dan kedatangan-Nya yang kedua, yang sudah berlangsung 2000 tahun.
– Tertidurnya Semua Gadis = Kenyataan bahwa dalam penantian yang panjang, semua orang bisa mengalami kelelahan, kejenuhan, atau rasa biasa-biasa saja.
– Datangnya Mempelai di Tengah Malam = Kedatangan Tuhan yang kedua di saat yang tidak terduga (Matius 24:36).
– Pintu yang Ditutup = Penghakiman terakhir yang bersifat final.
Lalu, di manakah letak perbedaan antara bijaksana dan bodoh?
Perbedaan yang Tidak Tampak, Namun Sangat Menentukan: Minyak Cadangan
Kedua kelompok gadis itu terlihat sama dari luar. Sama-sama punya pelita. Sama-sama punya minyak. Sama-sama menunggu. Sama-sama tertidur.
Namun, saat teriakan terdengar, “Mempelai datang! Songsonglah dia!”, sebuah krisis kecil terungkap.
Gadis-gadis bodoh mendapati minyak mereka habis. Pelita mereka mulai padam. Dengan panik, mereka meminta minyak cadangan dari gadis-gadis bijaksana. Jawabannya tegas: “Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan kamu. Pergilah kepada penjual minyak dan belilah untukmu sendiri.”
Saat gadis-gadis bodoh itu pergi membeli minyak, mempelai tiba. Gadis-gadis bijaksana yang siap dengan pelita mereka yang tetap menyala masuk bersama dia ke ruang perjamuan kawin. Pintu pun ditutup.
Gadis-gadis bodoh datang terlambat. Mereka mengetuk pintu, memohon, “Tuan, Tuan, bukakanlah kami pintu!”
Namun jawaban dari dalam menusuk dan final: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.”
Minyak Itu Bukan Jimat, Tapi Ketaatan
Apa sebenarnya “minyak” dalam hidup kita? Bukan sekadar simbol Roh Kudus secara abstrak. Dalam keseluruhan konteks Khotbah Yesus di Bukit Zaitun (Matius 23-25), minyak melambangkan kehidupan ketaatan yang berjalan konsisten, meski Tuhan seolah “lambat datang”.
Lihat pola yang konsisten dalam pengajaran Yesus:
– Hamba yang Setia vs Tidak Setia (Matius 24:45-51): Yang setia tetap bekerja dengan tekun meski tuannya lama pulang. Yang tidak setia menganggap tuannya tak akan datang, lalu berfoya-foya dan menindas.
– Talenta (Matius 25:14-30): Yang diberi reward adalah hamba yang setia mengembangkan apa yang dipercayakan tuannya.
– Penghakiman Terakhir (Matius 25:31-46): “Domba” yang diterima adalah mereka yang secara konsisten mengasihi dan melayani sesama dengan tulus.
Minyak = Hidup yang taat melakukan kehendak Bapa, meneladani Kristus, dalam rutinitas dan penantian yang panjang.
Gadis bodoh itu bersiap, tapi hanya untuk hal yang terlihat dan untuk durasi yang mereka perkirakan. Mereka tidak siap untuk kemungkinan penantian yang lebih lama. Mereka tidak punya cadangan untuk keadaan darurat. Iman mereka dangkal, ketaatan mereka bersyarat.
Gadis bijaksana hidup dengan kesadaran bahwa penantian bisa lebih lama dari dugaan, sehingga ketaatan harus lebih dalam dari yang tampak. Mereka punya “cadangan” iman dan perbuatan yang lahir dari hubungan yang intim dengan Sumber Minyak itu sendiri.
Peringatan yang Keras dari Sebuah Cerita yang “Lucu”
Perumpamaan ini mungkin terdengar seperti dongeng sederhana, tapi ini adalah peringatan yang sangat serius. Ini adalah gema dari perkataan Yesus di Matius 7:21-23: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Bisa saja kita aktif melayani, berkhotbah, melakukan “hal-hal besar” demi nama Tuhan, namun ternyata kehabisan minyak—kehabisan ketaatan yang tulus, kasih yang murni, dan karakter yang bertumbuh. Saat pintu penghakiman tertutup, semuanya sudah terlambat.
Kita Hidup di Zaman yang Tidak Suka Berjaga-Jaga
Kita hidup di zaman yang lebih suka membahas berkat sekarang, kesembuhan sekarang, kemakmuran sekarang. Tema penghakiman dan kedatangan Tuhan kedua kali terasa tidak populer. Padahal, Yesus justru berulang kali menekankan: “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”
Kita tidak bisa menguasai waktu. Kita tidak tahu kapan hidup kita di dunia ini berakhir. Kita juga tidak tahu kapan Tuhan Yesus datang kembali. Satu-satunya respon yang bijaksana adalah: hidup dalam ketaatan seolah-olah besok adalah hari itu.
Jadilah seperti gadis bijaksana. Jangan hanya punya “minyak” untuk penampilan ibadah hari Minggu. Siapkan cadangan ketaatan untuk rutinitas Senin hingga Sabtu. Siapkan cadangan kasih untuk mengampuni yang menyakiti. Siapkan cadangan iman untuk menghadapi penantian yang melelahkan.
Pintu tidak akan selalu terbuka. Waktu tidak akan selalu tersedia.
Sekarang adalah saatnya bertanya pada diri sendiri dengan jujur: Apakah saya gadis yang bijaksana, atau gadis yang bodoh?
Hanya Anda dan Tuhan yang tahu jawabannya. Mari kita hidup dengan takut akan Tuhan, mengisi pelita hidup kita dengan minyak ketaatan yang tak kunjung habis, dan selalu siap sedia menyongsong Dia, kapan pun Dia datang.
“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Matius 24:42)
Saksikan Khotbahnya di Youtube



