“Taken for granted” atau menganggap remeh adalah sikap berbahaya, baik dalam hidup sehari-hari maupun iman. Kisah Alkitab tentang Yakub dan Esau memberikan pelajaran abadi tentang bagaimana kita sering kali meremehkan berkat atau justru mencoba “membantu” Tuhan dengan cara kita sendiri.
Iman Next Level: Tantangan, Keberanian, dan Mukjizat dalam Kehidupan Sehari-hari
Pernah merasa hidup rohani Anda datar? Mungkin saatnya naik level. Iman yang sesungguhnya bukan sekadar percaya di hari Minggu, tapi menjadi kompas dalam setiap keputusan hidup—dari memilih pasangan hingga mengejar visi terbesar Anda.
Renungan Natal yang mendalam: mengapa Natal dimulai dari pinggiran, bukan pusat? Temukan makna Imanuel dan panggilan untuk mencintai dengan tulus dan rentan seperti Yesus
Tuhan tidak pernah ingkar janji. Belajar dari kisah Abraham & Sarah yang menanti 25 tahun. Renungan Kristen tentang kesetiaan dan waktu Tuhan. Baca selengkapnya.
Yesus tidak datang membawa Injil yang jinak dan netral. Pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah bersifat subversif—membalikkan tatanan yang tidak adil dan menantang sistem yang menindas. Mengikuti Yesus berarti berani hidup dalam iman yang mengguncang kenyamanan dan berpihak pada kehidupan.
Di tengah tren kebahagiaan global yang menurun, firman Tuhan dalam Yesaya 61 justru mengajak kita bersukacita. Temukan rahasia sukacita sejati yang tak tergantung keadaan dalam artikel ini.
Renungan mendalam dari perumpamaan 10 gadis dalam Matius 25. Apa arti “minyak” itu dan mengapa ketaatan, bukan hanya penampilan rohani, yang menentukan kesiapan kita menyongsong Mempelai?
Yesus mengguncang para pemuka agama dengan dua hukum yang terutama: mengasihi Allah sepenuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Apakah komitmen dan cinta kita sudah seperti itu?
Ketika Yesus Menolak Menolong: Pelajaran Ekstrem tentang Iman dan Misi dari Perempuan Kanaan
Sebuah cerita yang membuat tidak nyaman. Seorang perempuan Kanaan datang memohon, tetapi Yesus diam. Murid-murid ingin mengusirnya. Bahkan Yesus menyebutnya “anjing”. Di balik kisah yang tampak keras ini, tersimpan pelajaran dahsyat tentang ketekunan iman dan hati misi yang sesungguhnya.
“Tuaian memang banyak, pekerja sedikit.” Kalimat itu sering terngiang. Tapi, pernahkah kita benar-benar berhenti dan bertanya: “Apa yang sebenarnya Tuhan mau katakan lewat kalimat ini kepada saya?”
Doa Yabes sering dipahami sebagai doa terobosan. Namun bagaimana jika kita membacanya kembali secara lebih jujur? Artikel ini mengulas 1 Tawarikh 4:9–10 secara kritis dan reflektif.
Persembahan sering kali direduksi hanya menjadi urusan uang di dalam amplop. Namun, khotbah yang menyentuh dari 2 Korintus 9 ini mengajak kita melihat lebih dalam: persembahan adalah soal mempersembahkan seluruh hidup kita—waktu, tenaga, akal budi, dan kreativitas—sebagai wujud syukur dan penyembahan yang sejati.











