Pernahkah Anda bertanya-tanya, apa sebenarnya arti damai sejati? Di tengah hidup yang penuh tekanan, kekhawatiran, dan ketidakpastian, konsep “damai” sering kali kita pahami sebagai keadaan tanpa masalah. Namun, melalui renungan pagi ini, mari kita menelaah lebih dalam makna damai yang sesungguhnya menurut perspektif iman Kristen.
Kekeliruan Tentang Damai: Ketika Yesus Lahir dalam Kekacauan
Kita sering mendengar lagu-lagu Natal yang mendeskripsikan kedamaian surgawi, seperti “Anak Tidur Tenang dalam Damai Surgawi”. Gambaran ini membuat kita membayangkan ketenangan yang sempurna. Namun, jika kita melihat konteks kelahiran Yesus, realitanya jauh dari gambaran tenang tersebut.
Nabi Yesaya menubuatkan-Nya sebagai “Raja Damai” (Yesaya 9:5), tetapi Yesus justru lahir dalam situasi yang penuh gejolak: Israel berada di bawah penjajahan Romawi. Konflik terus-menerus antara otoritas Yahudi dan Romawi. Raja Herodes memerintahkan pembunuhan bayi-bayi, memaksa keluarga Yesus mengungsi selama 12 tahun pertama kehidupan-Nya.
Bahkan Yesus sendiri berkata, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Matius 10:34). Pernyataan ini bukan ajakan kekerasan, melainkan penegasan bahwa kehadiran-Nya akan memisahkan secara jelas antara mereka yang menerima dan yang menolak-Nya.
Damai Sejati yang Melampaui Keadaan
Lalu, di manakah damai yang dijanjikan itu? Kuncinya ada dalam perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya yang gelisah: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yohanes 14:27).
Damai yang Yesus berikan adalah: Damai yang berasal dari Roh Kudus, bukan dari keadaan eksternal. Damai yang bertahan di tengah badai masalah, duka, ketiadaan pekerjaan, atau beban hidup yang berat. Dan, Damai yang Paulus alamibahkan saat dipenjara dan menunggu hukuman mati, sehingga ia dapat menuliskan ajakan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga” (Filipi 4:6).
Damai surgawi bukanlah ketiadaan masalah, melainkan kehadiran Allah bersama kita di dalam masalah tersebut. Inilah damai yang menjadi warisan kita sebagai umat kepunyaan-Nya—bangsa yang kudus, imamat yang rajani, dan pewaris kerajaan Allah bersama Kristus.
3 Langkah Praktis untuk Memiliki Damai Surgawi
Bagaimana kita dapat mengklaim dan mengalami damai ini dalam kehidupan sehari-hari? Berikut tiga langkah sederhana namun mendalam:
1. Berdoalah dengan Ucapan Syukur
Saat masalah datang, naluri kita seringkali adalah meratap. Namun, Paulus mengingatkan untuk “nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6). Mengucap syukur adalah sebuah pilihan aktif yang mengalihkan fokus kita dari besarnya masalah kepada besarnya penyediaan dan kesetiaan Tuhan. Latihlah hati untuk melihat berkat di tengah kesulitan.
2. Tetap Berakar dalam Firman Tuhan
Kita hidup di era instan—ingin segala informasi cepat tersedia. Namun, untuk mendengar suara Tuhan dan menemukan ketenangan, kita perlu membaca, merenungkan, dan menghafal Kitab Suci dengan tekun. Firman Tuhan adalah fondasi yang kokoh. Doa yang paling berkuasa sering kali adalah doa yang mengutip dan menyerukan janji-janji Allah kembali kepada-Nya, sekaligus mengingatkan diri kita sendiri akan kesetiaan-Nya.
3. Serahkan Kendali kepada Tuhan
Damai sering kali hilang ketika kita berusaha mati-matian memegang kendali atas hidup kita. Damai sejati datang ketika kita dengan rendah hati mengakui, “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi”. Melepaskan kendali bukan tanda kelemahan, melainkan tindakan iman yang mempercayakan hidup ke dalam tangan Bapa yang berdaulat dan baik.
Kesimpulan: Damai adalah Sebuah Panggilan untuk Bertindak
Hidup dalam damai surgawi bukanlah keadaan pasif yang hanya ditunggu. Ini adalah panggilan aktif untuk bertindak: aktif mengucap syukur, aktif merenungkan Firman, dan aktif menyerahkan diri. Memang tidak mudah, tetapi janji Tuhan nyata.
Damai sejati itu ada. Dan itu adalah pemberian Tuhan yang tersedia bagi setiap kita. Mari kita menjalani hari ini dengan mempraktikkan tiga langkah tersebut, dan mengalami sendiri damai yang melampaui segala akal, yang menjaga hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.
Semoga kita semua mengalami damai sejati itu.
Saksikan video khotbah di Youtube



