Dalam rangkaian Servant Song di kitab Yesaya, kita akhirnya sampai pada nyanyian yang ketiga, yaitu tentang hamba yang taat menderita dalam Yesaya 50. Jika sebelumnya kita melihat hamba yang membawa keadilan dan hamba yang dipanggil untuk bangsa-bangsa, maka bagian ini membawa kita masuk lebih dalam, yaitu kepada ketaatan yang benar-benar diuji oleh penderitaan. Ini bukan tema yang nyaman, tetapi justru di sinilah panggilan kita sebagai pengikut Kristus menjadi nyata.
Menariknya, hamba dalam bagian ini tidak hanya digambarkan sebagai pelayan, tetapi juga sebagai murid. Ketika Yesaya menuliskan bahwa Tuhan memberikan lidah seorang murid, kita melihat bahwa identitas seorang hamba tidak bisa dilepaskan dari sikap belajar. Seorang hamba tidak hidup dari kehendaknya sendiri, dan ia juga tidak melayani dengan caranya sendiri. Sebaliknya, ia hidup untuk tujuan Tuannya dan melayani dengan cara yang ditetapkan oleh Tuannya. Karena itu, menjadi hamba Tuhan tidak mungkin tanpa terlebih dahulu menjadi murid.
Di sinilah banyak orang keliru. Kita ingin melayani Tuhan, tetapi kita tidak mau belajar mendengar Tuhan. Padahal, tanpa menjadi murid, kita tidak akan mengerti apa yang Tuhan kehendaki. Kita juga tidak akan memahami bagaimana Tuhan bekerja. Akibatnya, pelayanan kita sering kali justru menjadi perpanjangan dari ambisi pribadi, bukan ketaatan kepada Tuhan. Karena itu, kekuatan seorang hamba bukan terletak pada kemampuannya, melainkan pada kerendahan hatinya untuk terus belajar. Setiap pagi, kata Yesaya, Tuhan mempertajam pendengaran hamba-Nya. Artinya, kehidupan seorang hamba adalah kehidupan yang terus dibentuk.
Ketaatan Selalu Ada Harganya
Namun, ketaatan seperti ini tidak pernah datang tanpa harga. Yesaya menggambarkan dengan sangat jujur bahwa hamba Tuhan harus siap menghadapi penderitaan. Ia memberi punggungnya kepada orang yang memukul, dan pipinya kepada orang yang mencabut janggutnya. Ia tidak menyembunyikan wajahnya ketika dihina dan diludahi. Gambaran ini keras, bahkan terasa tidak masuk akal. Tidak ada orang yang secara alami ingin mengalami hal seperti itu. Namun, inilah realitas dari ketaatan yang sejati.
Ketika seseorang memutuskan untuk sungguh-sungguh taat kepada Tuhan, ia tidak hanya akan menerima berkat, tetapi juga akan berhadapan dengan penolakan. Hal ini terjadi karena dunia tidak selalu berjalan searah dengan kehendak Tuhan. Dunia sering kali menghargai kompromi, mengejar kepentingan pribadi, dan menyingkirkan mereka yang memilih untuk hidup jujur. Dalam situasi seperti ini, orang yang taat bisa kehilangan banyak hal, mulai dari kesempatan, kenyamanan, hingga penerimaan sosial. Pada titik inilah pertanyaan besar muncul: apakah kita tetap mau taat, atau kita memilih untuk mengikuti arus?
Hamba dalam Yesaya 50 memberikan jawabannya dengan hidupnya sendiri. Ia tidak memberontak dan tidak berpaling ke belakang. Ia tetap berjalan, meskipun jalan itu penuh penderitaan. Rahasianya terletak pada cara pandangnya. Dunia mengajarkan kita untuk mengejar keuntungan, posisi, dan pengakuan, tetapi Tuhan mengarahkan kita untuk melihat kekekalan. Ketika seseorang hanya berfokus pada dunia, maka ketaatan akan terasa tidak masuk akal. Namun, ketika seseorang melihat hidup dari perspektif kekekalan, maka ia akan menemukan kekuatan untuk tetap bertahan.
Di tengah semua itu, ada satu janji yang sering kali sulit kita pegang, yaitu bahwa Tuhan bertanggung jawab atas hidup hamba-Nya. Ini bukan berarti hidup akan menjadi mudah atau bebas dari masalah, tetapi Tuhan akan mencukupkan, menyediakan, dan menolong pada waktu-Nya. Kuncinya terletak pada kesediaan untuk hidup sesuai dengan cara Tuhan, yaitu hidup dengan cukup, tidak dikuasai oleh gengsi, dan tidak memaksakan standar dunia. Ketika kita belajar hidup seperti ini, kita mulai mengerti apa artinya percaya.
Pelayanan Bukan Sekedar Profesi
Karena itu, pelayanan tidak pernah bisa direduksi menjadi sekadar profesi. Pelayanan adalah respons terhadap panggilan Tuhan. Setiap orang percaya sebenarnya dipanggil untuk melayani, meskipun bentuknya bisa berbeda-beda. Namun, pelayanan yang sejati tidak selalu terlihat realistis. Ia tidak selalu menjanjikan keuntungan materi, dan sering kali tidak memberikan validasi yang diharapkan. Justru di situlah iman kita diuji dan dimurnikan.
Meski demikian, Yesaya menutup bagian ini dengan sebuah keyakinan yang kuat. Hamba Tuhan mungkin mengalami penolakan dan penderitaan, tetapi ia tidak akan mendapat malu, karena Tuhan sendiri yang menolongnya. Tuhan melihat, Tuhan tidak diam, dan pada waktunya Tuhan akan bertindak. Pertolongan itu mungkin tidak datang secepat yang kita inginkan, tetapi kepastiannya tidak perlu diragukan.
Pada akhirnya, panggilan kita menjadi jelas. Kita dipanggil untuk menjadi murid yang mau belajar, hamba yang mau taat, dan orang percaya yang tidak mundur. Jalan ini memang bukan jalan yang mudah, karena ini adalah jalan salib. Namun, kita tidak berjalan sendiri. Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang juga menyertai.
Karena itu, doa kita menjadi sederhana tetapi dalam: Tuhan, berikan kami hati yang mau mendengar, iman yang tetap teguh, dan keberanian untuk terus berjalan bersama-Mu. Ketika kita berani menjawab “ya” kepada panggilan ini, kita akan melihat sendiri bahwa Tuhan setia, dan kita tidak akan dipermalukan.
Saksikan Video Kotbah di Youtube



