Hukum yang Terutama: Cinta yang Mengguncang Dunia dan Mengubah Hati

Kisah dalam Matius 22 ini seperti adegan pertarungan intelektual yang mematikan. Bayangkan: setelah berhasil membungkam orang-orang Saduki, Yesus sekarang berhadapan dengan kumpulan orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka bukan datang dengan tulus bertanya, tapi dengan satu misi: menjatuhkan-Nya.

Matius mencatatnya dengan nada yang tajam. Kata “berkumpullah mereka” yang dipakai sama persis dengan terjemahan Yunani (Septuaginta) untuk Mazmur 2:2, yang menggambarkan para penguasa dunia bersekongkol melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Artinya, apa yang dilakukan para pemuka agama ini bukan sekadar debat teologi, melainkan suatu pemberontakan rohani. Mereka, yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran, justru bersatu untuk melawan Sang Kebenaran itu sendiri.

Dan strategi mereka licik. Seorang ahli Taurat (nomikos) datang dengan pertanyaan yang seolah-olah netral: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Pertanyaan ini seperti jebakan. Hukum Taurat terdiri dari 613 perintah. Menyebut satu sebagai yang “terutama” bisa memicu debat tak berujung dan menunjukkan ketidaktahuan. Tujuannya jelas: mendiskreditkan Yesus di hadapan orang banyak. Matius bahkan memakai kata Yunani yang sama untuk “mencobai” yang dipakai saat Iblis mencobai Yesus di padang gurun. Nada penokohannya keras: para pemuka agama ini ditempatkan pada posisi yang sama antagonisnya dengan si jahat itu sendiri. Sebuah peringatan yang mengerikan bagi siapa pun yang mengaku rohani.

Jawaban yang Mengguncang dan Menyederhanakan

Di tengah niat jahat itu, Yesus menjawab dengan sebuah kejelasan yang menyejukkan dan sekaligus menantang: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40)

Jawaban ini luar biasa. Yesus tidak terjebak dalam debat, tetapi merangkum seluruh semangat dan tujuan dari 613 perintah itu hanya dalam dua prinsip: Cinta Vertikal (kepada Allah) dan Cinta Horizontal (kepada sesama).

Mengasihi Allah: Cinta yang Utuh dan Tidak Setengah-Setengah.
Yesus mengutip Shema (Ulangan 6:5), doa harian yang sangat dikenal setiap orang Yahudi. Tapi perhatikan: Ia mengganti kata “kekuatan” dengan “akal budi”. Ini menekankan bahwa mengasihi Allah harus melibatkan seluruh keberadaan kita—hati (emosi, kehendak), jiwa (intisari hidup), dan akal budi (pikiran, intelektual). Bukan cinta yang seolah-olah atau sekadarnya. Tuhan, seperti dalam Wahyu 3:16, menolak cinta yang suam-suam kuku. Ia menginginkan cinta yang total, yang siap berkorban, bahkan terluka—seperti yang Kristus sendiri tunjukkan di kayu salib.

Mengasihi Sesama: Cinta yang Spesifik dan Nyata.
Hukum kedua ini “sama dengan” yang pertama. Keduanya bagaikan dua engsel pada satu pintu; jika satu lepas, pintu iman kita tidak akan berfungsi. Mengasihi sesama bukan slogan, tetapi tindakan yang konkret dan sering kali tidak nyaman. Yesus merujuk pada Imamat 19, yang menggambarkannya dengan sangat rinci: jangan memeras, bayar upah tepat waktu, jangan menyebar fitnah, jangan menyimpan dendam, perhatikan orang miskin dan asing, bahkan jangan mengejek orang tuli atau mencelakakan orang buta.

Intinya: “Apa yang kau mau orang lain lakukan kepadamu, lakukanlah juga kepada mereka.” Ini adalah standar emas yang menguji keotentikan cinta kita kepada Allah. Rasul Yohanes tegas: “Siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yohanes 4:20).

Pukulan Knockout dan Refleksi bagi Kita

Setelah jawaban yang membungkam itu, giliran Yesus yang bertanya. Ia menyerang asumsi utama mereka tentang Mesias: “Jika Daud menyebut Dia ‘Tuanku’, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” (Matius 22:45). Pertanyaan ini adalah pukulan KO. Mereka tidak bisa menjawab. Sejak hari itu, tidak ada lagi yang berani menanyai-Nya.

Apa yang bisa kita renungkan dari kisah ini?

Para pemuka agama itu marah dan ingin menjatuhkan Yesus karena kehadiran-Nya mengancam kenyamanan, ego, dan kepentingan mereka. Iman mereka telah berubah menjadi formalitas dan alat kekuasaan. Ketika iman kita berpusat pada diri sendiri—untuk pencitraan, kenyamanan, atau keuntungan—kita pun akan tersinggung dan menolak kebenaran yang menantang status quo kita.

Kisah ini adalah alarm rohani bagi kita semua:

Apakah kekristenan kita hanya sebatas rutinitas dan formalitas?

Apakah kita lebih fokus pada “tampilan” kesalehan daripada cinta yang tulus kepada Allah dan sesama?

Sudahkah kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi—atau masih setengah-setengah?

Bagaimana wujud kasih kita kepada sesama? Apakah masih sekadar memberi sedekah untuk meredam suara hati, atau benar-benar memperlakukan mereka seperti diri sendiri?

Hukum yang terutama ini bukan sekadar teori. Ini adalah fondasi. Ini adalah ukuran. Marilah kita kembali pada cinta yang sederhana namun radikal ini. Karena pada akhirnya, segala sesuatu—ibadah, pelayanan, doktrin—“tergantung” pada dua hukum ini. Mari kita berdoa memohon pertolongan Roh Kudus untuk hidup di dalamnya, setiap hari.

Pertanyaan Refleksi untuk Dibawa Pulang:
“Apakah aku benar-benar mengasihi Allahku dengan sepenuh hati? Dan apakah aku telah menghidupi hukum mengasihi sesama seperti diriku sendiri dalam tindakan nyata hari ini?”

 

Saksikan khotbah di Youtube