Ketika Tuhan Bilang “Cukup”, dan Kita Bilang “Sedikit Lagi”

Kita hidup di dunia yang terobsesi dengan “lebih”. Gaji harus lebih besar, rumah lebih luas, mobil lebih baru, tabungan lebih banyak. Tanpa sadar, kita terjebak dalam perlombaan tanpa garis finis. Lalu, Yesus datang dengan cerita yang—jujur saja—agak ngeri.

Sebuah Permintaan yang Salah Alamat

Suatu hari, seorang dari kerumunan datang kepada Yesus. “Guru, tolong suruh saudaraku berbagi warisan denganku!”

Permintaan yang wajar, kan? Masalah warisan memang sering bikin keluarga berantem. Tapi respons Yesus mengejutkan: “Saudara, siapakah yang mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Lalu Ia berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan.” (Lukas 12:14-15)

Yesus menolak jadi “hakim warisan”. Bukan karena Ia tak peduli, tapi karena Ia melihat penyakit yang lebih berbahaya: ketamakan.

Orang Kaya yang Bodoh

Seorang kaya punya tanah yang berlimpah hasil. Lumbungnya penuh sampai tak muat. Apa rencananya? “Aku akan merobohkan lumbungku dan mendirikan yang lebih besar, dan di sanalah akan kukumpulkan segala hasil dan barangku. Lalu kataku kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun ke depan; beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah!” (Lukas 12:18-19)

Logis, kan? Bisnisnya berkembang, ia merencanakan ekspansi. Ia hanya ingin memastikan masa depan yang nyaman. Tapi Tuhan punya respons yang mengejutkan: “Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu. Dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Lukas 12:20)

Bodoh. Kata yang keras. Kenapa? Karena orang ini mengira: Hidup ini tentang mengumpulkan. Keamanan ada pada hartanya. Ia punya kendali penuh atas hari esok

Ia lupa bahwa hidup adalah pinjaman. Dan kita tak pernah tahu kapan harus mengembalikannya.

Bukan Soal Uang, Tapi Soal Hati

Di sini banyak yang salah tangkap. Yesus tidak mengutuk kekayaan. Ia mengutuk ketamakan—mentalitas “sedikit lagi” yang tak pernah puas.

Seperti tokoh Martin dalam cerita Leo Tolstoy, How Much Land Does a Man Need? Martin punya 12 hektar, lalu 24 hektar, lalu 50 hektar, lalu 100 hektar. Setiap kali istrinya bilang, “Kita sudah cukup bahagia,” Martin selalu menjawab, “Sedikit lagi.” Akhirnya, ia mati kelelahan—dan hanya butuh 2 meter persegi untuk kuburannya.

Itulah ketamakan. Selera membesar, akan tetapi jiwa menyusut.

Dunia yang Mengajari Kita untuk “Memangsa”

Yesus bicara tentang ketamakan 2000 tahun lalu. Tapi dunia kita sekarang justru memuja ketamakan. CEO perusahaan minyak digaji miliaran, sementara masyarakat bergulat dengan harga BBM. Pemain bola di Inggris digaji 8 juta pound setahun, guru hanya 24.000 pound. Pekerja “penghibur” (artis, atlet) diagungkan, pekerja “pelayan” (guru, perawat, pendeta) dianggap pantas digaji kecil

Gordon Geko di film Wall Street bilang: “Serakah itu baik. Serakah itu sehat.”

Kita diam-diam percaya itu. Kita mengejar “lebih” karena takut jadi “kurang”. Kita kerja keras—tapi untuk apa? Untuk membayar gaya hidup yang terus membesar, atau untuk makna yang lebih dalam?

Belajar “Cukup” itu Proses Rohani

Rasul Paulus menulis: “Ibadah yang disertai rasa cukup, itu adalah keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu ke dalam dunia, dan kita juga tidak dapat membawa apa-apa ke luar.” (1 Timotius 6:6-7)

Belajar cukup adalah disiplin rohani. Bukan berarti kita berhenti berkembang, berhenti berusaha, atau miskin melarat. Tapi kita mengatur hati sebelum mengatur harta.

Cara praktis memulai: Buka lemari pakaianmu. Lihat, apa benar semua perlu? Jika ada lebih, mengapa tidak berbagi? Tanyakan sebelum beli: “Ini kebutuhan atau keinginan?” Ketika dapat rezeki lebih: Berlutut dan tanya, “Tuhan, ini untuk siapa?”

John Calvin pernah berkata: “Kehendak Allah adalah agar ada keseimbangan—tidak ada yang terlalu banyak, tidak ada yang terlalu sedikit. Yang punya lebih harus membagikan.”

Akar Segala Kejahatan

Akar segala kejahatan bukan uang, tapi cinta akan uang (1 Timotius 6:10). Dalam kisah Mahabharata, Bisma juga berkata: “Ketamakan adalah mata air beracun yang melahirkan dosa dan kejahatan.”

Dari ketamakan lahir: Kecemburuan, Penindasan, Kecurangan, dan kehidupan yang selalu gelisah. Yesus mengajak kita keluar dari siklus itu. Ia datang bukan untuk menghakimi pembagian warisan, tapi untuk menyembuhkan hati yang sakit akan “tamak”.

Penutup: Malam Ini Juga

Perumpamaan Yesus berakhir dengan kalimat menggetarkan: “Pada malam ini juga jiwamu akan diambil.”

Itu bukan ancaman, tapi realitas. Hidup kita singkat. Tak ada garansi kita ada besok. Pertanyaan-Nya tetap menggema: “Apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”

Kita boleh punya rencana, punya tabungan, punya investasi. Tapi jangan sampai harta kita menguasai hati kita. Jangan sampai kita seperti orang bodoh itu—kaya di dunia, tapi miskin di hadapan Allah.

Mari belajar cukup. Mari belajar berbagi. Karena pada akhirnya, yang kita bawa ke dalam kekekalan bukanlah harta, tapi hati yang pernah kita ubah—dan hidup yang pernah kita sentuh.


Saksikan khotbahnya di Youtube