Paskah Bukan Sekadar Kebangkitan: Kuasa Anak Domba Menghapus Segala Tangisan

Sebagai orang percaya, kita tahu Paskah adalah momen kemenangan. Maut, musuh terbesar umat manusia, telah dikalahkan oleh kebangkitan Yesus. Tapi, pernahkah kita merenungkan lebih dalam: “Lalu apa? Apa artinya kemenangan itu bagi hidup kita sehari-hari di dunia yang masih penuh kejahatan dan air mata ini?”

Renungan ini mengajak kita melihat Paskah dari lensa yang jarang kita gunakan: dari kitab Wahyu, khususnya penglihatan Yohanes tentang sebuah gulungan kitab yang termeterai dan sebuah Pengharapan yang mengubah segalanya.

Tangisan Yohanes di Pulau Patmos: Cermin Tangisan Kita

Di Wahyu pasal 5, Rasul Yohanes melihat sebuah penglihatan dahsyat. Di takhta surgawi, ada sebuah gulungan kitab yang dimeterai dengan tujuh meterai. Seorang malaikat berseru, “Siapakah yang layak membuka gulungan kitab ini?”

Tidak ada seorang pun.

Baik di surga, di bumi, maupun di bawah bumi. Tidak ada yang layak membuka, membaca, atau melihat isi gulungan itu. Respons Yohanes begitu manusiawi dan mendalam: ia menangis tersedu-sedu (Wahyu 5:4).

Mengapa ia menangis? Gulungan kitab itu melambangkan sejarah, nasib, dan cerita umat manusia — dari awal penciptaan hingga akhirnya. Gulungan yang termeterai itu menggambarkan sejarah yang belum selesai, cerita yang tidak ada akhirnya, masalah yang tidak terselesaikan.

Tangisan Yohanes adalah tangisan setiap manusia yang memiliki hati nurani, yang melihat:

Ketidakadilan yang merajalela.

Polarisasi “kita vs. mereka” yang mengoyak-ngoyak persekutuan.

Kejahatan yang terus berulang dalam sejarah, dari rezim Hitler yang didukung gereja pada masanya, hingga konflik-konflik modern.

Kenyataan pahit bahwa potensi untuk menjadi “penjahat” atau “pelaku ketidakadilan” itu ada dalam diri kita semua. Seperti kata Paulus, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24).

Kita pun sering menangis di dalam hati. Menangis melihat kondisi bangsa, ketimpangan sosial, atau keganasan di media sosial. Tangisan itu adalah pengakuan: kita tidak mampu menyelesaikan masalah terdalam kemanusiaan.

Jangan Menangis! Singa dari Suku Yehuda Telah Menang!

Di tengah tangisan itu, terdengar suara penghiburan dari seorang tua-tua di surga: “Jangan menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang…” (Wahyu 5:5).

Inilah inti Paskah! Yesus, Sang Singa, telah menang atas maut. Kemenangan-Nya di Kayu Salib dan Kebangkitan-Nya adalah kemenangan yang definitif. Karena itu, Dia layak—satu-satunya yang layak—untuk membuka gulungan kitab sejarah manusia dan memberikan akhir cerita yang benar.

Namun, ada detail yang sangat indah. Ketika Yohanes menengok untuk melihat Sang Singa itu, yang ia lihat adalah…
Seekor Anak Domba yang tampak seperti telah disembelih (Wahyu 5:6).

Kemenangan itu bukan diraih dengan cakar dan taring seperti singa, tetapi dengan pengorbanan dan kasih seperti Anak Domba. Kematian-Nya bukanlah kekalahan; kebangkitan-Nya bukan ilusi. Anak Domba yang disembelih itu sendiri telah menang.

Arti Paskah bagi Kita: Kuasa Anak Domba di Tengah Dunia yang Berantakan

Inilah arti Paskah yang mengubah hidup kita:

Tangisan Kita Tidak Sia-Sia. Karena Anak Domba telah menang, setiap air mata yang kita teteskan untuk kebenaran, keadilan, dan kasih akan diperhitungkan dan pada akhirnya akan dihapus. Perjuangan kita melawan ketidakadilan, se kecil apapun, memiliki makna abadi karena menjadi bagian dari narasi besar yang sedang Tuhan selesaikan.

Kita Diberi Kekuatan untuk Melakukan yang Benar. Paskah memberi kita motivasi yang bukan berasal dari diri sendiri. Jika Yesus tidak menang, lebih baik kita berfoya-foya saja. Tapi karena Dia menang dan akan menyimpulkan sejarah dengan adil, kita digerakkan oleh pengharapan untuk “melakukan kebenaran hari ini”.

Kita Memegang ‘Kuasa Anak Domba’ (The Power of the Lamb). Kebangkitan Yesus mengalirkan kuasa yang paradoks dan lebih kuat dari segala kuasa dunia:

  • Cinta lebih kuat daripada kebencian (Love stronger than hate).
  • Rekonsiliasi lebih kuat daripada perpecahan (Reconciliation stronger than strife).
  • Pengampunan lebih kuat daripada dosa (Forgiveness stronger than sin).
  • Sukacita lebih kuat daripada dukacita (Joy stronger than sorrow).
  • Damai lebih kuat daripada kekerasan (Peace stronger than violence).
  • Pengharapan lebih kuat daripada keputusasaan (Hope stronger than despair).
  • Kehidupan lebih kuat daripada kematian (Life stronger than death).

Kuasa inilah yang memampukan kita untuk pergi ke “tempat-tempat yang terabaikan”, menjangkau mereka yang berada di “lembah bayang-bayang maut”, dan hidup sebagai agen rekonsiliasi di tengah polarisasi. Kita mungkin dianggap aneh, tetapi kita menunjukkan The Power of the Lamb.

Kesimpulan: Kebanggaan Kita yang Sejati

Paskah menggeser pusat kebanggaan kita. Bukan pada nama kita yang termasyhur, atau kesuksesan duniawi kita. Kebanggaan dan kemenangan kita yang sejati adalah ketika kita, bersama-sama dengan segala makhluk dan tua-tua di surga, suatu hari nanti bersujud memuji Anak Domba yang telah menang itu.

Kita akan ikut dalam paduan suara kekal yang menyanyikan kidung baru: “Engkau layak… karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah…” (Wahyu 5:9).

Itulah akhir dari semua tangisan. Itulah buah dari kemenangan Paskah. Yesus sudah bangkit. Anak Domba telah menang. Karena itu, mari hidup hari ini dengan penuh pengharapan dan keberanian, menjalankan kuasa kasih-Nya di setiap sudut gelap dunia yang merindukan terang.