Suara Tuhan di Tengah Dunia yang Kacau: Renungan Yesaya 11 di Zaman Algoritma

Dunia kita hari ini penuh dengan suara. Notifikasi, breaking news, FYP, reels, dan rekomendasi yang seolah tak pernah berhenti. Kita merasa memilih apa yang kita tonton dan dengar, padahal sering kali pilihan itu sudah ditentukan oleh algoritma. Di tengah kebisingan seperti ini, muncul pertanyaan yang sangat mendasar: suara siapa yang sebenarnya kita dengarkan?

Kitab Yesaya pasal 11 membawa kita pada sebuah kontras yang tajam. Setelah rangkaian nubuat tentang kehancuran dan kekacauan, tiba-tiba muncul gambaran yang nyaris terasa seperti dongeng: serigala tinggal bersama domba, singa makan jerami, dan anak kecil bermain dekat ular berbisa. Gambaran ini lahir bukan di masa damai, melainkan justru ketika Israel berada dalam kehancuran total—kerajaan runtuh, raja-raja ditawan, dan masa depan tampak gelap. Namun justru di situlah Tuhan menyatakan pesan pengharapan-Nya.

Pengharapan yang Datang dari Tempat yang Tepat

Yesaya 11 tidak sedang mengajak kita menyangkal realitas. Dunia memang kacau. Ketidakadilan, ketakutan, krisis ekonomi, dan konflik sosial adalah fakta yang kita lihat setiap hari. Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa ada realitas lain yang sering luput dari perhatian kita—realitas yang hanya bisa didengar jika kita mau memberi telinga pada Tuhan.

Pengharapan tidak lahir dari optimisme kosong atau motivasi instan. Pengharapan sejati lahir ketika kita mendengar suara Tuhan, bukan sekadar suara dunia. Tuhan menyampaikan firman ini kepada Yesaya bukan sebagai hiburan sementara, melainkan sebagai kebenaran yang teguh: Tuhan tetap berdaulat, dan rencana-Nya tidak dibatalkan oleh kekacauan manusia.

Algoritma Menguasai Dunia, Tapi Tidak Menguasai Kebenaran

Kita hidup di zaman di mana informasi dikendalikan oleh algoritma. Apa yang kita lihat di media sosial bukanlah gambaran utuh tentang dunia, melainkan potongan-potongan yang dipilihkan untuk membuat kita tinggal lebih lama, marah lebih lama, atau takut lebih lama. Yang viral bukan selalu yang benar, yang baik, atau yang memulihkan.

Masalahnya, ketika kita terus-menerus mengonsumsi suara seperti ini, tanpa sadar cara kita memandang hidup ikut dibentuk olehnya. Kita menjadi cemas, sinis, dan kehilangan harapan.

Firman Tuhan mengajak kita melakukan sesuatu yang radikal tetapi sangat sederhana: menyerahkan kembali kendali hidup kita kepada Tuhan. Bukan kepada algoritma. Bukan kepada arus opini. Melainkan kepada suara Tuhan yang tulus, tanpa agenda tersembunyi.

Tuhan yang Tidak Punya Agenda

Salah satu pesan terkuat yang mau disampaikan dari renungan ini adalah ketulusan Tuhan. Tuhan tidak berbicara dengan maksud tersembunyi. Ketika Ia berkata, “Aku mengasihi engkau,” itu bukan strategi, bukan manipulasi, dan bukan transaksi. Tuhan tidak punya agenda lain selain kebaikan kita.

Inilah yang membedakan suara Tuhan dari banyak suara lain di dunia. Manusia bisa berpura-pura menghibur. Media bisa menjual harapan palsu. Tetapi Tuhan memberikan penghiburan yang sejati karena Ia sungguh hadir—Imanuel, Allah yang menyertai kita.

Mendengar dan Didengar

Ironisnya, di zaman ketika semua orang ingin bicara, kita justru kehilangan kemampuan untuk mendengar. Kita ingin curhat, tetapi takut disalahpahami atau dicurigai punya agenda. Di sinilah Tuhan kembali menawarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: Tuhan selalu mendengarkan dengan telinga yang terbuka.

Sebelum kita berbicara kepada siapa pun, kita diajak untuk berbicara kepada Tuhan. Banyak orang mengira masalah utama mereka adalah uang, kesepian, atau keadaan. Padahal akar masalahnya sering kali satu: mereka berhenti berbicara dengan Tuhan.

Ketika kita kembali membangun keintiman dengan Tuhan—mendengar suara-Nya dan berbicara kepada-Nya—pengharapan itu perlahan dipulihkan.

Suara Tuhan adalah Suara Pengharapan

Yesaya 11 mungkin terdengar seperti utopia. Tetapi justru itulah realitas yang Tuhan ingin tanamkan di hati umat-Nya. Di tengah dunia yang bising dan kacau, suara Tuhan tetap menjadi voice of comfort and assurance—suara yang menenangkan, menguatkan, dan memberi arah.

Karena itu, jangan mencari suara lain. Dekatlah dengan Tuhan. Serahkan kendali hidup kepada-Nya. Dan di sanalah kita menemukan pengharapan yang tidak mudah goyah.


Saksikan video khotbah di Youtube