The New Year of Joy: Tahun Menetapkan Standar Tuhan

Ketika merenungkan firman untuk tahun 2026, satu rhema yang kuat muncul: The Year of Establishing the Standard — tahun di mana Tuhan menetapkan kembali standar-Nya atas umat-Nya.

Mendengar kata standar Tuhan sering kali terasa menegangkan. Seolah-olah Tuhan sedang memperketat aturan. Namun kita perlu ingat satu hal penting: kekudusan dan kasih karunia adalah satu paket.

Karena kasih karunia kita yang berdosa dibenarkan, yang hidup sembarangan ditata kembali, yang jauh dibawa mendekat.

Standar Tuhan selalu dimulai dari kasih karunia. Tanpa kasih karunia, kita tidak akan pernah sanggup kembali kepada tatanan-Nya.

Yesus datang ke Betlehem dan mati di Golgota bukan sekadar memberi pengampunan, tetapi mengembalikan kita pada tatanan Allah. Dan tatanan itu dimulai dari kasih karunia.

Outrageous grace leads to outrageous obedience. Kasih karunia yang “gila-gilaan” melahirkan ketaatan yang total.

Yeremia 31: Sukacita di Tengah Puing-Puing

Kalau membaca seluruh Kitab Yeremia, kita akan menemukan banyak ratapan, hukuman, dan peringatan. Tidak heran Yeremia sering disebut nabi ratapan.

Namun pasal 31 adalah cahaya di tengah gelap.

Janji ini diberikan bukan saat Israel berjaya. Bukan juga di saat raja mereka takut akan Tuhan. Bukan di saat ekonomi stabil.

Sebaliknya janji ini diberikan saat kota-kota mereka dihancurkan, seluruh bangsa dibawa ke pembuangan, kepemimpinan kacau balau, dan masa depan tampak suram.

Dan justru dalam kondisi seperti itu Tuhan berkata: “Bersorak-soraklah!”

Sukacita yang Alkitabiah bukan denial terhadap situasi. Sebaliknya, sukacita itu lahir dari kesadaran bahwa Tuhan tidak berubah.

Ketaatan: Kunci Sukacita

Ada satu kata kunci yang terus berulang: taat.

Sukacita bukan bergantung pada situasi. Sukacita bergantung pada ketaatan.

Kalau kita taat Tuhan membuka jalan. Ketika kita taat, Tuhan memulihkan kehormatan. Dan ketika ketaatan bangsa Israel berikan, Tuhan akan mengumpulkan yang terserak. Tuhan akan mengganti ratapan menjadi tarian.

Kalau tidak taat? Tahun ini akan sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya.

Taat Itu Tidak Nyaman

Manusia pada dasarnya egois. Kita tidak suka diatur. Begitu ada aturan, wajah bisa berubah.

Namun jauh di dalam hati, manusia tahu bahwa tanpa tatanan, kita menghancurkan diri sendiri.

Disiplin tidak pernah merugikan. Bangun pagi, hidup sehat, dan disiplin rohani tidak pernah merugikan. Mengapa sulit melakukannya? Karena kita lebih memilih kenyamanan sesaat daripada berkat jangka panjang.

Dengan Tuhan pun sama. Ketaatan melahirkan disiplin. Disiplin melahirkan pemulihan.

Dari Utara Datang Pemulihan

Tuhan berkata: “Sesungguhnya Aku akan membawa mereka dari tanah utara…”

Bagi Israel, utara adalah arah yang menakutkan. Musuh dan ancaman datang dari sana. Namun Tuhan berkata: Tempat yang dulu menjadi sumber ketakutan akan menjadi sumber pemulihan.

Apa artinya bagi kita? Luka bisa menjadi berkat. Trauma bisa menjadi kesaksian. Kegagalan bisa menjadi fondasi pelayanan. Air mata bisa menjadi mata air.

Ratapan yang membawa kita kepada Tuhan akan diubah menjadi sumber kehidupan.

Healing yang Sejati

Banyak orang mencari healing ke mana-mana. Tuhan berkata sederhana: “Datanglah kepada-Ku.”

Burned out? Trauma? Iman goyah? Lelah melayani? Datang kepada Tuhan. Matikan distraksi. Sediakan waktu khusus. Berdiam di hadapan-Nya.

Pemulihan bukan terjadi karena suasana, tapi karena hadirat Tuhan.

Gereja: Komunitas bagi yang Pulang dengan Tertatih

Yeremia 31 menyebut: Yang buta. Yang lumpuh. Yang hamil. Yang lemah. Semua dibawa pulang. Itulah gambaran gereja yang Tuhan rindukan.

Gereja bukan tempat orang sempurna. Gereja adalah komunitas bagi yang pulang dengan tertatih.

Tempat yang aman bagi: Yang gagal. Yang menangis. Yang ingin bangkit. Yang mau bertobat.

Kita tidak menghakimi, karena kita pun pernah gagal.

Kita tidak meninggalkan, karena kita pun pernah dipulihkan.

Gereja yang sehat percaya bahwa Tuhan masih bekerja di tengah puing-puing.

Jangan Jadi Industri, Jadilah Garam dan Terang

Kita hidup di zaman ketika gereja bisa menjadi industri. Semua bisa dikemas. Semua bisa diproduksi.

Namun panggilan gereja bukan menjadi populer. Panggilan gereja adalah menjadi garam dan terang.

Garam tidak terlihat, tetapi terasa. Terang mungkin kecil, tetapi mengusir gelap.

Kita tidak dipanggil untuk fit in dengan dunia. Kita dipanggil untuk menetapkan standar Tuhan.

Standar itu adalah: Kebenaran tetap kebenaran. Dosa tetap dosa. Kasih karunia tetap kasih karunia.

Taat Ketika Diberkati

Taat saat susah itu sulit. Taat saat diberkati bisa lebih sulit lagi.

Ketika doa belum dijawab, kita berdoa keras. Ketika doa dijawab, kita mulai longgar.

Padahal justru saat diberkati kita harus lebih taat. Semakin taat, semakin dahsyat. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan bekerja.

Di depan Laut Merah, Israel tidak bisa apa-apa. Mereka pasrah total. Dan mukjizat terjadi.

Level pasrah kita harus seperti itu: Kalau Tuhan tidak tolong, selesai. Dan ketika Tuhan bekerja, hasilnya selalu melampaui logika.

Tahun Sukacita Dimulai dari Ratapan

Ratapan yang benar adalah: Ratapan karena tidak taat. Ratapan karena hidup tidak memuliakan Tuhan. Ratapan yang membawa pertobatan. Ratapan seperti ini akan melahirkan sukacita.

Tuhan berjanji bahwa perkabungan menjadi kegirangan. Air mata menjadi mata air. Yang terserak dikumpulkan. Yang tertatih dipulihkan.

Tahun 2026 bukan otomatis menjadi tahun sukacita. Ini akan menjadi tahun sukacita bagi mereka yang mau taat.

Mission Continues

Di luar sana banyak orang: Buta tetapi tidak sadar. Lumpuh tetapi merasa baik-baik saja. Hidup dalam dosa tetapi tidak ditegur.

Kita dipanggil mencari mereka. Cari yang tertatih. Cari yang menangis. Cari yang hampir menyerah.

Bawa mereka kepada Tuhan. Karena kasih setia Tuhan tak berkesudahan. Ratapan bisa menjadi tarian. Air mata bisa menjadi mata air. Yang terserak bisa dipulangkan.

Dan semuanya dimulai dari satu kata sederhana: Taat.


Saksikan video kotbah di Youtube