Dalam kesendirian dan keterasingan di Pulau Patmos, Rasul Yohanes diberikan penglihatan yang luar biasa tentang realitas ilahi yang melampaui penderitaannya. Di tengah pembukaan meterai-meterai penghakiman yang menyeramkan, sebuah visi penuh pengharapan dinyatakan: “Suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Wahyu 7:9).
Mereka berdiri di hadapan Takhta dan Anak Domba, berpakaian jubah putih dan memegang daun-daun palem. Teriakan mereka menggema: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Wahyu 7:10).
Penglihatan ini bukan sekadar gambaran akhir zaman. Ini adalah penegasan identitas dan penghiburan ilahi bagi setiap orang percaya yang merasa sendiri, tidak berarti, atau tengah berjuang di jalan yang berat.
Kita Tidak Pernah Sendirian: The Great Multitude
Ketika Abraham dipanggil, Tuhan berjanji keturunannya akan seperti pasir di laut dan bintang di langit. Janji itu adalah gambaran dari kumpulan besar orang percaya ini. Kita mungkin merasa nobody di dunia ini, merasa kecil saat memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Namun, Alkitab menegaskan: kita adalah bagian dari komunitas ilahi yang tak terhitung.
Gengsi kita bukan diukur oleh kekayaan, jabatan, atau pengakuan dunia. Gengsi sejati kita adalah kepercayaan kita dan tempat kita di dalam kumpulan besar orang-orang yang ditebus ini. Kita tidak pernah benar-benar sendiri.
Makna Simbolis: Jubah Putih dan Daun Palem
Jubah Putih melambangkan: Kemuliaan (seperti pada Yesus di transfigurasi). Kebangkitan dan hidup baru. Keselamatan (Wahyu 3:5, 18). Kekudusan dan kebenaran. Jubah putih menandai identitas mereka: orang-orang yang telah dikuduskan, dibenarkan, dan dimuliakan.
Daun-daun Palem adalah simbol kemenangan abadi. Ini adalah gambaran final dari orang-orang yang telah “mengatasi” (overcomers) melalui iman mereka.
Lalu, muncul pertanyaan kritis: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?” (Wahyu 7:13). Pertanyaan ini harus menggema dalam hati kita: Apakah saya akan ada di sana? Jawabannya terletak pada dua syarat berikut ini.
Dua Syarat untuk Berada di Kumpulan Tersebut
Jawabannya jelas: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.” (Wahyu 7:14).
1. Keluar dari Kesusahan Besar (The Great Tribulation)
Ini bukan sekadar kesulitan finansial atau masalah hidup biasa. “Kesusahan besar” di sini merujuk pada penderitaan, kesukaran, dan aniaya yang dialami karena tetap berpegang pada kebenaran dan iman.
Ini adalah pilihan untuk tetap berdiri di atas kebenaran meski harganya mahal, untuk memegang salib meski itu berarti ditolak dunia. Jalan menuju kekekalan adalah “jalan kesusahan”—bukan karena Tuhan kejam, tetapi karena dunia yang berdusta membenci kebenaran (Yohanes 15:18-19).
Namun, penting dibedakan: Kesusahan karena kebenaran berbeda dengan kesusahan karena kebodohan atau kemalasan kita sendiri. Sebagai orang percaya, kita diberi tubuh, akal, keluarga, dan komunitas (gereja) untuk bekerja keras, belajar, dan saling menopang. Kita seharusnya tidak “susah” dalam arti miskin dan terisolasi karena kelalaian kita. Kesusahan sejati yang dimaksud adalah ketika kita memilih nilai-nilai Kerajaan Surga (kejujuran, kerendahan hati, kemurahan) yang bertentangan dengan nilai dunia (gengsi, ego, materialism).
Trophy orang percaya bukanlah harta atau status, melainkan jiwa-jiwa yang disentuh dan ditebus, keadilan yang ditegakkan, dan kemuliaan Tuhan yang dinyatakan melalui penggunaan sumber daya kita.
2. Mencuci Jubah dalam Darah Anak Domba
Ini adalah fondasi yang tak tergantikan: Menerima penebusan Yesus Kristus. Seberapa keras pun kita berjuang hidup benar, kita tidak akan pernah cukup suci. Hanya darah Yesus, Anak Domba Allah, yang dapat menyucikan dan memutihkan jubah kehidupan kita.
Kedua syarat ini adalah satu paket yang tak terpisahkan. Penebusan oleh darah Yesus harus menghasilkan kehidupan yang berjalan di “jalan kesusahan” karena kebenaran. Iman yang sejati akan terlihat dalam pilihan nilai hidup yang berbeda dengan dunia.
Surga: Bukan Hanya Janji Nanti, Tapi Kekuatan Sekarang
Inilah puncak penghiburan: “Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi… Anak Domba… akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” (Wahyu 7:16-17).
Inilah kelimpahan dan berkat sejati yang kita kejar. Bukan harta yang fana, tetapi kepenuhan dan pemeliharaan abadi di hadirat Tuhan.
Yang paling menguatkan adalah ini: Surga bukan hanya janji untuk nanti (bye and bye), tetapi realitas untuk di sini dan sekarang (here and now). Ketika kita hidup dengan nilai-nilai surga, melewati “jalan kesusahan” karena Kristus, dan berjalan dalam penebusan-Nya, surga sudah menjadi realitas kita.
Setiap kali kita menggunakan uang, waktu, dan talenta kita sesuai cara surga—untuk kemuliaan Tuhan dan menolong sesama—kita sedang mengalami realitas surga. Surga adalah kekuatan kita sekarang. Di tengah tantangan, kita ingat: perjuangan kita tidak sia-sia. Kesusahan karena kebenaran adalah pintu masuk ke dalam pengalaman surga yang nyata hari ini.
Doa:
Tuhan, tolong kami untuk hidup sungguh-sungguh di dalam kebenaran-Mu. Saat kami memilih jalan yang tidak populer dunia karena setia kepada-Mu, kuatkan kami dengan realitas surga. Ingatkan kami bahwa penyucian oleh darah Yesus harus berjalan beriringan dengan kehidupan yang memikul salib. Jadikan surga bukan hanya tujuan, tetapi kekuatan dan realitas kami setiap hari. Dalam nama Yesus, Amin.
Saksikan khotbah di Youtube



