Dari Banuarea ke Paris: Kisah Naya Mengejar Mimpi Menjadi Travel Blogger

Gadis muda menulis menggunakan laptop di kamar sambil mengejar mimpi menjadi travel blogger

 

Jalan Kecil Menuju Dunia yang Lebih Besar

Naya selalu percaya bahwa dunia jauh lebih besar daripada desanya.

Ia tinggal di Banuarea, sebuah desa kecil di Kecamatan Pakkat, Sumatera Utara. Di sana, pagi datang bersama kabut tipis, suara burung, dan aroma kopi yang kadang terbawa angin dari kebun-kebun di sekitar rumah.

Bagi sebagian orang, Banuarea mungkin terasa seperti tempat yang terlalu jauh dari mana-mana. Bagi Naya, justru sebaliknya.

Itulah rumah. Di sanalah ia belajar berjalan, membaca, jatuh dari sepeda, bertengkar dengan sahabatnya, dan bermimpi tentang tempat-tempat yang bahkan belum pernah ia lihat.

Sejak kecil, Naya suka membaca cerita perjalanan. Jika menemukan majalah bekas, ia akan membacanya sampai halaman terakhir. Jika mendapatkan akses internet, ia mencari foto kota-kota di berbagai negara.

Paris adalah salah satunya. Ia tidak tahu persis mengapa Paris begitu menarik baginya. Mungkin karena gambar Menara Eiffel. Mungkin karena jalan-jalan tua dan kafe kecil yang sering muncul dalam foto. Atau mungkin karena Paris terdengar seperti nama tempat yang hanya bisa dikunjungi orang lain.

Suatu sore, Naya duduk bersama sahabatnya, Lila, di pinggir lapangan desa.
“Aku mau jadi travel blogger,” katanya tiba-tiba.

Lila menoleh.
“Travel blogger?”
“Iya.”
“Mau keliling dunia?”
Naya mengangguk.
“Kalau punya uang.”

Lila tertawa.
“Kalau belum punya?”
Naya ikut tertawa.
“Ya, mulai dari tempat yang bisa dijangkau.”

Mereka tidak tahu saat itu, tetapi kalimat sederhana tersebut kelak menjadi awal perjalanan panjang Naya.


Mimpi yang Tidak Semua Orang Pahami

Naya mulai menulis ketika duduk di bangku sekolah. Ia menggunakan telepon genggam sederhana untuk memotret tempat-tempat di sekitar desanya.

Ia menulis tentang sungai. Tentang pasar. Tentang jalan berlumpur setelah hujan. Tentang seorang ibu penjual gorengan yang selalu tersenyum kepada pembeli. Ia bahkan pernah menulis cerita tentang perjalanan naik bus ke kecamatan yang menurutnya terasa seperti petualangan besar.

Tulisan-tulisan itu sederhana. Tidak banyak yang membaca. Namun Naya terus menulis.

“Apa gunanya?” tanya Dodi, kakaknya, suatu malam.
Naya mengangkat bahu.
“Aku suka.”
“Kalau suka, terus mau jadi apa?”
“Penulis.”
Dodi tertawa kecil.
“Memangnya penulis bisa hidup?”

Pertanyaan itu membuat Naya diam. Ia tidak tahu jawabannya. Namun ia tahu satu hal. Ia tidak ingin berhenti hanya karena belum mengetahui bagaimana akhirnya.

Kemudian kesempatan datang dalam bentuk yang tidak pernah ia duga. Naya menemukan informasi tentang beasiswa untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta.

Ia membaca pengumuman itu berkali-kali. Yogyakarta. Kota yang selama ini hanya ia kenal dari buku, internet, dan cerita orang.

Jauh.
Sangat jauh.
Namun mungkin.

Naya mendaftar.


Tiket Pertama dalam Hidupnya

Proses seleksi beasiswa ternyata tidak mudah. Naya harus mengikuti berbagai tahapan. Ia belajar lebih keras. Ia menulis esai sampai berkali-kali. Ia meminta gurunya memeriksa tulisannya. Ia bahkan menempelkan jadwal belajar di dinding kamar.

Pagi untuk sekolah.
Sore membantu orang tua.
Malam untuk belajar.
Dan jika masih punya tenaga, menulis.

Lila sering datang dan menemukan Naya masih duduk di depan laptop menjelang tengah malam.
“Kamu belum tidur?”
“Sebentar lagi.”
“Kamu bilang begitu satu jam lalu.”
Naya tersenyum.
“Aku sedang mengejar sesuatu.”
“Apa?”
Naya menatap layar.
“Masa depan.”

Beberapa minggu kemudian, pengumuman beasiswa keluar. Naya membuka laman pengumuman dengan tangan gemetar. Ia mencari namanya.

Sekali.
Dua kali.
Kemudian ia menemukannya.

Naya Putri — penerima beasiswa.

Ia menutup mulut dengan kedua tangan.
“Bu!”

Ibunya datang dari dapur.
“Ada apa?”

Naya menunjukkan layar laptop.
Ibunya membaca.
Lalu memeluknya.

Tidak ada kata-kata untuk beberapa saat.

Ayahnya yang mendengar keributan itu hanya berdiri di pintu.
“Jadi kamu benar-benar akan pergi?”
Naya mengangguk.
Ayahnya tersenyum.
“Kalau begitu, pergilah.”

Itulah tiket pertama dalam hidup Naya. Bukan tiket pesawat. Bukan tiket menuju Paris. Melainkan tiket menuju kemungkinan.


Yogyakarta dan Dunia yang Baru

Yogyakarta membuat Naya merasa kecil. Bukan karena kota itu tidak ramah. Justru karena begitu banyak hal yang belum ia ketahui.

Di kampus, ia bertemu mahasiswa dari berbagai daerah. Ada yang pandai berbicara. Ada yang aktif dalam organisasi. Ada yang sudah memiliki pengalaman menulis. Ada pula yang sejak kecil terbiasa bepergian ke berbagai kota.

Naya sempat minder. Namun kemudian ia bertemu Arga.

Arga adalah mahasiswa yang gemar fotografi dan punya kamera yang selalu dibawanya ke mana-mana.
“Kamu suka menulis?” tanyanya.
“Iya.”
“Suka jalan-jalan?”
“Sangat.”

Arga tersenyum.
“Berarti kita punya masalah yang sama.”
“Masalah?”
“Uang.”

Naya tertawa.

Persahabatan mereka dimulai dari candaan sederhana itu. Mereka kemudian membuat blog perjalanan kecil-kecilan. Arga mengambil foto. Naya menulis. Karena tidak punya banyak uang, mereka bepergian dengan cara sederhana.

Naik bus.
Naik kereta.
Berjalan kaki.

Kadang-kadang mereka hanya mencari tempat menarik di sekitar Yogyakarta. Namun Naya mulai memahami sesuatu. Menjadi travel blogger tidak selalu berarti pergi ke tempat mahal. Perjalanan bisa ditemukan di mana saja. Yang penting adalah bagaimana seseorang melihatnya.

Tulisan Naya pun semakin baik. Ia mulai mengirimkan artikel ke media online. Beberapa diterima. Lebih banyak yang ditolak. Namun setiap penolakan membuatnya belajar.

Ia memperbaiki judul. Memperbaiki pembukaan. Belajar melakukan riset. Belajar mengambil foto. Belajar membuat cerita yang membuat pembaca merasa ikut berjalan bersamanya.

Pelan-pelan, namanya mulai dikenal. Tetapi tidak semua orang senang melihatnya berkembang.


Dimas dan Kalimat yang Membuatnya Ragu

Dimas adalah mahasiswa yang sudah lebih dulu dikenal sebagai penulis di kampus. Ia sering memenangkan lomba. Tulisannya dimuat di berbagai media. Banyak orang mengaguminya. Naya juga. Namun Dimas tidak terlalu menyukai pendatang baru.

Suatu sore, ia melihat Naya sedang mengedit tulisan di perpustakaan.
“Masih menulis tentang perjalanan?” tanyanya.
Naya mengangguk.
“Bagus.”

Dimas tersenyum tipis.
“Tapi kamu mau jadi travel blogger?”
“Iya.”
“Kamu harus sering bepergian.”
Naya diam.

Dimas melanjutkan.
“Kalau modalnya cuma naik bus keliling Yogyakarta, apa yang mau kamu ceritakan?”
Naya menatap layar laptop.
“Aku bisa menceritakan apa yang aku lihat.”
“Semoga ada yang mau membaca.”

Dimas pergi. Kalimat itu sederhana. Namun malam itu, Naya kehilangan semangat. Ia membuka blognya. Kemudian melihat tulisan-tulisannya sendiri.

Tiba-tiba semuanya terlihat biasa. Mungkin Dimas benar. Mungkin mimpinya terlalu besar. Mungkin seorang gadis dari Banuarea memang tidak seharusnya bermimpi menjadi travel blogger.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, Naya hampir menyerah.


Satu Tulisan Terakhir

Beberapa hari kemudian, Arga datang membawa sebuah pengumuman.
“Na, lihat ini.”
Naya membaca layar ponselnya.

Sebuah media perjalanan nasional sedang mengadakan Kompetisi Travel Writing Nusantara. Kompetisi itu mengangkat tema: “Perjalanan yang Mengubah Kita.”

Pemenangnya akan mendapatkan penghargaan, publikasi karya, dan hadiah perjalanan ke Paris untuk menulis kisah perjalanan khusus.

Naya tertawa kecil.
“Paris?”
Arga mengangguk.
“Paris.”

Naya teringat percakapannya dengan Lila bertahun-tahun lalu.
Jangan lupa kirim kartu pos dari Paris.

“Coba saja,” kata Arga.
Naya menggeleng.
“Aku belum tentu menang.”
“Memangnya harus menang untuk menulis?”

Naya terdiam. Kalimat itu mengingatkannya pada sesuatu. Ia menulis bukan karena ingin menang. Ia menulis karena memang ingin bercerita.

Malam itu, Naya mulai menulis. Ia tidak memilih tempat wisata terkenal. Ia memilih sesuatu yang paling ia kenal.

Rumah.
Desa.
Keluarga.
Perjalanan meninggalkan Banuarea.

Ia menulis tentang ibunya yang memasukkan uang ke dalam tas tanpa mengatakan apa-apa.
Tentang ayahnya yang memperbaiki koper tua sebelum keberangkatannya.
Tentang Lila yang menangis di terminal.
Tentang perjalanan panjang menuju Yogyakarta.
Dan tentang rasa takut ketika pertama kali menyadari bahwa mimpinya mungkin lebih besar daripada dirinya sendiri.

Ia memberi judul tulisan itu: “Jalan Pulang yang Selalu Menunggu.”

Setelah selesai, ia membacanya sekali lagi. Kemudian mengirimkannya.


Ketika Keraguan Berubah Menjadi Air Mata

Dua minggu berlalu. Tidak ada kabar. Naya mulai melupakan lomba itu.

Suatu siang, ia sedang duduk di perpustakaan ketika sebuah notifikasi muncul.

Sebuah email. Naya membukanya. Ia membaca kalimat pertama. Kemudian berhenti. Ia membaca lagi. Tangannya mulai gemetar.
“Arga!”
Beberapa mahasiswa menoleh.
Arga datang tergesa-gesa.
“Ada apa?”

Naya tidak menjawab. Ia menyerahkan laptopnya. Arga membaca. Matanya membesar.
“Kamu menang?”

Naya mengangguk.

Arga memeluknya.

Naya tertawa. Lalu menangis. Ia tidak menangis karena Paris.

Ia menangis karena tiba-tiba semua malam panjang, semua penolakan, semua keraguan, dan semua kalimat yang pernah membuatnya merasa kecil seolah menemukan jawabannya.

Tidak lama kemudian, Dimas datang. Ia membaca pengumuman itu. Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa-apa.
“Selamat, Na,” katanya akhirnya.

Naya tersenyum.
“Terima kasih.”
Dimas mengangguk.
“Tulisanmu memang bagus.”

Kali ini, Naya tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun. Ia hanya tersenyum. Karena ternyata, perjalanan menuju mimpi tidak selalu membutuhkan orang lain untuk percaya.

Kadang-kadang, kita hanya perlu terus berjalan sampai akhirnya kita sendiri percaya.


Paris

Beberapa minggu kemudian, Naya berdiri di depan Menara Eiffel. Ia mendongak. Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Tempat yang dahulu hanya ia lihat dari layar laptop kini berdiri di hadapannya.

Ia mengeluarkan telepon genggam. Memotret. Kemudian mengirim foto itu kepada Lila.
Aku sampai.

Balasan Lila datang hampir seketika.
Jangan lupa kartu pos!

Naya tertawa.

Malam harinya, ia duduk di sebuah kafe kecil. Di depannya ada secangkir kopi. Ia membuka laptop.

Di luar jendela, Paris bergerak seperti cerita yang tidak pernah selesai.

Naya mulai menulis. Ia menulis tentang jalan-jalan kota. Tentang bangunan tua. Tentang aroma roti yang keluar dari toko kecil. Tentang orang-orang yang berjalan cepat. Tentang seorang perempuan tua yang duduk sendirian di sebuah kafe. Namun semakin lama ia menulis, semakin ia menyadari bahwa tulisan itu sebenarnya bukan hanya tentang Paris.

Ia kembali menulis tentang Banuarea. Tentang rumah. Tentang orang tuanya. Tentang Lila. Tentang Arga. Tentang semua orang yang pernah membuatnya percaya dan meragukan dirinya.

Ia akhirnya memahami bahwa perjalanan bukan sekadar tentang seberapa jauh seseorang pergi. Perjalanan adalah tentang bagaimana seseorang berubah setelah melewatinya.


Jalan Pulang

Tulisan tentang Paris itu diterbitkan beberapa minggu kemudian. Pembacanya jauh lebih banyak daripada yang Naya bayangkan.

Namun setelah kembali ke Yogyakarta, hidupnya tidak berubah menjadi seperti dongeng. Ia masih mahasiswa. Masih harus mengerjakan tugas. Masih naik kendaraan umum. Masih mencari tiket murah. Dan sesekali masih kehabisan uang sebelum akhir bulan.

Tetapi ada satu hal yang berubah. Naya tidak lagi takut bermimpi. Ia tahu sekarang bahwa mimpi memang bisa terasa terlalu besar. Namun itu bukan alasan untuk meninggalkannya.

Suatu sore, ia menerima pesan dari Lila. Kapan kita keliling dunia bersama?

Naya tersenyum. Ia membalas: Mulai dari mana?

Jawaban Lila datang beberapa detik kemudian. Desa kita dulu.

Naya tertawa. Benar juga. Mungkin perjalanan tidak selalu dimulai dari bandara. Kadang-kadang, perjalanan dimulai dari jalan kecil di depan rumah.

Dari sebuah desa. Dari sebuah buku. Dari laptop tua. Atau dari keberanian untuk mengatakan: Aku ingin melihat dunia.

Naya menutup laptop. Di luar jendela, matahari mulai tenggelam. Ia mengambil buku catatan dan menulis satu kalimat: Mimpi tidak selalu membutuhkan jalan yang mudah. Kadang-kadang, mimpi hanya membutuhkan seseorang yang tidak berhenti berjalan.

Ia menutup buku. Besok ia akan menulis lagi. Mungkin tentang kota lain. Mungkin tentang perjalanan lain. Atau mungkin tentang Banuarea.

Sebab kini Naya tahu satu hal. Ia tidak perlu melupakan dari mana ia berasal untuk bisa pergi jauh. Justru tempat itulah yang membuatnya berani melangkah.

Dari Banuarea ke Yogyakarta. Dari tulisan kecil di sebuah laptop tua menuju halaman media online. Dari sebuah kompetisi menuju Paris. Dan dari sebuah mimpi menuju kehidupan yang perlahan ia tulis sendiri.

Perjalanannya baru saja dimulai.