Kita sering dengar istilah “next level”—dalam karir, bisnis, atau skill. Tapi pernahkah terpikir bahwa iman kita pun punya levelnya?
Merenungkan Kejadian 24 membuka mata kita. Ceritanya sederhana: Abraham, yang sudah tua dan “diberkati Tuhan dalam segala hal” (Kejadian 24:1), masih punya satu kegelisahan besar: mencari menantu untuk Ishak, anak satu-satunya.
Di sini, Abraham menunjukkan contoh iman yang next level. Apa ciri-cirinya?
Iman yang Tak Kompromi (No Compromise)
Abraham beri instruksi tegas kepada hambanya: “Bersumpahlah demi Tuhan… bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang istri dari perempuan Kanaan” (Kejadian 24:3).
Alasannya jelas: kesesuaian iman. Orang Kanaan punya dewa dan cara hidup berbeda. Bagi Abraham, iman adalah fondasi hidup. Memilih pasangan yang seiman bukan sekadar “satu agama”, tapi satu tujuan hidup: memuliakan Tuhan.
Kalau mau punya kehidupan iman yang next level, yang advanced, nomor satu adalah tanpa kompromi. Imannya harus bulat. Tidak boleh ada celah.
Ini berlaku bukan hanya soal jodoh. Dalam memilih pekerjaan, bisnis, bahkan mengatur waktu dan hobi—semua harus dikonsultasikan dengan firman Tuhan. Iman yang next level jadi pemandu utama.
Pertanyaan refleksi: Berdasarkan apa Anda membuat keputusan besar dalam hidup selama ini? Apakah visi Tuhan atau tren dunia?
Iman yang Melampaui Akal Sehat
Hamba Abraham itu mendapat tugas yang mustahil secara logika. Dia berdoa dengan spesifik: “Tuhan, buatlah gadis yang kutemui nanti bersedia memberi minum untukku dan untaku” (Kejadian 24:14). Itu seperti meminta tanda yang sangat spesifik dan tidak biasa.
Dan Tuhan menjawab! Ribka datang persis seperti yang didoakan.
Iman yang next level itu adalah mempercayai sesuatu yang kita sendiri tidak bisa lakukan. Kalau kita masih bisa usahakan, itu masih akal sehat.
Kisah Dream House dan anak jalanan di Jogja adalah contoh nyata. Visi “Jogja tidak boleh lagi ada anak jalanan” terdengar utopis di tahun 2008. Tapi ketika diimani dan dijalankan tanpa kompromi, Tuhan yang buka jalan, sediakan sumber daya, dan buat yang mustahil jadi mungkin. Visi itu sekarang menjadi nyata setelah 17 tahun.
Apa visi mustahil yang Tuhan taruh di hatimu? Jangan kubur di ‘kuburan impian’ hanya karena akal sehat bilang “tidak mungkin”.
Iman yang Fokus pada Tujuan, Bukan Aksesori
Saat hamba Abraham tiba di rumah Ribka dan ditawari makan, jawabnya: “Aku tidak akan makan sebelum aku menyampaikan pesanku” (Kejadian 24:33). Dia fokus pada misinya.
Dalam perjalanan iman, kita mudah tergoda “aksesori”: popularitas, pengakuan, fasilitas, jumlah like dan share. Banyak pelayanan mulai dengan visi murni, lalu teralihkan oleh gemerlap aksesori.
Gereja bukan industri. Gereja adalah ekklesia, orang-orang yang dipanggil keluar untuk menjadi garam dan terang. Gereja harus berani tidak populer, tapi melakukan kebenaran.
Fokuslah pada “pekerjaan baik” yang sudah Tuhan persiapkan untukmu (Efesus 2:10). Itulah tujuan utamamu. Ketika kita fokus, Tuhan akan bertanggung jawab mengurus hal yang lain.
Hasilnya? Mukjizat Menjadi “Makanan Sehari-hari”
Iman next level ini menghasilkan kehidupan yang tidak biasa:
- Diberkati dalam segala hal seperti Abraham.
- Mukjizat bukan lagi hal “wah” tapi jadi bagian dari narasi hidup sehari-hari karena kita berjalan sesuai pimpinan Tuhan.
- Hidup menjadi exciting karena selalu ada yang didoakan, diimani, dan dikerjakan bersama Tuhan.
Yesus berkata: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Markus 9:23). Ini bukan jaminan semua keinginan kita dikabulkan, tapi janji bahwa ketika kita percaya dan menjalankan visi Tuhan, kuasa-Nya bekerja melampaui batas logika kita.
Action Point: Ambil Langkah Iman Anda
- Evaluasi Kompromi: Di area hidup mana Anda sering kompromi antara keinginan dunia dan kehendak Tuhan? Mulailah untuk mengambil sikap tegas.
- Gali Visi Anda: Apa “pekerjaan baik” yang Tuhan taruh di hati Anda? Apa impian terbesar yang memuliakan Tuhan? Tuliskan dan doakan dengan spesifik.
- Lakukan Satu Langkah Kecil: Iman tanpa perbuatan mati. Ambil satu langkah nyata minggu ini untuk mewujudkan visi itu, sekecil apa pun.
Iman next level bukan untuk para super-Kristen. Itu untuk Anda dan saya yang lelah dengan iman yang datar dan ingin mengalami Tuhan yang hidup dan berkarya nyata.
Mari naik level. Jangan kompromi. Tantang dibatasi logika. Fokus pada visi. Dan saksikan mukjizat.
Saksikan video khotbah di Youtube.



