Perjalanan Iman: Menyenangkan atau Melelahkan?
Apa yang membuat sebuah perjalanan terasa menggembirakan atau justru menyedihkan? Bukan semata-mata jaraknya. Bukan juga jalannya mulus atau berlubang. Yang paling menentukan adalah tujuan—dan lebih dalam lagi: bersama siapa kita berjalan.
Dalam kehidupan beriman, gereja seharusnya menjadi tempat yang menggembirakan. Datang ke gereja bukan karena kewajiban, tetapi karena kerinduan: bertemu Tuhan dan saudara seiman. Sukacita itu bukan soal suasana luar, melainkan soal kehadiran Allah di tengah perjalanan iman kita.
Di sinilah Yesaya 35 berbicara dengan sangat indah.
Yesaya 35: Puisi Penghiburan dalam Struktur Kiastik
Yesaya 35:1–7 disusun dalam gaya sastra Ibrani yang disebut kiastik—sebuah pola simetris (A–B–C–D–C’–B’–A’) yang menempatkan pesan utama di bagian tengah.
Puisi ini ditujukan kepada bangsa Israel yang sedang tawar hati, terluka, dan hidup dalam bayang-bayang pembuangan. Namun cara Tuhan menghibur umat-Nya tidak datar, tidak dingin—melainkan puitis, penuh imajinasi, dan sarat pengharapan.
Padang Gurun yang Bersorak-sorak
Puisi ini dibuka dengan gambaran padang gurun—simbol kehancuran, kematian, dan keterasingan. Namun yang mengejutkan, padang gurun itu justru bersorak-sorak dan berbunga.
Bersama Tuhan, persoalannya bukan di mana kita berada, tetapi dengan siapa kita berada. Padang gurun tidak lagi identik dengan kematian ketika Tuhan hadir di sana. Yang kering menjadi subur. Yang sunyi menjadi penuh nyanyian.
Libanon, Karmel, dan Saron—simbol kesuburan dan keindahan—diberikan kepada padang gurun. Artinya, kemuliaan Tuhan sanggup mentransformasi tempat yang paling gersang sekalipun.
Padang Gurun sebagai Tempat Proses
Dalam Alkitab, padang gurun hampir selalu menjadi tempat pembentukan. Israel dibentuk di padang gurun. Musa ditempa di padang gurun. Yesus dicobai di padang gurun.
Bagi dunia, padang gurun adalah tempat kematian. Bagi Tuhan, padang gurun adalah ruang kelas rohani.
Belum melewati padang gurun berarti belum masuk ke jalur pemenuhan rencana Tuhan. Lama atau singkatnya kita di sana sangat bergantung pada sikap hati kita kepada Tuhan selama proses itu.
Pemulihan yang Menyentuh Manusia
Struktur puisi bergerak dari pemulihan kosmik menuju pemulihan personal dan komunitarian. Tuhan tidak hanya memulihkan alam, tetapi juga manusia: Tangan yang lemah dikuatkan dan lutut yang goyah diteguhkan
Kelelahan dalam pelayanan bukan tanda kegagalan. Justru itu konfirmasi bahwa kita benar-benar bekerja. Tuhan tidak menegur tangan yang lemah—Ia menguatkannya. Tuhan tidak mencela lutut yang goyah—Ia meneguhkannya.
Pusat Pesan: Allah Sendiri Akan Datang
Ayat 4 adalah jantung teologis Yesaya 35: Allah sendiri akan datang dan menyelamatkan. Bukan manusia. Bukan sistem. Bukan pemimpin.
Manusia bisa mengecewakan, tetapi Allah tidak. Pertolongan Tuhan tidak pernah salah sasaran. Keselamatan-Nya nyata dan konkret—buta melihat, tuli mendengar, lumpuh berjalan, bisu bersorak.
Tujuan iman Kristen bukan pertama-tama kenyamanan duniawi, melainkan hidup kekal. Jangan sampai demi tujuan-tujuan antara, kita melepaskan tujuan utama.
Tuhan sebagai Pengemudi, Bukan Penumpang
Perjalanan iman digambarkan seperti perjalanan dengan mobil. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan ada di dalam mobil, tetapi di mana posisi-Nya.
Ada yang menaruh Tuhan di bagasi—dikeluarkan hanya hari Minggu. Ada yang menaruh Tuhan di kursi penumpang. Ada yang membiarkan Tuhan duduk di belakang, tapi tetap menjadi backseat driver.
Iman sejati berarti membiarkan Tuhan menjadi pengemudi. Ia mungkin memilih jalan yang tidak mulus, penuh pemberhentian, bahkan memutar arah. Namun bersama Tuhan, kita tidak akan salah jalan.
Dari Bystander Menjadi Upstander
Gereja bukan kumpulan penonton yang hanya mengkritik. Gereja adalah komunitas orang percaya yang ikut ambil bagian dalam pemulihan.
Masalah gereja adalah masalah bersama. Panggilan kita bukan sekadar bersuara, tetapi bertindak. Bukan bystander, melainkan upstander.
Tujuan kita bergereja bukan popularitas atau kepentingan pribadi, melainkan membawa manusia kepada hidup kekal di dalam Kristus.
Padang Gurun Bukan Akhir Cerita
Padang gurun bukan tujuan akhir. Kalau belum bahagia, itu belum ending. Akhir kita adalah happy ending, karena Allah hadir, menolong, dan membaharui. Selama kita masih di padang gurun, itu berarti Tuhan masih memproses, mendidik, dan mengajar kita.
Padang gurun justru bisa menjadi tempat yang paling exciting, karena di sanalah kita belajar percaya, taat, dan setia.
Penutup: Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Yesaya 35 mengingatkan kita bahwa Tuhan tahu, Tuhan menolong, dan Tuhan tidak pernah terlambat. Kini pertanyaannya kembali kepada kita: Apakah aku sungguh-sungguh percaya kepada Allah dalam Kristus Yesus? Apakah aku benar-benar mengejar hidup kekal, atau hanya berhenti pada label iman?
Padang gurun bukan akhir cerita. Bersama Tuhan, pemulihan pasti terjadi.
Saksikan video khotbah di Youtube



