Ketika Yakub Menjadi Israel: Belajar Melepaskan Kendali kepada Tuhan

Ada satu detail kecil dalam kisah Yakub yang sering kali terlewatkan.

Setelah pergumulannya dengan Tuhan di tepi sungai Yabok, Yakub berjalan dengan pincang. Secara fisik, ia justru berada dalam kondisi yang jauh lebih lemah dibandingkan sebelumnya. Tetapi anehnya, justru setelah malam pergumulan itu kita melihat Yakub melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.

Ia berjalan di depan.

Sebelumnya, Yakub adalah orang yang selalu punya cara. Ia pandai menyusun strategi, menghitung kemungkinan, dan mengatur segala sesuatu sedemikian rupa agar dirinya tetap aman. Bahkan ketika mendengar Esau datang bersama 400 orang, Yakub membagi rombongannya menjadi beberapa kelompok. Kalau satu kelompok diserang, kelompok lainnya masih bisa melarikan diri.

Itulah Yakub. Tetapi setelah malam di Yabok, sesuatu berubah. Namanya bukan lagi Yakub, tetapi Israel. Dan Israel yang baru itu berjalan di depan, meskipun ia berjalan dengan pincang.

Yakub yang kehilangan kendali

Kisah Yakub sebenarnya adalah kisah tentang seorang manusia yang sangat ingin memegang kendali. Sejak awal kehidupannya, Yakub adalah seseorang yang menggunakan kemampuan, kecerdikan, bahkan tipu muslihat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia tahu bagaimana mengambil kesempatan. Ia tahu bagaimana mengatur keadaan. Ia tahu bagaimana mendapatkan keuntungan dari kelemahan orang lain.

Masalahnya, manusia memang senang memegang kendali. Kita merasa aman ketika punya uang. Kita merasa aman ketika punya jabatan. Kita merasa aman ketika punya koneksi. Kita merasa aman ketika punya keahlian. Kita merasa aman ketika punya rencana cadangan.

Mengapa? Karena semua itu memberikan ilusi bahwa hidup masih berada di tangan kita. Tetapi iman justru bekerja dengan cara yang berbeda. Iman adalah belajar melepaskan kendali dan mempercayakannya kepada Tuhan. Dan itu tidak mudah.

Kita mungkin mudah berkata, “Saya percaya Tuhan.” Tetapi pertanyaannya adalah: apakah kita sungguh-sungguh mempercayakan kendali hidup kita kepada Tuhan? Karena ada perbedaan besar antara percaya bahwa Tuhan ada dan menyerahkan kendali hidup kepada Tuhan.

Iman bukan tentang mengetahui bagaimana Tuhan akan bekerja

Salah satu hal yang paling sulit dalam perjalanan iman adalah ketika kita tidak tahu bagaimana Tuhan akan menyelesaikan masalah kita. Kita ingin tahu caranya.
“Tuhan, bagaimana?”
“Tuhan, kapan?”
“Tuhan, lewat siapa?”
“Tuhan, apa rencana-Mu?”

Kita ingin mengetahui mekanismenya sebelum bersedia percaya. Padahal sering kali Tuhan tidak memberikan penjelasan tentang bagaimana Ia akan bekerja. Ia hanya meminta kita percaya.

Kita sering memahami iman sebesar biji sesawi sebagai ukuran iman yang sangat kecil. Tetapi ada sisi lain dari perkataan Yesus tentang iman yang menarik untuk direnungkan: persoalannya bukan terutama seberapa besar iman yang kita miliki, tetapi apakah kita benar-benar mempercayakan hidup kita kepada Tuhan.

Karena itu, iman bukan sekadar kemampuan untuk percaya bahwa Tuhan sanggup memindahkan gunung. Iman adalah keberanian untuk berkata: “Tuhan, saya tidak tahu bagaimana Engkau akan melakukannya. Tetapi saya percaya Engkau akan melakukannya.”

Ini yang dilakukan Yakub. Ia tidak lagi mempunyai banyak pilihan. Ia tidak bisa kembali kepada Laban. Di depannya ada Kanaan. Di sana ada Esau dengan 400 orang. Dan di tengah situasi yang sepenuhnya berada di luar kendalinya, Tuhan menjamah Yakub di sungai Yabok.

Pangkal pahanya dipatahkan. Identitasnya diubah. Yakub menjadi Israel.

Ketika Tuhan mengambil sesuatu dari kita

Kadang-kadang kita berpikir bahwa Tuhan sedang menghancurkan hidup kita ketika Ia mengambil sesuatu dari tangan kita. Padahal bisa jadi Tuhan sedang mengajarkan kita untuk berhenti memegangnya.

Yakub kehilangan kekuatan fisiknya. Tetapi justru di situlah ia menemukan kekuatan yang baru. Sebelumnya ia mengandalkan dirinya sendiri. Sekarang ia belajar mengandalkan Tuhan. Sebelumnya ia berjalan dengan kekuatannya. Sekarang ia berjalan dengan penyertaan Tuhan. Sebelumnya ia menggunakan siasat untuk menghadapi Esau. Sekarang ia berjalan ke depan dengan tubuh yang pincang.

Ada sesuatu yang berubah. Yakub tidak lagi harus menjadi orang yang paling kuat. Ia hanya perlu menjadi orang yang percaya kepada Tuhan.

Ada satu kata dari bahasa Timor yang sangat menarik: “neu.” Neu berarti pasrah. Bukan pasrah dalam arti menyerah karena tidak ada harapan, tetapi menyerahkan seluruh kendali kepada Tuhan.

“Neu Tuhan.”

Tuhan, terserah Engkau. Cara-Mu bagaimana, terserah Engkau. Waktunya kapan, terserah Engkau. Lewat siapa, terserah Engkau. Saya tidak lagi harus mengatur semuanya. Kendali ada di tangan-Mu.

Israel berjalan di depan

Kemudian kita sampai pada Kejadian 33. Esau datang. Yakub melihat 400 orang yang menyertai kakaknya itu. Tetapi kali ini Yakub tidak bersembunyi. Ia menempatkan keluarganya dalam urutan tertentu, tetapi kemudian ada satu kalimat yang sangat penting: “Dan ia sendiri berjalan di depan mereka.”

Ini detail kecil, tetapi sangat indah. Yakub yang dulu takut sekarang berjalan di depan. Yakub yang dulu penuh perhitungan sekarang berjalan di depan. Yakub yang sekarang pincang justru berjalan di depan.

Mengapa? Karena ini bukan lagi Yakub. Ini Israel. Ia tidak lagi berdiri di depan karena merasa dirinya kuat. Ia berdiri di depan karena ia percaya bahwa Tuhan menyertainya. Dan ternyata, Tuhan benar-benar bekerja.

Yakub datang kepada Esau dan sujud tujuh kali. Ia tidak lagi datang sebagai orang yang hendak memenangkan pertarungan. Ia datang dengan kerendahan hati. Ia datang sebagai seseorang yang sudah melepaskan egonya. Dan sesuatu yang luar biasa terjadi.

Esau berlari mendapatkan Yakub. Ia memeluk lehernya. Ia menciumnya. Dan mereka menangis bersama. Rekonsiliasi terjadi. Tetapi rekonsiliasi itu tidak dimulai dari Esau. Rekonsiliasi itu dimulai dari perubahan Yakub.

Pemulihan bukan akhir persoalan

Ada satu hal yang penting untuk kita pahami dari kisah ini. Pemulihan bukan sekadar ketika masalah selesai. Pemulihan adalah buah dari identitas yang diubahkan.

Yakub tidak terlebih dahulu mendapatkan pemulihan hubungan dengan Esau lalu berubah. Ia berubah terlebih dahulu. Baru kemudian perubahan itu membawa dampak kepada relasinya dengan Esau. Karena itu, mungkin selama ini kita terlalu sibuk meminta Tuhan mengubah keadaan.
“Tuhan, ubah pasangan saya.”
“Tuhan, ubah keluarga saya.”
“Tuhan, ubah orang yang menyakiti saya.”
“Tuhan, ubah keadaan pekerjaan saya.”
“Tuhan, ubah orang-orang di sekitar saya.”

Tetapi mungkin Tuhan sedang berkata: “Biarkan Aku mengubah engkau terlebih dahulu.”

Kita tidak dipanggil untuk mengubah seluruh dunia. Kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia. Dan sering kali cara Tuhan memberkati dunia adalah dengan terlebih dahulu mengubah kita.

Ketika Yakub berubah menjadi Israel, Esau mengalami dampaknya. Ketika Tuhan menjamah Yakub, Tuhan juga bekerja di dalam hati Esau.

Kita tidak tahu bagaimana Tuhan melakukannya. Tetapi memang kita tidak selalu perlu tahu. Tuhan tidak meminta kita memahami seluruh cara kerja-Nya. Tuhan meminta kita mempercayai-Nya.

Kita adalah sungai, bukan danau

Ada satu gambaran yang sangat indah tentang berkat. Kita bukan danau. Kita adalah sungai. Danau mengumpulkan air. Sungai mengalirkan air.

Ketika Tuhan memberkati kita, berkat itu memang boleh kita nikmati. Tetapi berkat Tuhan tidak dimaksudkan untuk berhenti di dalam hidup kita. Berkat itu harus mengalir.

Ketika Tuhan memberikan kita uang, pengaruh, kemampuan, kesempatan, jabatan, atau koneksi, semuanya tetap berada di bawah kendali Tuhan. Kita hanyalah saluran.

Itulah sebabnya mencukupkan diri dengan apa yang ada bukan sekadar nasihat supaya kita tidak hidup boros. Ada prinsip iman di dalamnya. Kita belajar berkata: “Tuhan, apa yang Engkau percayakan kepadaku, biarlah tetap berada dalam kendali-Mu.”

Bahkan ketika kita mempunyai banyak, kendali tetap di tangan Tuhan. Bukan ketika kita miskin saja kita belajar menyerahkan kendali. Ketika kita kaya pun kita harus tetap menyerahkan kendali.

Ketika kita tidak punya pengaruh, kendali ada di tangan Tuhan. Ketika kita mulai punya pengaruh, kendali tetap ada di tangan Tuhan. Ketika tidak ada yang mendengarkan kita, kendali ada di tangan Tuhan. Ketika kata-kata kita mulai didengarkan banyak orang, kendali tetap ada di tangan Tuhan. Karena itu, pertanyaannya bukan berapa banyak yang kita punya. Pertanyaannya adalah: Siapa yang memegang kendali?

Keintiman dengan Tuhan selalu berdampak pada sesama

Ada satu konsekuensi penting ketika hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan. Hubungan kita dengan sesama juga akan mengalami perubahan. Yakub berkata kepada Esau: “Karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah.”

Ini kalimat yang sangat dalam. Yakub yang sudah mengalami Tuhan kini dapat melihat wajah Tuhan melalui wajah saudaranya. Itulah sebabnya spiritualitas tidak pernah berhenti pada hubungan vertikal. Keintiman dengan Tuhan selalu mempunyai dampak horizontal.

Kalau kita sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan, kasih Tuhan seharusnya mengalir melalui kehidupan kita. Ini berlaku dalam keluarga. Dalam pernikahan. Dalam pelayanan. Dalam cara kita memperlakukan anak-anak. Dalam cara kita memperlakukan tetangga. Dalam cara kita memperlakukan orang yang berbeda dengan kita. Karena orang yang sungguh-sungguh hidup dekat dengan Tuhan tidak perlu terlalu banyak mengatakan bahwa dirinya penuh kasih. Orang lain akan merasakannya.

Kasih itu terlihat. Kasih itu menular. Kasih itu menjadi teladan. Itulah sebabnya pendekatan keteladanan sangat penting, terutama ketika kita mendidik atau memuridkan orang lain.

Tidak cukup hanya menyuruh. Kalau ingin anak-anak belajar membersihkan, kita membersihkan bersama mereka. Kalau ingin mereka belajar melayani, kita melayani bersama mereka. Kalau ingin mereka belajar mengasihi, kita menunjukkan kasih. Karena kehidupan kita sedang berbicara bahkan ketika mulut kita diam.

Iman yang dewasa tahu kapan memeluk dan kapan menjaga jarak

Ada satu hal lain yang menarik dalam hubungan Yakub dan Esau. Mereka berdamai. Tetapi mereka tidak kemudian harus menjalani hidup bersama.

Esau mengajak Yakub berjalan bersama. Namun Yakub memilih jalan yang berbeda. Esau pulang ke Seir. Yakub melanjutkan perjalanan menuju Sukot dan kemudian Kanaan.

Hubungan mereka dipulihkan. Tetapi jalan hidup mereka tetap berbeda.

Ini penting. Pemulihan hubungan tidak selalu berarti kita harus kembali menjalani kehidupan yang sama. Ada kalanya iman yang dewasa tahu kapan harus memeluk dan kapan harus menjaga jarak. Tanpa kebencian. Tanpa dendam. Tanpa kepalsuan.

Kita bisa berkata, “Aku mengasihimu, tetapi jalan kita berbeda.” Kita bisa berkata, “Aku tidak membencimu, tetapi aku tidak bisa mengikuti jalan yang engkau pilih.” Kita bisa mengampuni tanpa harus menghapus semua batas. Kita bisa berdamai tanpa harus berkompromi dengan apa yang kita yakini benar. Karena kasih tidak sama dengan kehilangan batas. Dan pengampunan tidak berarti kita harus kembali ke pola hubungan yang sama.

Siapa yang memegang kendali atas hidupmu?

Pada akhirnya, kisah Yakub membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang sangat sederhana tetapi tidak mudah dijawab. Siapa yang menjadi Allah dalam hidup kita?

Pertanyaan ini sebenarnya juga berarti: Siapa yang memegang kendali atas hidup kita?

Kalau uang yang memegang kendali, maka uanglah yang menjadi pusat hidup kita. Kalau ambisi yang memegang kendali, maka ambisilah yang menjadi pusat hidup kita. Kalau validasi manusia yang memegang kendali, maka pendapat orang lainlah yang menjadi pusat hidup kita. Kalau ego yang memegang kendali, maka kita masih hidup sebagai Yakub. Tetapi ketika Tuhan memegang kendali, kita belajar menjadi Israel.

Kita belajar berhenti membuktikan diri. Kita belajar berhenti membandingkan diri. Kita belajar berhenti mengejar validasi. Kita belajar berhenti mengatur segala sesuatu seolah-olah masa depan sepenuhnya berada di tangan kita.

Kita belajar percaya. Kita belajar menyerahkan. Kita belajar berkata: “Neu Tuhan.”

Tuhan, aku lepaskan kendali atas hidupku.

Mungkin kita sedang berada di Yabok

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam salah satu tahap perjalanan Yakub. Mungkin kita sedang mengalami ketidakadilan. Mungkin kita sedang lelah karena terus bersaing. Mungkin kita sedang haus akan validasi. Mungkin kita sedang berada dalam perjalanan keluar dari kehidupan lama. Atau mungkin kita sedang berada tepat di tepi sungai Yabok.

Sedang bergumul. Sedang bertarung. Sedang bertanya mengapa Tuhan membiarkan semuanya terjadi. Sedang menunggu Tuhan mematahkan sesuatu yang selama ini kita andalkan. Apa pun posisi kita, ada satu hal yang tidak berubah:

Tuhan ada bersama kita.

Harapan kita bukan terletak pada keadaan. Harapan kita terletak pada siapa yang hadir di dalam keadaan itu.

Kalau Tuhan ada bersama kita, kita masih bisa berharap. Kalau Tuhan ada bersama kita, pergumulan tidak sia-sia. Kalau Tuhan ada bersama kita, kehilangan kendali tidak berarti kehilangan masa depan. Justru mungkin di sanalah kita menemukan iman yang sesungguhnya.

Pemulihan dimulai ketika kita mau diubahkan

Kisah Yakub bukan sekadar cerita tentang seorang laki-laki yang berdamai dengan saudaranya. Ini adalah kisah tentang identitas. Tentang seorang manusia yang harus berhenti menjadi Yakub dan belajar hidup sebagai Israel. Tentang seseorang yang harus berhenti mengandalkan kekuatannya sendiri. Tentang seseorang yang harus melepaskan kendali. Dan tentang bagaimana perubahan di dalam dirinya kemudian membawa pemulihan bagi hubungan di sekitarnya.

Karena itu, mungkin doa kita hari ini tidak perlu dimulai dengan: “Tuhan, ubah keadaan saya.”

Mungkin kita perlu mulai dengan: “Tuhan, ubah saya.”

Patahkan apa yang perlu dipatahkan. Lepaskan apa yang perlu dilepaskan. Sembuhkan apa yang perlu disembuhkan. Dan ajarkan saya untuk menyerahkan kendali kepada-Mu. Sebab pemulihan bukan akhir dari persoalan. Pemulihan adalah buah dari identitas yang diubahkan.

Yakub menjadi Israel. Dan ketika Israel berjalan dalam identitas barunya, ia menemukan bahwa Tuhan sudah bekerja bahkan sebelum ia tiba di hadapan Esau.

Mungkin kita juga tidak tahu bagaimana Tuhan akan bekerja dalam hidup kita. Tidak apa-apa. Kita tidak harus tahu semuanya. Kita hanya perlu percaya. Tuhan selalu punya cara. Karena itu, lepaskan kendali.

Taruh hidup kita di tangan Tuhan. Dan biarkan Tuhan menjadi Tuhan. Neu Tuhan. Aku lepaskan kendali ke dalam tangan-Mu.


Saksikan video kotbahnya di Youtube