Ada racun yang membunuh seketika. Ada pula racun yang bekerja perlahan, sampai suatu hari kita sadar bahwa sesuatu di dalam diri kita sudah lama mati.
Kita hidup di zaman ketika kata toxic menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Ada toxic relationship, toxic friendship, toxic workplace, bahkan toxic family. Kita semakin pandai mengenali orang dan situasi yang beracun.
Masalahnya, tidak semua racun datang dengan label.
Kalau sebuah botol diberi tulisan RACUN, tentu kita tidak akan meminumnya. Tetapi bagaimana kalau racun itu datang dalam bentuk luka yang kita simpan bertahun-tahun? Dalam bentuk gengsi? Kecurigaan? Iri hati? Persaingan yang tidak sehat? Atau keinginan untuk terus mendapatkan pengakuan dari orang lain?
Racun semacam ini tidak langsung membunuh. Ia bekerja perlahan. Dan mungkin, tanpa kita sadari, sebagian dari kita sedang membawanya ke mana-mana.
Belajar dari Keluarga Yakub
Kisah keluarga Yakub adalah salah satu cerita paling kompleks dalam Alkitab. Kalau dibuat menjadi serial televisi, mungkin tidak kalah seru dari telenovela.
Ada Yakub, Rahel, Lea, Laban, persaingan, manipulasi, cinta, kecemburuan, luka, kepentingan, dan perebutan pengakuan.
Sebelumnya kita melihat bagaimana Rahel dan Lea bersaing untuk mendapatkan cinta Yakub. Rahel bahkan berkata, “Berikanlah kepadaku anak, kalau tidak, aku akan mati.”
Di balik persaingan itu ada luka. Rahel merasa belum utuh karena tidak memiliki anak. Lea tahu dirinya tidak dicintai oleh Yakub. Dan di tengah semuanya, ada Tuhan yang melihat.
Menariknya, Tuhan berpihak kepada Lea—perempuan yang menjadi korban. Lea bukan hanya menjadi korban dari keputusan ayahnya yang menjadikannya istri Yakub, tetapi juga korban karena tidak dicintai oleh suaminya. Tuhan melihat ketidakadilan itu.
Kemudian Tuhan juga mengingat Rahel. Ketika Rahel berseru kepada Tuhan, Tuhan membuka rahimnya dan lahirlah Yusuf dan kemudian Benyamin.
Ada sesuatu yang konsisten di dalam kisah ini: Tuhan melihat mereka yang terluka. Tetapi luka yang tidak disembuhkan juga bisa diwariskan menjadi pola kehidupan. Dan di sinilah cerita menjadi semakin menarik.
Ketika Luka Melahirkan Persaingan
Luka sering kali membuat manusia merasa harus membuktikan sesuatu. Lea ingin membuktikan bahwa ia layak dicintai. Rahel ingin membuktikan bahwa ia juga mampu memberikan anak kepada Yakub. Keduanya akhirnya masuk ke dalam sebuah kompetisi yang tidak sehat.
Bukankah kita juga sering melakukan hal yang sama? Kita membandingkan diri dengan orang lain. Tetangga membeli mobil baru. Teman mendapat pekerjaan yang lebih baik. Orang lain mendapatkan pelayanan yang lebih besar. Seseorang mempunyai rumah yang lebih bagus. Teman kita mendapatkan lebih banyak pengikut di media sosial. Dan tanpa sadar kita bertanya: “Mengapa dia bisa, sementara saya tidak?”
Kompetisi sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Kompetisi yang sehat dapat mendorong kita bekerja lebih keras. Ketika melihat seseorang berhasil karena kerja keras, kita dapat belajar dari cara kerjanya dan terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Yang menjadi masalah adalah ketika kompetisi berubah menjadi iri hati. Ketika keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman terhadap harga diri kita. Ketika kita tidak lagi ingin menjadi lebih baik, tetapi ingin memastikan orang lain tidak lebih baik dari kita. Itulah kompetisi yang mulai menjadi toksik.
Laban: Ketika Orang Baik Menjadi Kesempatan untuk Dimanfaatkan
Tokoh lain dalam kisah ini adalah Laban. Pada awalnya, Laban tampak seperti seorang paman yang menyelamatkan Yakub. Yakub datang ke rumahnya dalam keadaan melarikan diri. Laban menerimanya. Yakub kemudian bekerja untuk Laban. Tetapi perlahan kita melihat sesuatu yang berbeda.
Ketika Laban melihat bahwa Yakub bekerja dengan baik dan membawa keuntungan besar bagi keluarganya, hubungan mereka berubah. Yakub bukan lagi sekadar keponakan. Ia menjadi aset. Yakub bahkan bekerja selama empat belas tahun untuk mendapatkan Rahel, sementara Laban berkali-kali mengubah upahnya.
Dalam Kejadian 31, anak-anak Laban mulai melihat keberhasilan Yakub sebagai ancaman. Mereka berkata bahwa Yakub telah mengambil segala harta milik ayah mereka. Kecurigaan mulai tumbuh. Hubungan yang sebelumnya terlihat baik-baik saja mulai dipenuhi ketegangan.
Begitulah toksisitas sering bekerja. Tidak selalu dimulai dengan kebencian. Kadang dimulai dari kepentingan. Seseorang melihat orang lain bukan lagi sebagai manusia yang harus dihargai, tetapi sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Dan ketika kepentingan itu terganggu, hubungan pun berubah.
Jangan Sampai Kebaikan Hati Kita Kehilangan Ketulusannya
Dunia memang penuh dengan orang-orang yang manipulatif. Ada orang yang mendekati kita karena benar-benar mengasihi kita. Tetapi ada juga yang mendekati kita karena melihat sesuatu yang bisa mereka dapatkan dari kita.
Kita mungkin pernah mengalaminya. Ketika kita punya sesuatu, banyak orang datang. Ketika kita berada dalam kesulitan, tiba-tiba orang-orang itu menghilang. Itu menyakitkan. Tetapi pengalaman seperti itu tidak boleh membuat kita kehilangan kemampuan untuk menjadi baik.
Orang baik yang dimanfaatkan memang bisa terluka. Dan ketika terlalu sering terluka, ia bisa berhenti menjadi baik. Di situlah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai perilaku buruk orang lain mengubah karakter kita menjadi buruk juga.
Ketulusan bukan berarti kita tidak memiliki batas. Ketulusan berarti kita melakukan kebaikan bukan karena ada sesuatu yang ingin kita dapatkan sebagai imbalan.
Mengasihi seseorang bukan karena ada apanya, tetapi karena ia memang layak dikasihi. Itu tidak mudah. Tetapi mungkin justru di situlah kita belajar mengasihi seperti Tuhan mengasihi kita.
Gengsi: Ketika Nilai Diri Bergantung pada Penilaian Orang
Racun berikutnya adalah gengsi. Pada dasarnya manusia memang membutuhkan penghargaan. Seorang anak membutuhkan apresiasi dari orang tuanya. Kita semua membutuhkan pengakuan bahwa apa yang kita lakukan memiliki nilai. Tetapi ada perbedaan antara penghargaan yang sehat dan kebutuhan untuk terus-menerus mendapatkan validasi.
Dalam mendidik anak, misalnya, kita dapat memberikan pujian yang lebih bermakna ketika pujian itu dikaitkan dengan sesuatu yang memang ia lakukan. Bukan sekadar, “Kamu cantik.” Tetapi, “Kamu cantik, dan Mama bangga karena kamu bangun pagi lalu merapikan tempat tidurmu.”
Yang kedua memberikan konteks. Anak belajar bahwa penghargaan datang dari sesuatu yang dikerjakan dengan baik. Sayangnya, dunia sering mengajarkan hal yang sebaliknya.
Kita diajarkan untuk terlihat sukses, bahkan ketika tidak benar-benar sukses. Orang datang ke tempat mahal hanya untuk berfoto. Bukan untuk menikmati makanannya, tetapi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia pernah berada di sana.
Mengapa? Karena gengsi. Karena ingin dilihat. Karena ingin mendapatkan pengakuan. Dan ketika nilai diri kita mulai bergantung pada penilaian manusia, kita telah memberikan terlalu banyak kuasa kepada orang lain atas hidup kita.
Nilai Kita Tidak Ditentukan oleh Penilaian Manusia
Ada satu hal yang perlu terus kita ingat: Nilai diri kita berasal dari Tuhan.
Bukan dari jumlah pengikut. Bukan dari harga mobil. Bukan dari jabatan. Bukan dari seberapa besar pelayanan kita. Bukan dari apakah orang lain menganggap kita berhasil atau gagal.
Kita berharga karena Tuhan menganggap kita berharga. Karena itu kita tidak perlu bersaing secara tidak sehat untuk membuktikan bahwa kita lebih berharga daripada orang lain.
Ketika melihat orang lain berhasil, kita dapat berkata: “Puji Tuhan. Dia bekerja keras dan berhasil.” Dan kalau keberhasilan itu menyadarkan kita bahwa selama ini kita malas, mungkin respons yang sehat bukan iri hati.
Mungkin responsnya sederhana: “Saya juga harus bekerja lebih keras.”
Bahkan Gereja Tidak Kebal dari Persaingan
Yang lebih menyedihkan, persaingan tidak sehat juga bisa terjadi di dalam gereja. Kita bisa bersaing dalam pelayanan. Siapa yang pelayanannya lebih besar, yang lebih banyak pengikutnya, yang lebih dikenal, yang lebih dipakai Tuhan. Padahal kita sedang melayani Tuhan.
Kalau di dalam pelayanan kepada Tuhan saja kita masih sibuk membandingkan diri dan menghakimi orang lain, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Sebenarnya untuk siapa kita melayani?
Kompetisi yang sehat mungkin membuat kita belajar dari orang lain. Tetapi kompetisi yang tidak sehat membuat kita ingin menjatuhkan orang lain. Aturannya menjadi tidak jelas. “Wasitnya” tidak lagi adil. Dan akhirnya pelayanan yang seharusnya menjadi tempat kita menghadirkan kasih justru menjadi ruang untuk mempertahankan ego.
Ketika Tuhan Berkata: Pulanglah
Pada akhirnya, Tuhan berkata kepada Yakub: “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.”
Menarik sekali. Tuhan tidak mengatakan bahwa Laban akan berubah terlebih dahulu. Tuhan tidak mengatakan bahwa semua masalah keluarga Yakub akan selesai.
Laban tetap Laban. Rahel dan Lea tetap membawa luka mereka. Bahkan Rahel masih membawa terafim—jimat keluarganya—ketika mereka meninggalkan Haran. Tidak semuanya langsung berubah. Tetapi Tuhan berkata: “Pergilah. Aku akan menyertai engkau.”
Barangkali ini adalah salah satu pelajaran iman yang paling sulit. Kita sering berpikir bahwa Tuhan baru bekerja ketika keadaan berubah sesuai keinginan kita. Padahal terkadang Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda.
Situasinya tidak langsung berubah. Orangnya tidak langsung bertobat. Masalahnya tidak langsung selesai. Tetapi Tuhan memberi arah.
Pergilah. Dan yang lebih penting: Aku akan menyertai engkau.
Tidak Semua Hal Harus Kita Mengerti Terlebih Dahulu
Yakub akhirnya meninggalkan Haran. Ia pergi tanpa mengetahui secara pasti bagaimana semuanya akan berakhir. Tetapi Tuhan melindunginya. Bahkan ketika Laban mengejar Yakub, Tuhan datang dalam mimpi kepada Laban dan memperingatkannya agar tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap Yakub.
Pada akhirnya, mereka membuat batas. Ada timbunan batu dan sebuah tugu sebagai tanda bahwa masing-masing tidak akan melewati batas untuk mencelakai yang lain.
Tidak ideal. Tidak sempurna. Tetapi cukup untuk membuat Yakub pergi. Mungkin demikian juga cara Tuhan bekerja dalam hidup kita.
Kita tidak selalu membutuhkan semua jawaban sebelum melangkah. Kadang kita hanya perlu cukup percaya untuk melakukan apa yang Tuhan minta. Kalau Tuhan berkata pergi, pergilah. Kalau Tuhan berkata diam, diamlah. Kalau Tuhan berkata bekerja, bekerjalah. Kalau Tuhan berkata berhenti, berhentilah. Karena yang membuat perjalanan kita aman bukan terutama kemampuan kita mengendalikan semuanya.
Penyertaan Tuhanlah yang sempurna.
Apa Racun yang Masih Kita Bawa?
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dari kisah Yakub bukan hanya tentang Laban. Bukan hanya tentang Rahel dan Lea. Pertanyaannya adalah: Apa yang ada di dalam diri kita?
Mungkin ada luka yang belum selesai. Mungkin ada kepahitan. Mungkin ada dendam yang kita simpan bertahun-tahun. Mungkin ada iri hati. Mungkin kita masih mengejar gengsi. Mungkin kita masih membutuhkan validasi manusia. Mungkin kita terbiasa mencurigai orang lain. Mungkin kita sedang bersaing dengan cara yang tidak sehat. Atau mungkin yang lebih berbahaya: kita sudah kehilangan empati.
Hati nurani yang terus-menerus dibungkam pada akhirnya bisa menjadi semakin sunyi. Dan ketika empati hilang, kita dapat melihat orang lain hanya sebagai alat untuk mencapai kepentingan kita. Itulah racun. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu terasa sakit. Tetapi perlahan-lahan menghancurkan kehidupan.
Tinggalkan Semua yang Toksik
Karena itu, mungkin hari ini kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk mencari siapa yang toksik di sekitar kita. Tetapi untuk bertanya: “Apa yang toksik di dalam diriku?”
Apa yang perlu saya tinggalkan? Luka apa yang masih saya pelihara? Kebencian? Dendam? Iri hati? Gengsi? Kebutuhan untuk terus dipuji? Persaingan? Kecurigaan? Kepahitan? Manipulasi? Atau mungkin ego yang selama ini saya anggap sebagai bagian dari kepribadian saya?
Kita tidak bisa selalu mengubah orang lain. Kita juga tidak selalu bisa mengubah keadaan. Tetapi kita bisa datang kepada Tuhan dan membiarkan-Nya menerangi hati kita sendiri.
Mungkin inilah saatnya berdoa dengan jujur: “Tuhan, tunjukkan racun yang masih ada di dalam hatiku.” Dan ketika Tuhan menunjukkannya, jangan mempertahankannya.
Buang. Tinggalkan. Lepaskan. Sebab tidak semua yang sudah lama kita bawa harus terus kita bawa ke masa depan. Ada hal-hal yang memang harus kita tinggalkan supaya kita bisa berjalan lebih jauh. Seperti Yakub yang akhirnya meninggalkan Haran, mungkin Tuhan juga sedang berkata kepada kita: “Sudah cukup. Pergilah. Aku akan menyertai engkau.”
Dan mungkin, kali ini, yang perlu kita tinggalkan bukan hanya sebuah tempat. Tetapi juga semua yang toksik di dalam diri kita.
Saksikan video kotbah ini di Youtube



