Malam Yabok: Ketika Tuhan Mengubah Nama, Bukan Hanya Situasi

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa sudah melakukan semua yang seharusnya dilakukan. Kita sudah berdoa. Sudah berusaha. Sudah mengikuti apa yang kita percaya sebagai kehendak Tuhan. Bahkan mungkin kita sudah melihat sendiri bagaimana Tuhan menolong dan menyertai kita. Tetapi kemudian datang satu persoalan yang membuat kita kembali takut.

Persis seperti Yakub. Dalam Kejadian 32, Yakub sedang berada dalam perjalanan pulang ke Kanaan setelah bertahun-tahun tinggal di Haran bersama Laban. Tuhan sendiri yang memerintahkannya untuk pulang. Ia bahkan sudah mengalami intervensi Tuhan ketika Laban mengejarnya. Tuhan memperingatkan Laban dalam mimpi agar tidak berbuat apa-apa terhadap Yakub.

Seharusnya Yakub bisa merasa aman. Tetapi ada satu persoalan yang belum selesai: Esau. Dan kali ini Yakub harus berhadapan langsung dengan ketakutan terbesarnya.

Bebas dari Laban, tetapi Belum Bebas dari Ketakutan

Yakub sebenarnya sudah mengalami banyak hal selama berada di Haran. Ia menghadapi ketidakadilan Laban, dinamika keluarganya, persoalan Lea dan Rahel, serta berbagai pergumulan lainnya. Namun melalui semua itu Tuhan tetap menyertainya.

Sekarang Tuhan berkata kepadanya untuk pulang. Masalahnya, perjalanan pulang itu akan melewati wilayah Edom, tempat Esau tinggal.

Esau bukan sekadar seseorang yang pernah berselisih dengan Yakub. Esau adalah alasan Yakub dulu melarikan diri ke Haran. Yakub pernah menipu Ishak, ayah mereka, dan mengambil berkat yang seharusnya diterima Esau. Esau kemudian bersumpah akan membunuhnya. Karena itulah Yakub melarikan diri.

Bertahun-tahun kemudian, Yakub memang sudah bebas dari Laban. Tetapi ternyata ia belum bebas dari ketakutan terbesarnya.

Ketika Yakub mendengar bahwa Esau sedang datang menemuinya dengan 400 orang, reaksinya langsung terlihat: “Sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati.” (Kejadian 32:7)

Menariknya, utusan Yakub tidak pernah mengatakan bahwa Esau datang untuk menyerang. Mereka hanya mengatakan bahwa Esau datang dengan 400 orang. Tetapi Yakub langsung menyimpulkan yang terburuk.

Bukankah kita sering melakukan hal yang sama? Satu informasi yang belum lengkap bisa segera memenuhi pikiran kita dengan berbagai kemungkinan buruk. Dan ketika ketakutan mengambil alih, kita sering kembali kepada pola lama.

Ketika Takut, Kita Mulai “Mengondisikan” Segalanya

Yakub adalah orang yang cerdas. Ia pandai membaca situasi. Ia pandai menyusun strategi. Ia tahu bagaimana menghadapi Laban. Dan sekarang, ketika berhadapan dengan Esau, kemampuan itu kembali bekerja.

Ia membagi rombongannya menjadi dua. Kalau Esau menyerang rombongan yang satu, rombongan lainnya masih bisa selamat. Kemudian ia mengirim persembahan kepada Esau secara bertahap. Kambing, domba, unta, lembu, keledai, dan berbagai ternak lainnya dikirim terlebih dahulu.

Yakub berdoa kepada Tuhan. Tetapi setelah berdoa, ia tetap sibuk mengatur semuanya dengan caranya sendiri. Di sinilah kita bisa melihat sesuatu yang sangat manusiawi dalam diri Yakub.

Kita berkata, “Tuhan, aku percaya.” Tetapi setelah mengatakan amin, kita masih ingin memastikan semuanya berjalan sesuai dengan skenario kita. Kita percaya Tuhan, tetapi tetap ingin memegang kendali. Kita berdoa, tetapi masih terus “mengondisikan”. Kita menyerahkan masalah kepada Tuhan, tetapi tangan kita masih memegang erat masalah tersebut.

Yakub berada di antara janji Tuhan dan ancaman yang nyata. Tuhan sudah berjanji akan menyertainya. Bahkan sebelum semua ini terjadi, Yakub sudah melihat sesuatu yang luar biasa. Setelah meninggalkan Laban, ia bertemu dengan malaikat-malaikat Allah dan menyebut tempat itu Mahanaim—”dua pasukan” atau bala tentara Allah.

Backing Yakub sebenarnya jelas. Bala tentara Allah menyertainya. Tetapi ketika 400 orang Esau datang, Yakub tetap takut.

Bukankah kita juga sering seperti itu? Kita sudah tahu janji Tuhan. Kita sudah mengalami pertolongan Tuhan. Kita sudah melihat kesetiaan-Nya berkali-kali. Tetapi ketika masalah baru datang, kita kembali takut.

Ada Saatnya Tuhan Membawa Kita Sendirian

Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang sangat penting. Yakub tinggal seorang diri. “Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.” (Kejadian 32:24)

Setelah semua strategi selesai. Setelah semua rombongan diatur. Setelah semua ternak dikirim. Setelah semua kemungkinan dipikirkan. Yakub akhirnya sendirian. Dan di sanalah ia bertemu dengan Tuhan dalam sebuah pergumulan yang sangat pribadi.

Ada hal-hal tertentu dalam hidup yang tidak bisa diajarkan oleh orang lain. Ada pelajaran yang tidak cukup hanya didengar melalui khotbah. Ada proses yang harus kita alami sendiri bersama Tuhan.

Kita bisa tahu teori tentang percaya. Kita bisa hafal ayat tentang iman. Kita bisa mengatakan, “Trust and obey.” Tetapi ada waktunya Tuhan membawa kita ke sebuah tempat di mana satu-satunya pilihan adalah benar-benar mempercayai Dia. Bukan sekadar mengetahui bahwa Tuhan dapat dipercaya. Tetapi sungguh-sungguh mempercayai-Nya.

Tuhan Harus Mengalahkan Kehendak Yakub

Pergulatan di sungai Yabok bukan sekadar pertarungan fisik. Pergumulan itu memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: pergulatan kehendak. Yakub adalah orang yang sangat kuat dengan kehendaknya sendiri.

Ia punya cara sendiri. Ia punya strategi sendiri. Ia punya perhitungan sendiri. Bahkan ketika Tuhan sudah menunjukkan bahwa Ia menyertainya, Yakub masih ingin memastikan semuanya dengan caranya sendiri. Karena itu Tuhan menyentuh sendi pangkal pahanya hingga terpelecok.

Yakub kemudian berjalan dengan pincang. Ada sesuatu yang harus dipatahkan dalam dirinya. Bukan karena Tuhan membenci Yakub. Justru sebaliknya. Karena Tuhan mengasihi Yakub.

Kadang-kadang kasih Tuhan tidak datang dalam bentuk yang kita inginkan. Kadang Tuhan harus menghentikan kita. Kadang Tuhan harus membuat kita menyadari bahwa kemampuan kita sendiri ternyata tidak cukup. Kadang Tuhan harus membuat kita berhenti berkata, “Tuhan, biar aku yang atur.” Dan mulai berkata, “Tuhan, terserah Engkau.”

Itulah bagian iman yang paling sulit. Percaya ketika semuanya aman bukanlah hal yang terlalu sulit. Tetapi percaya ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi adalah bentuk kepercayaan yang sesungguhnya.

Taat karena kita terancam bukanlah ketaatan yang sempurna. Taat karena kita percaya bahwa cara Tuhan lebih baik daripada cara kita—itulah iman.

“Jangan Lepaskan Aku Sebelum Engkau Memberkati Aku”

Setelah mengalami pergumulan itu, Yakub mengatakan sesuatu yang sangat penting: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” (Kejadian 32:26)

Yakub akhirnya mengerti. Ia tidak membutuhkan lebih banyak strategi. Ia membutuhkan Tuhan. Bukan berarti setelah itu semua masalah langsung hilang. Tetapi sesuatu di dalam diri Yakub sudah berubah.

Dan kemudian Tuhan bertanya: “Siapakah namamu?”

Yakub menjawab, “Yakub.”

Kemudian Tuhan berkata bahwa namanya tidak akan disebut lagi Yakub, tetapi Israel.

Inilah titik penting dari seluruh pergumulan itu. Tuhan tidak hanya mengubah situasi Yakub. Tuhan mengubah identitasnya.

Tuhan Tidak Hanya Ingin Mengubah Situasi Kita

Sering kali ketika kita berdoa, fokus kita adalah situasi.
“Tuhan, ubah keadaan ini.”
“Tuhan, selesaikan masalah ini.”
“Tuhan, hilangkan persoalan ini.”
“Tuhan, buat semuanya menjadi lebih mudah.”

Tetapi bagaimana kalau Tuhan justru ingin mengubah kita melalui situasi tersebut? Bagaimana kalau doa yang lebih dalam bukan: “Tuhan, ubah situasiku.” melainkan: “Tuhan, ubah namaku.”

Yakub berarti seseorang yang memegang tumit. Nama itu juga memiliki kaitan dengan karakter Yakub sebagai seorang yang menggunakan tipu daya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tetapi Tuhan memberikan identitas baru.

Israel. Pergumulan itu menghasilkan transformasi.

Tanpa pergumulan, tidak ada perubahan. Tanpa proses menyerahkan kehendak kepada Tuhan, kita akan terus hidup dengan cara lama.

Tuhan tidak hanya ingin memberkati Yakub. Ia ingin membentuk Yakub. Ia ingin memberikan identitas baru. Ia ingin memberikan visi baru. Ia ingin memberikan arah hidup yang baru.

Kita Semua Punya “Malam Yabok”

Mungkin kita tidak sedang berada di pinggir sungai Yabok. Tetapi setiap orang mungkin memiliki “malam Yabok”-nya sendiri.

Ada masa ketika kita berhadapan dengan ketakutan terbesar kita. Ada masa ketika semua strategi kita tidak lagi cukup. Ada masa ketika kita sudah mencoba segala cara. Ada masa ketika Tuhan membawa kita sendirian dan berkata: “Sekarang, berhenti mengandalkan dirimu sendiri. Percayalah kepada-Ku.”

Pertanyaannya bukan apakah kita akan mengalami malam Yabok. Pertanyaannya adalah: Ketika malam Yabok itu datang, apakah kita akan lari atau bergumul bersama Tuhan?

Jangan lari. Jangan terus mencoba mengondisikan semuanya dengan kekuatan sendiri. Datanglah kepada Tuhan. Bergumullah dengan Dia. Dan ketika Tuhan sedang mengubah kita melalui pergumulan itu, jangan hanya meminta agar masalahnya selesai. Mintalah sesuatu yang lebih besar: “Tuhan, ubah namaku.”

Percayalah pada Cara dan Waktu Tuhan

Ada dua hal yang sering paling sulit kita percayai: cara Tuhan dan waktu Tuhan. Kita punya cara sendiri. Kita juga punya jadwal sendiri. Kita tahu apa yang kita mau dan kapan kita ingin mendapatkannya. Tetapi Tuhan tidak dibatasi oleh cara dan waktu kita.

Tuhan jauh lebih kreatif daripada kita. Ia melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Ia mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Karena itu, iman bukan hanya percaya bahwa Tuhan sanggup menolong. Iman juga berarti percaya bahwa cara Tuhan lebih baik daripada cara kita dan waktu Tuhan lebih tepat daripada waktu kita.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam sebuah pergumulan. Mungkin kita sedang menghadapi sesuatu yang membuat kita takut. Mungkin kita sedang menunggu jawaban Tuhan. Mungkin kita bahkan sudah berdoa berkali-kali tetapi keadaan belum berubah. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan tidak bekerja.

Mungkin Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengubah keadaan. Mungkin Tuhan sedang mengubah kita.

Tuhan, Ubah Namaku

Kisah Yakub di Yabok mengingatkan kita bahwa tujuan Tuhan tidak selalu sekadar membawa kita keluar dari masalah. Kadang Tuhan menggunakan masalah untuk membawa kita masuk lebih dalam kepada-Nya.

Yakub keluar dari Yabok dengan kaki yang pincang. Tetapi ia juga keluar dengan identitas yang baru. Ia tidak lagi hanya menjadi Yakub yang mengandalkan kecerdikan dan strateginya sendiri. Ia menjadi Israel.

Dan mungkin itulah doa yang perlu kita bawa dalam pergumulan kita hari ini. Bukan hanya: “Tuhan, ubah situasiku.” Tetapi: “Tuhan, ubah namaku.”

Berikan aku identitas yang baru. Berikan aku visi yang baru. Berikan aku arah hidup yang baru.

Dulu mungkin aku hidup untuk diriku sendiri. Dulu mungkin aku mengejar apa yang aku inginkan. Dulu mungkin aku ingin mengatur semuanya dengan caraku sendiri. Tetapi sekarang aku ingin hidup dalam kehendak-Mu.

Tuhan, kalau aku harus melewati malam Yabok, biarlah aku tidak keluar dari sana sebagai orang yang sama. Biarlah pergumulan itu mengubahku. Biarlah aku belajar percaya. Biarlah aku belajar taat. Biarlah aku belajar berkata, “Terserah Tuhan. Aku percaya cara-Mu. Aku percaya waktu-Mu.”

Karena pada akhirnya, mungkin yang paling kita butuhkan bukan Tuhan yang mengubah semua keadaan kita. Kita membutuhkan Tuhan yang mengubah kita. Dan ketika nama kita diubah oleh Tuhan, kita akan mampu menjalani situasi apa pun dengan identitas, visi, dan arah hidup yang baru.

Jangan lari dari malam Yabok. Bergumullah bersama Tuhan. Dan ketika keluar dari sana, jangan hanya membawa jawaban atas masalahmu. Bawalah nama yang baru.


Saksikan video kotbahnya di Youtube