Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. (Ibrani 12:11)
Kita dipinggirkan justru ketika kita berbuat adil. Kita disingkirkan justru ketika kita menegakkan kebenaran.
Akan tetapi, tahukah anda bahwa bagaimana kita mengenal seseorang akan terlihat dari bagaimana kita memperlakukannya? Seperti apa kita menghormati/respek kepada seseorang akan terlihat dari bagaimana kita menyambut dia.
Paulus mengingatkan kepada kita melalui suratnya kepada jemaat di Roma, untuk selalu sadar siapa kita di hadapan Allah. Kita bisa hidup seperti saat ini, dalam kasih karunia, adalah karena kemurahan hati Allah yang mencangkokkan kita, pohon zaitun liar, kepada pohon zaitan sejati.
Hidup apa adanya di hadapan Tuhan seharusnya bukan sesuatu yang terlalu sulit untuk dilakukan, namun kenyataannya tidak banyak yang bisa melakukannya dengan mudah.
Kita mungkin bisa memakai topeng pencitraan di depan manusia, bahkan ketika kita berada di dalam gereja atau pelayanan sekalipun. Akan tetapi, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Dia tahu segala sesuatu, terang kebenaran-Nya menyingkapkan semua yang tersembunyi.
Setelah kita menyambut kasih karunia ini, hadiah Allah yang terbesar ini, ternyata kita masih tetap punya masalah dalam hidup kita. Kita masih punya masalah keuangan. Kita masih bisa jatuh sakit. Kita masih susah mendapat pekerjaan.
Malam ini malam Natal. Tadinya kami merencanakan untuk berdoa bersama mensyukuri kasih karunia Allah yang mau datang ke tengah dunia






