Iman bukan hanya soal percaya kepada Tuhan, tetapi bagaimana kepercayaan itu nyata dalam tindakan sehari-hari—mulai dari menepati janji, jujur, hingga hidup berintegritas. Mari belajar dari kisah Yakub dan Esau tentang konsekuensi, anugerah, dan iman yang hidup.
Dalam perumpamaan yang terkenal, Yesus bukan hanya mengajarkan tentang menolong orang lain. Ia membongkar pola pikir religius kita dan menunjukkan bahwa rahasia hidup kekal terletak pada belas kasihan yang aktif kepada mereka yang “tidak tersentuh” dan “tidak bersuara”.
Kita dipinggirkan justru ketika kita berbuat adil. Kita disingkirkan justru ketika kita menegakkan kebenaran.
Akan tetapi, tahukah anda bahwa bagaimana kita mengenal seseorang akan terlihat dari bagaimana kita memperlakukannya? Seperti apa kita menghormati/respek kepada seseorang akan terlihat dari bagaimana kita menyambut dia.
Paulus mengingatkan kepada kita melalui suratnya kepada jemaat di Roma, untuk selalu sadar siapa kita di hadapan Allah. Kita bisa hidup seperti saat ini, dalam kasih karunia, adalah karena kemurahan hati Allah yang mencangkokkan kita, pohon zaitun liar, kepada pohon zaitan sejati.
Kita mungkin bisa memakai topeng pencitraan di depan manusia, bahkan ketika kita berada di dalam gereja atau pelayanan sekalipun. Akan tetapi, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Dia tahu segala sesuatu, terang kebenaran-Nya menyingkapkan semua yang tersembunyi.
Manusia menjadi takut ketika merasakan ada ancaman. Para peneliti menyebutkan ada tiga ketakutan mendasar bagi manusia, ketakutan akan kematian (fear of death), ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui (fear of the unknown), dan ketakutan akan sesuatu yang tidak pasti/tidak dapat dikendalikan (fear of the uncertain/unpredictable).
Natal sebenarnya tidak pantas dirayakan dengan pesta pora. Natal lebih cocok dirayakan dengan tangisan haru di hadapan bayi yang dibungkus kain lampin dan terbaring di dalam palungan itu.
Menarik sekali untuk memperhatikan bagaimana Natal telah menjadi sebuah peristiwa penting dalam kehidupan kita. Tidak mungkin kita melewatkan bulan Desember tanpa Natal. Namun lebih menarik lagi adalah ketika kita memperhatikan bagaimana peristiwa Natal di bulan Desember ini dimaknai dan dirayakan.
Bicara Kasih Karunia tidak mungkin tidak membicarakan tentang Pengampunan, karena kasih karunia secara sederhana berarti pengampunan yang diberikan Allah kepada manusia melalui pengorbanan Anak-Nya, Yesus Kristus di kayu salib.
Dengan segenap kekuatannya, manusia berjuang dan berusaha keras, untuk mewujudkan sebuah kehidupan yang aman, tenteram, dan terjamin. Kemudian manusia pun memberikan apresiasi, penghargaan yang tinggi kepada mereka yang kelihatannya bisa mewujudkan kehidupan yang tenteram terjamin itu.
Setelah kita menyambut kasih karunia ini, hadiah Allah yang terbesar ini, ternyata kita masih tetap punya masalah dalam hidup kita. Kita masih punya masalah keuangan. Kita masih bisa jatuh sakit. Kita masih susah mendapat pekerjaan.











