Menjelajahi Yerusalem

Yerusalem terletak di Israel. Israel adalah adalah sebuah negara di Timur Tengah yang dikelilingi Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan gurun pasir Sinai. Selain itu dikelilingi pula dua daerah Otoritas Nasional Palestina: Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dengan populasi sebesar 7,5 juta jiwa, Israel merupakan satu-satunya negara Yahudi di dunia. Selain itu, terdapat pula beberapa kelompok etnis minoritas lainnya, meliputi etnis Arab yang berkewarganegaraan Israel, beserta kelompok-kelompok keagamaan lainnya seperti Muslim, Kristen, Druze, Samaria, dan lain-lain.

Selain pergi ke Korea, kami sekeluarga beberapa kali mendapat kesempatan mengunjungi negara yang lain juga. Israel adalah salah satunya.

Pada Oktober tahun 2015 saya bersama kedua orang tua saya menginjakkan kaki di Israel. Perjalanan saya ke Israel dimulai dengan sebuah penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkarang, transit di Hong Kong, sebelum melanjutkan perjalanan dengan maskapai El-Al ke Ben Gurion International Airport, Tel Aviv, Israel.

Kami pergi ke sana dalam rangka mengikuti sebuah konferensi perdamaian dunia selama 2 minggu. Ayah saya kebetulan diundang ke sana oleh salah satu temannya yang panitia di konferensi tersebut. Karena mendapatkan visa ke Israel terbilang rumit dan kesempatan ini belum tentu datang lagi, ayah saya memutuskan untuk kami datang 4 hari sebelum konferensi agar kami dapat mengambil waktu melihat-lihat Yerusalem dengan leluasa.

Kami tiba di Yerusalem pada pukul 5 pagi. Setelah penerbangan 11 jam dari Hongkong, dan kurang lebih 40 menit berkendara dari Tel Aviv. Kami menyewa sebuah apartemen di dekat Kota Tua Yerusalem. Setelah masuk ke apartemen dan menaruh barang-barang bawaan, kami bersemangat ingin menyusuri kota, hanya untuk mendapati bahwa kota masih terlelap tidur. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Israel adalah 4 jam. Kami bersemangat menyusuri kota pada hal waktu di Yerusalem belum jam 6 pagi, karena “jam” tubuh kami masih mengikuti waktu di Indonesia!

Kota Yang Sangat Tua

Yerusalem adalah sebuah kota yang sangat tua, berusia ribuan tahun. Semua bangunan di Yerusalem berinterior khas batu berwarna keemasan. Salah satu julukan Yerusalem adalah “the golden city” atau “kota emas”. Yang khas dari Yerusalem salah satunya adalah kompleks Kota Tua (Old City). Dari apartemen kami berjalan kaki kurang dari 10 menit untuk mencapai Tembok Barat (Western Wall) dari kompleks Kota Tua.

Kota Tua terbagi atas empat bagian (quarter), yaitu bagian Yahudi (Jewish quarter), bagian Arab (Arab quarter), bagian Kristen (Christian quarter), dan bagian Armenia (Arminian quarter). Di Kota Tua kami mengunjungi Tembok Ratapan, Temple Mount, The Upper Room (tempat Yesus makan perjamuan malam terakhir dengan murid-murid), dan Makam Raja Daud. Penjagaan di tempat-tempat itu sangat ketat, namun para tentara yang berjaga sangat ramah dan selalu tersenyum. Mereka bahkan melayani ketika diajak selfie bersama. Hanya saja ketika saya mencoba mengambil gambar koleksi persenjataan mereka, mereka melarang dengan keras.

Keluar dari kompleks Kota Tua, berjalan sedikit mendaki, kami mendapati Bukit Zaitun. Di sana ada Taman Getsemane, tempat Yesus berdoa terakhir kali sebelum penyaliban. Itu adalah tempat yang sangat indah dan titik yang paling keren untuk berfoto. Untungnya kami datang tanpa rombongan tur, sehingga bisa berfoto lebih dari 100 jepretan di sana. Hanya satu hal yang harus diingat, cuaca Yerusalem sangat panas dan kering, sehingga membawa air minum adalah sebuah keharusan. Wisatawan biasanya diberitahu bahwa air minum dalam kemasan di Yerusalem sangat mahal. Memang di daerah wisata sebotol air mineral lebih mahal daripada sebotol minuman cola. Akan tetapi, kami menemukan bahwa di Yerusalem air keran pun ternyata layak diminum!

Berkeliling Yerusalem

Berkeliling ke Betlehem

Empat hari sebelum konferensi kami gunakan selain untuk berkeliling Kota Tua, juga untuk mengunjungi Betlehem, kota kelahiran Yesus. Dengan mobil teman ayah saya, kami berkendara menuju wilayah Palestina tersebut. Betlehem sangat ramai dengan wisawatan dari berbagai negara. Saya tidak begitu menikmati di Betlehem, terlebih lagi, pemeriksaan keamanan di sana sangat ketat. Yang unik, orang Palestina sangat antusias ketika tahu bahwa kami datang dari Indonesia. Indonesia adalah saudara bagi kami, demikian ujar mereka.

Di Yerusalem kami juga mengunjungi beberapa mal! Ada Mall Mamilla di daerah Kota Tua yang unik dengan arsitektur kuno, dan Malcha Mall yang adalah mal untuk penduduk lokal. Di Mamilla harga barang-barangnya sangat mahal, namun di Malcha kami mendapati bahwa ternyata air minum dalam kemasan itu harganya tidak semahal yang dimitoskan. Enam botol air kemasan 1500 ml berharga 4 USD. Padahal di daerah wisata 1 botol air kemasan 600 ml dijual seharga 1 USD! Kami juga ikut memborong baju-baju yang sedang End Season Sale dengan diskon 50%.

Ada banyak pengalaman berkesan di Yerusalem, dan tidak akan cukup dituliskan dalam satu artikel ini. Yerusalem, kota tua, religius, panas, namun ternyata dihuni oleh manusia-manusia biasa, yang ramah diajak bicara, dan toko-tokonya pun ada banyak diskonnya.

Video pendek di Yerusalem ada di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *