Monumen Pejuang Demokrasi

Monumen 5-18

Monumen Pejuang Demokrasi adalah sebuah destinasi wisata yang kurang dikenal oleh wisatawan Indonesia. Korea Selatan adalah salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan Indonesia. Menurut Korea Tourism Organization, jumlah wisatawan Indonesia terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2018, peningkatan jumlah wisatawan Indonesia mencapai 12%[i] dari tahun sebelumnya.

Minat yang tinggi untuk berkunjung ke Korea Selatan ini wajar karena Korea Selatan mempunyai banyak tempat wisata yang indah. Bagi para penggemar drama Korea tentu tidak asing dengan destinasi wisata seperti Pulau Nami, Petite France, Istana Gyeongbok, Gwanghwamun, Gunung Seorak, Pulau Jeju, Pantai Haeundae di Busan, pusat K-Pop SM-Town, ataupun pusat perbelanjaan murah Myeongdong di Seoul.

Akan tetapi, selain destinasi-destinasi wisata yang sudah sangat terkenal itu, ada sebuah destinasi yang juga layak dikunjungi, karena memiliki nilai pendidikan dan sejarah yang tinggi dan inspiratif. Destinasi wisata itu adalah 5-18 Memorial Park di kota Gwangju, 268 km dari Seoul.

5-18 Memorial Park adalah Taman Pemakaman bagi para pejuang demokrasi dari kota Gwangju, yang menjadi martir demi terwujudnya demokrasi di Korea Selatan. 5-18 artinya 18 Mei. Tanggal ini mengacu kepada peristiwa yang terjadi di Gwangju pada tanggal 18 Mei hingga 27 Mei 1980. Peristiwa ini digambarkan juga dalam film Taxi Driver (2017).

Menentang Diktator

Ketika itu Korea Selatan dipimpin oleh seorang presiden bernama Jenderal Chun Doo-Hwan. Jenderal ini mengkudeta presiden sebelumnya, Park Chung Hee pada 12 Desember 1979. Pemerintah Jenderal ini sangat otoritarian, sehingga massa turun ke jalan untuk memprotesnya. Jenderal Chun mengumumkan darurat militer untuk meredam aksi massa dengan dalih “keamanan nasional.” Para pembangkang ditangkap, aktivitas-aktivitas parlemen dan kampus dibekukan.

Para pejuang demokrasi kemudian berkumpul di kota Gwangju. Para mahasiswa menuntut pemerintah mencabut darurat militer, menegakkan demokrasi, dan mengaktifkan kembali parlemen dan kehidupan kampus. Pusat pergerakan terjadi di depan kampus Universitas Chunnam di Gwangju.

Akan tetapi, demonstrasi damai itu dibalas dengan tindakan represif oleh pemerintahan Jenderal Chun. Pada 18 Mei 1980, Jenderal Chun menerjunkan pasukan komando khusus Korea Selatan yang terkenal kejam untuk menumpas para demonstran. Kota Gwangju diisolasi dari segala penjuru, dan sejak 18 Mei sampai 27 Mei, militer dengan tanpa ragu membantai para demonstran.

Catatan mengenai korban pembantaian itu awalnya disembunyikan rapat dan dilarang untuk dipublikasikan, namun catatan yang dapat dipercaya menyebutkan bahwa sedikitnya 200 orang tewas, dan ribuan lainnya terluka. Aksi massa dan pembantaian Gwangju berandil besar bagi gerakan-gerakan pro-demokrasi setelahnya. Puncaknya terjadi pada 1987 ketika gerakan People Power berhasil menumbangkan rezim militer. Pada tahun 1988, Pemerintahan diktator Jenderal Chun yang diteruskan oleh Roh Tae Woo ditumbangkan, dan demokrasi ditegakkan sepenuhnya di Korea Selatan.

Korea Selatan bukan hanya K-Pop dan K-Drama. Ada juga para pejuang sipil yang rela mengorbankan nyawa demi demokrasi ditegakkan. Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan Monumen Pejuang Demokrasi, atau 5-18 Memorial Park ini. Bagaimanapun, saya berpikir, tanpa jasa para pejuang demokrasi, kita tidak akan dapat menikmati K-Pop dan K-Drama.

Monumen Pejuang Demokrasi

[i] https://travel.detik.com/travel-news/d-4184856/kunjungan-turis-indonesia-ke-korea-naik-12-di-2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *