Terang Dunia: Menjadi Cahaya Kristus di Tengah Dunia

Terang Kristus bersinar di tengah dunia yang gelap berdasarkan Matius 5:14-16

Matius 5:14–16

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” — Matius 5:14

Ada sesuatu yang menarik dari perkataan Yesus dalam Matius 5:14. Ia tidak berkata, “Kamu harus menjadi terang dunia.” Ia berkata, “Kamu adalah terang dunia.”

Ada perbedaan besar di antara keduanya. Yesus tidak sedang memberikan sebuah target yang harus kita capai. Ia sedang menyatakan identitas kita.

Ketika seseorang berada di dalam Kristus, ia menerima terang Kristus. Dan ketika terang itu ada di dalam dirinya, terang itu seharusnya terlihat. Persoalannya, sering kali kita justru berusaha menyembunyikannya.

Kota di atas bukit

Pada zaman Yesus, kota-kota sering kali dibangun di atas bukit. Salah satu alasannya adalah keamanan. Posisi yang lebih tinggi membuat sebuah kota lebih mudah dipertahankan sekaligus lebih mudah terlihat dari kejauhan. Karena itu, ketika Yesus berkata bahwa kita adalah “kota yang terletak di atas gunung”, para pendengar-Nya memahami gambaran tersebut.

Kota di atas bukit tidak mungkin tersembunyi.

Demikian pula kehidupan seorang pengikut Kristus. Identitas kita di dalam Kristus bukan sesuatu yang seharusnya disembunyikan.

Saya teringat pengalaman ketika pertama kali datang ke sebuah tempat yang secara budaya sangat berbeda dari tempat saya berasal. Saya tidak perlu mengatakan kepada semua orang bahwa saya adalah orang asing. Cara saya berbicara, aksen saya, bahkan cara saya membawa diri sudah cukup untuk membuat orang menyadarinya.

Identitas tidak selalu perlu diumumkan. Kadang-kadang identitas cukup terlihat dari cara kita hidup.

Demikian juga dengan kekristenan. Kita tidak harus melakukan sesuatu yang aneh supaya orang tahu bahwa kita adalah orang Kristen. Kita tidak perlu memaksakan diri supaya terlihat berbeda. Jika Kristus sungguh-sungguh hidup di dalam kita, seharusnya ada sesuatu yang berbeda dalam cara kita hidup.

Terang Tidak Perlu Diteriakkan

Ada satu hal sederhana tentang terang: terang tidak perlu berteriak untuk membuktikan bahwa ia terang.

Ketika sebuah ruangan gelap dan kita menyalakan lampu, kegelapan tidak perlu diperintahkan untuk pergi. Kegelapan pergi dengan sendirinya karena terang hadir.

Kegelapan tidak pernah mengalahkan terang. Karena itu, ketika Yesus berkata bahwa kita adalah terang dunia, Ia sedang mengatakan bahwa Allah menempatkan kita di tengah dunia yang gelap supaya terang Kristus dapat terlihat melalui kehidupan kita.

Matius 5:14 menggunakan kata kosmos untuk “dunia”. Kata ini bukan sekadar menunjuk kepada planet bumi. Dalam konteks Perjanjian Baru, kosmos juga dapat menggambarkan dunia manusia yang berada di luar Allah—sebuah dunia yang tidak mengenal atau tidak menempatkan Allah sebagai pusat kehidupannya.

Di tengah dunia seperti itulah Yesus menempatkan murid-murid-Nya. Bukan supaya kita melarikan diri dari dunia. Bukan supaya kita membangun kehidupan yang terisolasi dari masyarakat. Tetapi supaya terang Kristus terlihat di tengah dunia.

Kasih karunia adalah berkat sekaligus tanggung jawab

Menjadi milik Kristus adalah berkat terbesar yang dapat diterima manusia. Kita bukan lagi manusia yang berjalan menuju kebinasaan karena dosa. Kristus telah mati bagi kita. Kita telah menerima pengampunan dan kasih karunia Allah.

Tetapi kasih karunia juga membawa sebuah tanggung jawab. Karena Kristus telah menaruh terang-Nya di dalam kita, kita dipanggil untuk membawa terang itu ke mana pun kita pergi. Inilah yang saya sebut sebagai Berkat yang bertanggung jawab .

Kita diberkati karena telah menerima Kristus. Tetapi justru karena telah menerima Kristus, kita juga memiliki tanggung jawab untuk memperlihatkan Kristus melalui kehidupan kita.

Menjadi orang Kristen berarti memiliki identitas baru. Bahkan kata Kristen sendiri pada awalnya berarti “pengikut Kristus” atau seseorang yang diidentifikasi dengan Kristus.

Maka pertanyaannya bukan hanya: “Apakah saya percaya kepada Kristus?” Tetapi juga: “Apakah orang lain dapat melihat Kristus melalui kehidupan saya?”

Ketika orang Kristen takut terlihat seperti orang Kristen

Ada sebuah ironi dalam kehidupan gereja hari ini. Kadang-kadang orang Kristen justru terlalu takut terlihat seperti orang Kristen.

Kita takut dianggap terlalu berbeda. Takut dianggap terlalu serius. Takut kehilangan penerimaan. Takut dianggap fanatik.

Akhirnya kita mulai menyesuaikan diri dengan dunia sedemikian rupa sampai-sampai tidak ada lagi yang membedakan kehidupan kita dengan kehidupan orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Padahal Yesus berkata bahwa kita adalah terang dunia. Terang yang kehilangan sifat terangnya tidak lagi berguna sebagai terang.

Yesus bahkan berbicara tentang hal ini dalam gambaran garam. Garam yang tidak asin kehilangan fungsi utamanya. Demikian juga kehidupan orang percaya.

Jika kehidupan kita sama sekali tidak memperlihatkan Kristus, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apa yang sedang terjadi dengan identitas kita di dalam Kristus?

Menjadi berbeda bukan berarti menjadi aneh. Menjadi berbeda berarti hidup dengan nilai-nilai Kristus ketika dunia memilih nilai yang berbeda.

Dunia tidak selalu akan menyukai terang

Ada hal lain yang perlu kita sadari. Kita tidak bisa mengharapkan dunia selalu memperlakukan kita dengan baik hanya karena kita berusaha hidup benar.

Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan kehidupan yang nyaman bagi para pengikut-Nya. Sebaliknya, Yesus mengingatkan bahwa dunia akan mengalami persoalan, penolakan, bahkan penganiayaan. Karena itu, jangan menjadikan respons dunia sebagai ukuran keberhasilan kehidupan kita.

Dunia mungkin menerima kita. Dunia mungkin menolak kita. Dunia mungkin memuji kita. Dunia mungkin mencela kita.

Semua itu bukan hal yang paling penting. Yang paling penting adalah: Apakah kita tetap menjadi terang?

Saya sudah melayani Tuhan selama 29 tahun. Dalam perjalanan itu saya belajar bahwa berharap dunia selalu berpihak kepada kita adalah sebuah kesalahan. Dunia tidak selalu akan berpihak kepada kita. Dan memang bukan itu yang menjadi panggilan kita.

Panggilan kita adalah tetap menjadi terang di tengah dunia, bahkan ketika dunia tidak menyukai terang tersebut.

Jangan sembunyikan identitasmu

Ada masa dalam hidup ketika saya merasa perlu menyembunyikan identitas saya. Saya takut dianggap berbeda. Saya takut orang melihat latar belakang saya. Saya takut terlihat seperti orang yang berasal dari tempat asing. Namun kemudian saya belajar bahwa identitas bukan sesuatu yang harus kita sembunyikan.

Demikian juga dengan identitas kita di dalam Kristus. Kita tidak dipanggil untuk malu menjadi milik Kristus. Kita tidak dipanggil untuk menyembunyikan iman kita. Kita tidak dipanggil untuk menjadi serupa dengan dunia hanya supaya diterima oleh dunia. Kita dipanggil untuk menjadi terang.

Dan menariknya, Yesus tidak mengatakan bahwa kita harus membuat terang itu terlihat dengan usaha kita sendiri. Ia hanya berkata: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang…” (Matius 5:16)

Terang itu sudah ada. Pertanyaannya adalah apakah kita membiarkannya bercahaya atau justru menutupinya.

Terang itu bukan berasal dari kita

Ini bagian yang sangat penting. Kita tidak memiliki terang itu dari diri kita sendiri. Kristuslah sumber terang itu. Kita hanya memantulkan terang-Nya.

Seperti bulan yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya matahari, demikian pula kehidupan kita seharusnya memantulkan Kristus. Karena itu, kehidupan yang bercahaya tidak lahir dari usaha untuk “terlihat Kristen”.

Itu lahir dari kedekatan dengan Kristus. Semakin kita hidup dekat dengan Tuhan, semakin kehidupan kita memancarkan apa yang berasal dari-Nya.

Kasih.
Pengampunan.
Kebenaran.
Kerendahan hati.
Keberanian.
Keadilan.
Belas kasihan.
Kesetiaan.

Semua itu bukan sekadar proyek moral yang kita kerjakan supaya terlihat baik. Semua itu adalah buah dari kehidupan yang terus tinggal di dalam Kristus.

Setiap orang memiliki tingkat terang yang berbeda

Lampu memiliki daya yang berbeda-beda. Ada lampu kecil. Ada lampu besar. Ada yang cahayanya lembut. Ada yang sangat terang. Demikian juga panggilan setiap orang percaya tidak selalu sama.

Allah tidak memberikan kepada kita semua panggilan yang identik. Ada yang dipanggil melayani di gereja. Ada yang dipanggil menjadi guru. Ada yang bekerja di dunia bisnis. Ada yang melayani anak-anak. Ada yang menjadi dokter. Ada yang bekerja di pemerintahan. Ada yang melayani di tempat yang jauh. Ada yang hanya memiliki lingkaran kecil orang-orang yang dapat dijangkaunya.

Tetapi satu hal sama bagi kita semua: Kita dipanggil untuk menjadi terang.

Besarnya panggilan kita mungkin berbeda. Tempat kita melayani mungkin berbeda. Cara kita melayani mungkin berbeda. Tetapi sumber terang kita tetap sama: Kristus.

Dan ketika kita berhenti mengandalkan kekuatan kita sendiri, kita menemukan bahwa kemampuan Tuhan jauh melampaui keterbatasan kita.

Sampai ke ujung bumi

Pada akhirnya, menjadi terang bukan hanya tentang bagaimana kita hidup di tempat kita berada sekarang. Terang selalu bergerak menuju tempat yang gelap. Karena itu, panggilan Kristus membawa kita keluar.

Keluar dari kenyamanan. Keluar dari ketakutan. Keluar dari keinginan untuk selalu diterima. Keluar untuk menjumpai dunia. Bahkan sampai ke ujung bumi.

Mungkin kita merasa usia kita sudah tidak muda lagi. Mungkin tenaga kita tidak seperti dahulu. Mungkin kita merasa terlalu banyak keterbatasan. Tetapi panggilan Tuhan tidak bergantung pada seberapa kuat kita.

Panggilan itu bergantung pada seberapa kuat Tuhan yang kita layani. Selama masih ada kehidupan, masih ada tempat untuk menjadi terang. Selama masih ada orang yang belum mengenal kasih Kristus, masih ada alasan untuk pergi. Selama masih ada kegelapan, terang masih dibutuhkan.

Karena itu, saya ingin terus berjalan. Sampai ke ujung bumi. Bukan karena saya kuat. Bukan karena saya memiliki semua kemampuan. Tetapi karena Kristus yang memanggil saya adalah sumber kekuatan saya.

Dan mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita siap menjadi terang. Yesus sudah mengatakan bahwa kita adalah terang. Pertanyaannya adalah: Apakah kita bersedia membiarkan terang Kristus bercahaya melalui kehidupan kita? Sebab pada akhirnya, tujuan terang itu bukan supaya kita terlihat hebat.

Matius 5:16 mengatakan bahwa ketika orang melihat terang itu, mereka seharusnya “memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Jadi, biarlah orang melihat kita. Tetapi jangan berhenti pada kita. Biarlah mereka melihat Kristus. Dan melalui Kristus, biarlah mereka menemukan Bapa.

Kita adalah terang dunia. Jangan sembunyikan terang itu. Bawalah ia ke tempat-tempat yang gelap. Dan teruslah berjalan—sampai ke ujung bumi.


Saksikan video kotbahnya di Youtube