You Only Live Once (YOLO) adalah salah satu ungkapan yang sangat populer di zaman sekarang. Hidup hanya sekali, jadi nikmati hidup. Traveling, shopping, mengejar pengalaman baru, menikmati makanan enak, mengejar karier, atau melakukan apa saja yang membuat kita merasa hidup.
Ada sesuatu yang benar dari ungkapan itu: kita memang hanya hidup satu kali.
Waktu yang sudah berlalu tidak pernah bisa dikembalikan. Kesempatan yang terlewat tidak selalu datang untuk kedua kalinya. Masa lalu tidak dapat kita ulang. Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah kita hanya hidup satu kali, tetapi: Kalau hidup ini hanya satu kali, bagaimana kita seharusnya menjalaninya?
Rasul Paulus memberikan jawaban yang sangat kuat dalam 1 Korintus 15:10: “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
Ayat ini mengubah cara kita memahami YOLO. Kita memang hanya hidup satu kali. Tetapi hidup yang hanya satu kali itu bukan untuk dihabiskan demi diri sendiri. Hidup yang satu kali ini adalah kesempatan untuk mengalami, menghidupi, dan membagikan kasih karunia Allah.
You Only Live Once, Tetapi Jangan Hidup Sia-Sia
Kita sering menggunakan YOLO sebagai alasan untuk menikmati hidup.
“Kesempatan cuma sekali.”
“Hidup cuma sekali.”
“Jadi nikmati saja.”
Tidak ada yang salah dengan menikmati hidup. Tuhan sendiri memberikan banyak hal baik yang dapat kita syukuri dan nikmati. Masalahnya muncul ketika “hidup hanya sekali” berubah menjadi “karena hidup hanya sekali, saya boleh melakukan apa saja.” Di situlah YOLO kehilangan maknanya.
Paulus mengajarkan perspektif yang berbeda. Hidup bukan sekadar tentang berapa banyak yang bisa kita nikmati, tetapi berapa banyak kehidupan yang bisa kita berikan.
Paulus memahami bahwa hidupnya adalah sebuah pemberian kasih karunia. Karena itu ia berkata: “Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.”
Perhatikan kata “adalah”. Paulus tidak berkata, “Dulu saya adalah orang seperti ini.” Ia berkata, “Aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.” Identitasnya tidak lagi ditentukan oleh masa lalunya. Identitasnya ditentukan oleh kasih karunia Allah yang sedang bekerja dalam hidupnya.
Kasih Karunia Mengubah Cara Kita Melihat Masa Lalu
Tidak ada manusia yang hidup tanpa penyesalan. Kita semua pernah mengambil keputusan yang salah. Kita pernah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kita katakan. Kita pernah melewatkan kesempatan. Kita pernah mengecewakan orang lain. Kita pernah gagal. Bahkan mungkin ada bagian dari masa lalu yang ingin sekali kita hapus. Tetapi waktu tidak dapat diputar kembali.
Inilah salah satu kenyataan paling keras dalam hidup: waktu adalah sesuatu yang tidak dapat kita kembalikan. Kita dapat menghasilkan uang lagi. Kita dapat membeli barang lagi. Kita dapat membangun kembali sesuatu yang rusak. Tetapi kita tidak dapat membeli kembali waktu yang sudah lewat.
Paulus memahami masa lalunya. Ia bukan orang yang tidak memiliki alasan untuk menyesal. Sebelum mengalami Kristus, Paulus adalah seorang penganiaya jemaat. Ia pernah memusuhi orang-orang yang percaya kepada Yesus. Namun ketika Paulus berbicara tentang hidupnya, ia tidak membiarkan kegagalannya menjadi identitas terakhirnya. Ia berkata: “Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.”
Kasih karunia tidak menghapus fakta bahwa masa lalu pernah terjadi. Kasih karunia mengubah makna masa lalu itu bagi kehidupan kita sekarang.
Masa lalu mungkin menjelaskan dari mana kita datang, tetapi masa lalu tidak harus menentukan ke mana kita pergi. Karena itu, jangan menghabiskan sisa hidup kita dengan terus menghukum diri sendiri atas kesalahan yang sudah terjadi.
Belajarlah dari masa lalu. Bertobatlah dari dosa. Perbaiki apa yang masih dapat diperbaiki. Mintalah pengampunan ketika diperlukan. Tetapi setelah itu, berjalanlah maju dalam kasih karunia.
Jangan mengingat kegagalan lebih besar daripada mengingat kasih karunia.
Kasih Karunia Mengubah Identitas Kita
Paulus berkata: “Aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.”
Ini adalah sebuah pernyataan identitas. Paulus tidak lagi mendefinisikan dirinya berdasarkan siapa dirinya sebelum bertemu Kristus. Ia tidak berkata: “Aku adalah penganiaya.” “Aku adalah orang yang gagal.” “Aku adalah orang berdosa.” “Aku adalah orang yang masa lalunya buruk.”
Sebaliknya, ia berkata bahwa keberadaannya sekarang adalah hasil dari kasih karunia Allah.
Inilah salah satu kekuatan terbesar Injil. Kasih karunia tidak hanya mengampuni masa lalu. Kasih karunia mengubah cara kita melihat diri kita hari ini.
Mungkin kita pernah gagal sebagai orang tua. Mungkin kita pernah gagal dalam pernikahan. Mungkin kita pernah gagal dalam pelayanan. Mungkin kita pernah gagal dalam pekerjaan. Mungkin kita pernah membuat keputusan yang menghancurkan sebagian hidup kita. Tetapi jika kita masih diberi kesempatan untuk bangun pagi ini, masih ada kasih karunia.
Masih ada hari ini. Masih ada kesempatan untuk hidup. Masih ada sesuatu yang Tuhan dapat kerjakan melalui hidup kita. Karena itu, jangan hidup sebagai tawanan masa lalu ketika Tuhan telah memberikan kasih karunia untuk menjalani hari ini.
Kasih Karunia Bukan Alasan untuk Bermalas-malasan
Kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang kasih karunia. Ada dua kesalahpahaman besar tentang kasih karunia.
Yang pertama adalah berpikir bahwa kita harus mendapatkan kasih Allah melalui perbuatan baik.
“Saya sudah melayani.”
“Saya sudah memberi.”
“Saya sudah melakukan banyak hal untuk Tuhan.”
“Saya layak dikasihi karena saya sudah melakukan banyak hal.”
Itu bukan kasih karunia.
Kasih karunia berarti kita menerima sesuatu yang tidak dapat kita peroleh dengan usaha kita sendiri. Keselamatan bukanlah upah karena kita cukup baik.
Tetapi ada kesalahpahaman kedua yang juga berbahaya: “Kalau semuanya karena kasih karunia, saya tidak perlu melakukan apa-apa.”
Paulus justru mengatakan sebaliknya. “…kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua…”
Ini luar biasa. Paulus menerima kasih karunia, tetapi kasih karunia itu tidak membuatnya pasif.
Kasih karunia justru membuatnya bekerja lebih keras.
Namun Paulus segera memberikan klarifikasi: “…tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
Inilah keseimbangannya. Kita tidak bekerja untuk mendapatkan kasih karunia. Kita bekerja karena sudah menerima kasih karunia.
Kita tidak melayani supaya Tuhan mengasihi kita. Kita melayani karena kita sudah lebih dahulu dikasihi. Kita tidak melakukan kebaikan supaya mendapatkan identitas. Kita melakukan kebaikan karena identitas kita sudah ditemukan dalam kasih karunia.
Grace Makes Life Matter
Kalau hidup hanya sekali, maka pertanyaan pentingnya bukan: “Berapa banyak yang bisa saya dapatkan dari kehidupan?”
Tetapi: “Berapa banyak yang dapat saya berikan melalui kehidupan saya?”
Inilah yang membuat hidup menjadi berarti. Kasih karunia membuat hidup kita berarti.
Bukan karena kita terkenal. Bukan karena kita kaya. Bukan karena jumlah orang yang mengenal kita. Bukan karena jabatan kita. Bukan karena berapa banyak uang yang kita kumpulkan.
Hidup menjadi berarti ketika apa yang Tuhan berikan kepada kita menjadi berkat bagi orang lain.
Karena itu, kasih karunia harus bergerak. Kita menerima kasih karunia. Kita menghidupi kasih karunia. Kemudian kita membagikan kasih karunia.
Receive grace. Live grace. Give grace.
Jika kasih karunia berhenti hanya pada diri kita, kita belum sepenuhnya memahami tujuan kasih karunia itu.
Hidup Satu Kali Berarti Kita Tidak Boleh Menyia-nyiakan Waktu
Ada banyak hal yang dapat kita tunda. Tetapi waktu tidak pernah berhenti berjalan. Mungkin kita berpikir: “Nanti saja.” “Nanti kalau sudah punya uang.” “Nanti kalau sudah pensiun.” “Nanti kalau anak-anak sudah besar.” “Nanti kalau pekerjaan sudah selesai.” “Nanti kalau keadaan sudah lebih baik.”
Masalahnya, kita tidak pernah tahu berapa banyak “nanti” yang masih tersedia bagi kita. Karena itu, jangan menunggu sampai hidup hampir selesai untuk mulai menjalani hidup yang berarti.
Kalau ada orang yang perlu kita ampuni, jangan terus menundanya. Kalau ada orang yang perlu kita kasihi, jangan menunggu. Kalau ada pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita, jangan selalu mencari waktu yang sempurna. Kalau ada panggilan yang Tuhan taruh dalam hati kita, jangan terus bersembunyi di balik ketakutan.
Hidup hanya satu kali. Waktu tidak kembali. Karena itu, hiduplah dengan sengaja.
Paulus Tidak Membiarkan Masa Lalunya Menghentikan Masa Depannya
Paulus tahu siapa dirinya dahulu. Tetapi ia juga tahu bahwa kasih karunia Allah belum selesai bekerja dalam hidupnya.
Itulah sebabnya Paulus terus bergerak. Ia memberitakan Injil. Ia melayani. Ia melakukan perjalanan. Ia menghadapi penderitaan. Ia membangun jemaat. Ia menulis surat. Ia terus bekerja.
Bukan karena Paulus merasa dirinya hebat. Justru karena ia sadar bahwa semua yang ada dalam hidupnya adalah kasih karunia.
Ini menghasilkan sesuatu yang sangat penting: humble confidence — kepercayaan diri yang rendah hati.
Paulus percaya bahwa ia dapat melakukan sesuatu. Tetapi ia tidak mengambil kemuliaan untuk dirinya sendiri.
Ia berkata: “Bukan aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
Itulah kepercayaan diri yang sehat. Bukan: “Saya hebat.” Tetapi: “Saya tahu saya lemah, tetapi saya tahu siapa yang menyertai saya.”
Bukan: “Saya mampu melakukan semuanya.” Tetapi: “Saya tahu bahwa kasih karunia Allah bekerja di dalam saya.”
You Only Live Once, So Live Gracefully
Ada permainan kata yang menarik di sini. Kita mengenal kata YOLO — You Only Live Once. Tetapi bagi orang percaya, mungkin ada cara lain untuk mengingatnya: You Only Live Once — So Live Gracefully.
Hiduplah dalam kasih karunia. Napas yang kita hirup adalah kasih karunia. Kesempatan yang kita miliki adalah kasih karunia. Orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita adalah kasih karunia.
Kesempatan untuk melayani adalah kasih karunia. Bahkan kesempatan untuk memulai kembali setelah kegagalan adalah kasih karunia.
Kita tidak tahu berapa lama kita akan hidup. Kita tidak tahu berapa banyak tahun yang masih tersisa. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Tetapi kita tahu satu hal: Hari ini adalah kasih karunia.
Karena itu, jalani hari ini dengan baik. Kasihi orang lain. Layani dengan setia. Gunakan talenta yang Tuhan berikan. Tolong mereka yang membutuhkan. Berdamai dengan orang lain. Kerjakan panggilan Tuhan.
Jangan hidup hanya untuk mengumpulkan sesuatu bagi diri sendiri. Hidup yang satu kali ini terlalu berharga untuk dihabiskan hanya untuk diri sendiri.
Kasih Karunia Memberi Harapan untuk Masa Depan
Yang indah dari 1 Korintus 15 adalah konteks ayat ini. Paulus sedang berbicara tentang kebangkitan.
Jadi, hidup orang percaya tidak berhenti pada “You Only Live Once” dalam pengertian duniawi. Orang Kristen percaya bahwa kehidupan kita berada di dalam Kristus dan memiliki pengharapan kebangkitan.
Karena itu, hidup hari ini memiliki tujuan kekal. Kita tidak tahu bagaimana masa depan kita akan terlihat.
Mungkin kita akan mengalami keberhasilan. Mungkin kita akan mengalami kegagalan. Mungkin ada impian yang tercapai. Mungkin ada impian yang tidak pernah menjadi kenyataan. Mungkin jalan kita panjang. Mungkin ternyata lebih pendek dari yang kita bayangkan. Tetapi masa depan kita tidak bergantung sepenuhnya pada kemampuan kita untuk mengendalikan keadaan.
Masa depan kita berada di tangan Allah yang kasih karunianya telah menyertai kita sampai hari ini. Karena itu, kita dapat berkata seperti Paulus: kita tidak tahu semua yang akan terjadi, tetapi kita tahu kepada siapa kita percaya. Dan itu cukup untuk membuat kita terus berjalan.
Jangan Sia-siakan Hidup yang Hanya Sekali Ini
Pada akhirnya, YOLO seharusnya bukan sekadar slogan untuk menikmati hidup. Bagi orang percaya, YOLO dapat menjadi sebuah pengingat: Hidup ini hanya satu kali. Jangan sia-siakan.
Jangan sia-siakan waktu. Jangan sia-siakan kesempatan. Jangan sia-siakan talenta. Jangan sia-siakan kasih karunia. Jangan sia-siakan kesempatan untuk mengasihi. Jangan sia-siakan kesempatan untuk melayani. Jangan sia-siakan kesempatan untuk menjadi berkat.
Paulus berkata: “Kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.”
Itulah tantangannya. Kita sudah menerima kasih karunia. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kasih karunia itu akan menjadi sia-sia dalam hidup kita?
Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi kita masih memiliki hari ini.
Mungkin ada banyak hal yang kita sesali. Tetapi kasih karunia Allah belum selesai.
Mungkin kita merasa hidup kita terlalu biasa. Tetapi Tuhan masih dapat menggunakan hidup yang sederhana untuk membawa dampak yang besar.
Mungkin kita merasa sudah terlambat. Tetapi selama Tuhan masih memberikan napas, masih ada sesuatu yang dapat kita kerjakan dalam kasih karunia.
Jadi, jangan hanya live once. Live once, but live gracefully.
Terimalah kasih karunia dengan sungguh-sungguh. Hiduplah dalam kasih karunia setiap hari. Bagikan kasih karunia kepada orang-orang yang membutuhkan.
Melayani dengan setia. Dan ketika suatu hari kita sampai pada akhir perjalanan hidup ini, kiranya kita dapat berkata bahwa kasih karunia Allah yang diberikan kepada kita tidak pernah menjadi sia-sia.
Karena pada akhirnya, hidup yang berarti bukanlah hidup yang mendapatkan paling banyak. Hidup yang berarti adalah hidup yang menerima kasih karunia, menghidupi kasih karunia, dan membagikan kasih karunia.
You Only Live Once. So Live Gracefully.
Pertanyaan untuk direnungkan
Jika hidup saya hanya satu kali, apakah cara saya menggunakan waktu saya hari ini mencerminkan kasih karunia Allah?
Apakah saya masih lebih sering mengingat kegagalan masa lalu daripada kasih karunia yang sudah Tuhan berikan?
Apa yang Tuhan percayakan kepada saya yang selama ini saya sia-siakan?
Dan siapa yang hari ini membutuhkan kasih karunia melalui hidup saya?
“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.” — 1 Korintus 15:10
Saksikan kotbah ini di Shine Jogja



