Korea Selatan adalah salah satu negara dengan sistem transportasi umum yang terbaik di dunia. Transportasi umum di seluruh negeri ini terintegrasi dalam satu sistem. Subway dan bus kota di sana terpadu dengan baik sehingga memberi kenyamanan dan kepastian bagi pengguna transportasi.
Setelah 3 malam bertapa di Pilgrim’s House, kami pun berangkat menuju Nami. Berbekal traffic card yang kami beli sejak tahun 2011, kami naik bus dari halte dekat Pilgrim’s House. Ongkosnya dengan traffic card tidak sampai 1000 won.
The Pilgrims’ House ini ada di Gapyeong, Provinsi Gyeonggi-do, yang bisa dicapai dengan 2 jam berkendara dari Seoul. Tempat ini adalah semacam tempat retreat (atau istilahnya “Bukit Doa”) untuk berdoa bagi umat Kristen.
Mary mengantar kami ke apartemen yang akan kami tempati selama di Korea kali ini, dan ternyata apartemen itu terletak di Namsan Town, yaitu di area yang sama dengan salah satu destinasi wisata idaman para pencinta drakor, Namsan Tower, alias gembok cinta.
Menjelang malam, Yesus pun datang ke rumah kami. Ah, ini bukan tulisan metafisis atau gaib. Injil Matius mencatat perkataan Yesus: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Kita semua merindukan kesatuan dan kekompakan, namun kita semua juga menyadari dan merasakan betapa sulitnya menyatukan insan-insan yang berbeda menjadi sehati sepikir.
Akan tetapi, tahukah anda bahwa bagaimana kita mengenal seseorang akan terlihat dari bagaimana kita memperlakukannya? Seperti apa kita menghormati/respek kepada seseorang akan terlihat dari bagaimana kita menyambut dia.
Paulus mengingatkan kepada kita melalui suratnya kepada jemaat di Roma, untuk selalu sadar siapa kita di hadapan Allah. Kita bisa hidup seperti saat ini, dalam kasih karunia, adalah karena kemurahan hati Allah yang mencangkokkan kita, pohon zaitun liar, kepada pohon zaitan sejati.
Hidup apa adanya di hadapan Tuhan seharusnya bukan sesuatu yang terlalu sulit untuk dilakukan, namun kenyataannya tidak banyak yang bisa melakukannya dengan mudah.
Kita mungkin bisa memakai topeng pencitraan di depan manusia, bahkan ketika kita berada di dalam gereja atau pelayanan sekalipun. Akan tetapi, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Dia tahu segala sesuatu, terang kebenaran-Nya menyingkapkan semua yang tersembunyi.
Manusia menjadi takut ketika merasakan ada ancaman. Para peneliti menyebutkan ada tiga ketakutan mendasar bagi manusia, ketakutan akan kematian (fear of death), ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui (fear of the unknown), dan ketakutan akan sesuatu yang tidak pasti/tidak dapat dikendalikan (fear of the uncertain/unpredictable).
Dalam kasih karunia kita juga belajar mensyukuri semua hal baik yang Allah kerjakan dalam hidup kita, dan kasih karunia itu akan menjaga kita dari sikap sombong dan tinggi hati.











