Makna Natal dalam beberapa waktu terakhir telah berkembang untuk mencakup tidak hanya aspek keagamaan dan keluarga tetapi juga sebagai sebuah spektakel post-modern yang merangkul nilai-nilai universal cinta, sukacita, dan kebaikan sambil memasukkan unsur personalisasi dan konsumerisme
Rabu Abu adalah hari pertama dalam Lent atau Minggu Pra-Paskah, masa merenungkan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Rabu Abu tahun ini, saya mau merenungkan tentang Yudas Iskariot.
Dalam perjalanan, semua mungkin terasa asing, namun jika jalurnya benar, dan Anda tetap pada jalur itu, Anda pasti akan tiba pada tujuan.
Membangun menara tidak baik untuk jiwa. Jiwa kita membutuhkan hubungan, keterbukaan untuk pertumbuhan. Kita perlu berbicara dalam banyak bahasa, bukan hanya satu.
Kita tidak hanya perlu membuka gerbang fisik bagi kehadiran-Nya, tetapi juga membuka hati kita sepenuhnya bagi Yesus Kristus. Inilah berita baik Minggu Palma: Gerbang surga terbuka untuk kita, dan panggilan-Nya terdengar, “Masuklah, sahabat!”
Kesombongan adalah bagaikan semak duri di taman hati kita. Semak duri tidak menghasilkan buah dan jika dibiarkan tumbuh, ia akan menutupi dan merusakkan tanaman yang baik
Budaya Makan-Makan di Korea adalah sesuatu yang unik. Di Korea, kebiasaan makan bersama begitu kental, dan jarang orang pergi ke rumah makan seorang diri.
Markus 13:1-13 Bait Allah Yerusalem di zaman Yesus adalah Bait Allah yang dibangun oleh Herodes Agung selama 50 tahun. Berukuran 45 meter lebar dan tingginya serta dikelilingi tembok sepanjang 185 meter.
Markus 10:46-52 Bartimeus berarti anak kehormatan. Di Yerikho Yesus bertemu dengan sang anak kehormatan ini. Namun, hidupnya sangat jauh dari kata terhormat.
Transfigurasi ini mengungkapkan jatidiri Yesus yang sesungguhnya. Peristiwa ini menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias, yang akan menderita sengsara dan mati, namun ia juga Anak Allah.
Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”
Tantangan bagi Yesus bukan hanya datang dari para pemuka agama. Keluarga biologisnya pun menentangnya. Mereka menganggap Yesus sudah tidak waras lagi dan hendak membawanya pulang.











